Konten dari Pengguna

Kumpulan Peribahasa Sindiran Halus tapi Menyakitkan untuk Orang Bermuka Dua

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kumpulan peribahasa sindiran halus tapi menyakitkan untuk orang bermuka dua. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kumpulan peribahasa sindiran halus tapi menyakitkan untuk orang bermuka dua. Foto: Unsplash.

Peribahasa sindiran halus tapi menyakitkan dapat digunakan untuk mengungkapkan rasa kesal kepada orang bermuka dua. Peribahasa tersebut dapat digunakan untuk menyadarkan seseorang agar bisa memperbaiki sikapnya.

Menurut Ready Susanto dalam Kamus Peribahasa Indonesia (2022), peribahasa merupakan bagian dari bahasa lisan dan sastra rakyat yang diwariskan antargenerasi.

Bentuk peribahasa umumnya berupa kalimat ringkas yang menggunakan bahasa kias untuk menyampaikan suatu ajaran, nasihat, maupun sindiran. Bahasa kias adalah ragam bahasa yang tidak mengungkapkan makna secara langsung, melainkan menggunakan perbandingan.

Sebagai sastra rakyat, peribahasa masih sering dimasukkan ke dalam komunikasi sehari-hari untuk menyampaikan nasihat atau sindiran secara halus. Lantas, apa saja peribahasa yang dapat digunakan untuk menyindir seseorang?

Peribahasa Sindiran

Ilustrasi kumpulan peribahasa sindiran halus tapi mneyakitkan untuk orang bermuka dua. Foto: Unsplash.

Seperti yang telah dijelaskan, salah satu fungsi peribahasa adalah untuk menyampaikan sindiran secara halus. Biasanya, peribahasa yang dipakai untuk menyindir berjenis bidal.

Mengutip Buku Bahasa Indonesia Tataran Unggul untuk SMK dan MAK Kelas XII tulisan Yustinah Ahmad Iskak, bidal adalah peribahasa yang berisi sindiran, peringatan, dan sebagainya.

Salah satu contoh peribahasa bidal yang sering dipakai dalam obrolan adalah serigala berbulu domba. Peribahasa ini biasa digunakan untuk menyindir seseorang yang bermuka dua dan suka berpura-pura baik.

Perumpamaan serigala berbulu domba menggambarkan orang yang bersikap baik dan bersahabat, padahal kenyataannya ia memiliki maksud yang jahat.

Orang munafik dan berpura-pura baik perlu diwaspadai karena bisa menimbulkan dampak negatif. Mengutip laman Verywell Family, orang munafik cenderung egois, pandai berpura-pura, dan tidak segan untuk mengorbankan orang-orang terdekat demi mencapai tujuannya.

Kumpulan Peribahasa Sindiran Halus tapi Menyakitkan

Ilustrasi kumpulan peribahasa sindiran halus tapi menyakitkan untuk orang bermuka dua. Foto: Unsplash.

Selain serigala berbulu domba, ada beberapa peribahasa berjenis bidal lain yang dapat dipakai untuk menyindir orang munafik dan egois. Berikut contohnya yang dirangkum dari Kamus Peribahasa oleh S.B.S Abbas serta buku 2700 Peribahasa Bahasa Indonesia oleh Nina Martina dan Nunung Nurhayati:

  1. Bagai melepas anjing terjepit: Membantu orang yang tidak tahu cara membalas kebaikan.

  2. Seperti kacang lupa kulit: Orang yang lupa dengan asal usulnya; bersikap sombong dan melupakan orang yang telah menolongnya dalam kesulitan.

  3. Habis manis sepah dibuang: Meninggalkan seseorang yang sudah tidak bisa dimanfaatkan lagi.

  4. Musang berbulu ayam: Orang yang berpura-pura baik dan bersikap seperti teman padahal memiliki niat jahat.

  5. Musuh dalam selimut: Orang terdekat yang berkhianat; keluarga atau teman yang diam-diam menusuk dari belakang tanpa dicurigai sama sekali.

  6. Air susu dibalas dengan air tuba: Perbuatan baik yang dibalas dengan kejahatan dan penghianatan.

  7. Ular berkepala dua: Sikap yang tidak memiliki pendirian; orang yang berpura-pura baik, di depan menjadi teman di belakang menjadi lawan.

  8. Menggunting dalam lipatan menohok kawan seiring: Orang yang mencelakakan teman dekatnya untuk mencapai tujuan atau sesuatu yang diinginkan.

  9. Campak bunga berbalas campak tahi: Kebaikan yang dibalas dengan kejahatan.

  10. Layar timpa tiang: Orang yang berkhianat; teman yang berubah menjadi musuh.

(GLW)