Lapisan Litosfer: Pengertian, Struktur, Jenis, dan Material Penyusunnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Bumi terdiri dari beberapa lapisan, salah satunya adalah lapisan litosfer. Lapisan litosfer biasanya juga disebut kerak bumi, karena merupakan lapisan terluar bumi.
Lapisan litosfer tersusun atas senyawa kimia yang mengandung SO2, batuan, dan mineral. Untuk lebih memahami, simak penjelasan selengkapnya berikut ini.
Pengertian Lapisan Litosfer
Mengutip buku Geografi: Jelajah Bumi dan Alam Semesta oleh Hartono, lapisan litosfer berasal dari kata litos yang artinya batu, dan sfer = sphaira yang artinya bulatan/lapisan. Dengan demikian, secara literal, pengertian litosfer adalah lapisan batuan pembentuk kulit bumi.
Litosfer adalah lapisan yang mengikuti bentuk bumi dengan ketebalan kurang lebih 1.200 km. Jadi litosfer adalah lapisan bumi paling luar yang paling luas dan paling tipis.
Terjepit di antara atmosfer di atas dan astenosfer di bawah, litosfer dapat mencapai kedalaman hingga 190 mil (300 kilometer), menurut The Geological Society.
Litosfer sendiri tersusun dari sekitar 90 jenis unsur kimia yang satu dengan lainnya bergabung membentuk persenyawaan disebut mineral.
Batuan litosfer masih dianggap elastis. Meski begitu, tidak kental. Daktilitas mengukur kemampuan material padat untuk berubah bentuk atau meregang di bawah tekanan. Litosfer jauh lebih tidak ulet dibandingkan astenosfer.
Baca Juga: Ragam Contoh Fenomena Litosfer Paling Menarik untuk Dipelajari
Bagian-bagian Bumi
Dari penjelasan di atas, kamu pasti sudah memahami bahwa litosfer merupakan bagian utama bumi. Namun selain litosfer, terdapat beberapa bagian utama lainnya dari bumi.
Dalam modul Dinamika Litosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan yang disusun Agus Pratomo, S.Pd dijelaskan bahwa menurut ahli geologi, Suees dan Wiechert struktur lapisan bumi struktur bumi dibagi sebagai berikut.
1. Kerak Bumi (Litosfer)
Kerak bumi merupakan lapisan bumi yang paling atas, mempunyai tebal 30 km sampai 40 km pada daratan, dan pada pegunungan ketebalannya bisa mencapai 70 km.
Berat jenis rata-rata 2,7 yang terdiri dari unsur-unsur dominan berupa oksigen, silisium dan aluminium, sehingga dinamakan lapisan sial. Kerak bumi dan selubung bumi bagian atas, disebut lithosfer.
2. Selubung Bumi
Selubung bumi atau mantel ketebalannya sampai kedalaman 1.200 km dari permukaan bumi. Berat jenis lapisan ini antara 3,4 sampai 4.
Unsur-unsur yang dominan pada selubung bumi adalah oksigen, silisium dan magnesium sehingga dinamakan sima.
3. Lapisan Antara (Intermediate Shell)
Lapisan antara atau mantel bumi (chalkosfera) yang merupakan sisi oksida dan sulfida dengan ketebalan 1.700 km dan berat jenis 6,4.
Lapisan ini terbagi 2 yaitu lapisan yang terletak pada kedalaman antara 1.200 km sampai 1.250 km dinamakan Crofesima, berat jenis antara 4 sampai 5 terdiri dari unsur-unsur dominan oksigen, ferrum, silisium, magnesium, dan sedikit chromium.
Lapisan antara kedalaman 1.250 km sampai 2.900 km dinamakan Nifesima, berat jenis antara 5 sampai 6, unsur yang penting (dominan) adalah nikel.
4. Inti Bumi (The earth’s core)
Inti bumi disebut juga Barysfera. Lapisan ini diperkirakan mencapai kedalaman 5.500 km, banyak mengandung besi dan nikel sehingga disebut Nife, berat jenisnya antara 6 samapi 12 dengan rata-rata 9,6. Ketebalan inti bumi mempunyai jari-jari kurang lebih 3.500 km.
Struktur Lapisan Litosfer
Masih mengutip dari modul Dinamika Litosfer dan Dampaknya terhadap Kehidupan, dijelaskan Holmes melakukan pembagian litosfer (kerak bumi) seperti berikut:
Bagian atas yang mempunyai tebal 15 km dengan berat jenis kurang lebih 2,7 dan mempunyai tipe magma granit.
Bagian tengah yang mempunyai tebal 25 km dengan berat jenis 3,5 dan mempunyai tipe magma basalt.
Bagian bawah yang mempunyai tebal 20 km dengan berat jenis 3,5 dan mempunyai tipe magma peridotit dan magma eklogit.
Berdasarkan penjelasan diatas, dapat disimpulkan bahwa litosfer merupakan lapisan yang paling atas dari tubuh bumi, lapisan ini secara umum terbagi menjadi dua, yaitu
Lapisan sial (silisium alumunium), yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun atas logam silisium dan alumunium, senyawanya dalam bentuk SiO2 dan Al2O3.
Lapisan sima (silisium magnesium), yaitu lapisan kulit bumi yang tersusun oleh logam logam silisium dan magnesium dalam bentuk senyawa SiO2 dan MgO, mempunyai berat jenis yang lebih besar dari pada lapisan sial karena mengandung besi dan magnesiumyaitu mineral ferro magnesium dan batuan basalt.
Jenis-jenis Litosfer
Menurut situs Space, litosfer bisa dibagi menjadi dua jenis, yakni kerak samudera dan kerak benua.
1. Kerak Samudera
Kerak samudera relatif tipis dan padat. Kerak samudera sebagian besar terdiri dari batuan basal yang kaya akan silika dan magnesium.
Ketebalannya berkisar dari hanya beberapa mil di pusat penyebaran samudra seperti Punggung Bukit Atlantik Tengah, hingga 60 hingga 90 mil (100 hingga 150 km) di bawah cekungan samudra dewasa, menurut The Geological Society.
2. Kerak Benua
Kerak benua sebagian besar terdiri dari batuan granit yang kaya akan silika dan aluminium dan ketebalannya dapat mencapai hingga 190 mil (300 km).
Benua berada pada ketinggian yang lebih tinggi daripada dasar laut karena kerak benua kurang padat dibandingkan kerak samudera. Oleh karena itu, kerak benua "mengambang" lebih tinggi di mantel, menurut Universitas California, Santa Barbara.
Material Penyusun Litosfer
Merujuk pada laman resmi dari Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, material penyusun litosfer adalah batuan beku, batuan sedimen, dan batuan metamorf. Berikut penjelasannya.
1. Batuan Beku
Batuan beku adalah batuan yang terbentuk dari magma pijar yang membeku dan menjadi padat karena proses pendinginan. Batuan beku dibagi menjadi tiga jenis, yaitu:
Batuan Beku Luar (vulkanik)
Batuan beku luar terjadi dari magma yang keluar dari dapur magma membeku di permukaan Bumi (seperti magma hasil letusan gunung berapi). Contoh batuan beku luar adalah : basalt, diorit, andesit, obsidin, scoria, batuan apung (pumice).
Batuan Beku Gang/Korok (hypabisal)
Batuan beku korok terjadi dari magma yang membeku di lorong antara dapur magma dan permukaan Bumi. Magma yang meresap di antara lapisan-lapisan litosfer mengalami proses pembekuan yang berlangsung lebih cepat, sehingga kristal mineral yang terbentuk tidak semua besar. Campuran kristal mineral yang besarnya tidak sama merupakan ciri batuan beku korok.
Batuan Beku Dalam (Plutonik/Abisik)
Batuan beku dalam terjadi dari pembekuan magma yang berlangsung perlahan-lahan ketika masih berada jauh di dalam kulit Bumi. Contoh batuan beku dalam adalah granit, diorit, dan gabbro.
2. Batuan Sedimen
Batuan sedimen adalah batuan mineral yang telah terbentuk dipermukaan bumi yang mengalami pelapukan. Batuan sedimen terbentuk dari endapan struktur batuan yang mudah lepas dan terbawa air, angin, serta es.
Batuan sedimen berdasarkan proses pembentukannya terdiri atas:
Batuan Sedimen Organik
Batuan Sedimen Kimiawi
Batuan Sedimen Klastik
Batuan sedimen berdasarkan tenaga yang mengangkutnya terdiri atas:
Batuan Sedimen Marine
Batuan Sedimen Aquatis
Batuan Sedimen Glasial
Batuan Sedimen Aeris atau Aeolis
3. Batuan Metamorf
Batuan metamorf atau malihan adalah batuan yang terbentuk dari hasil perubahan batuan beku dan batuan endapan yang terjadi akibat proses metamorphosis.
Penyebab perubahan batuan, yaitu suhu tinggi, tekanan tinggi, kombinasi suhu dan tekanan, serta penambahan bahan lain.
Menurut situs BAKAI Universitas Medan Area, batuan malihan terdiri dari tiga jenis, yakni:
Batuan Malihan Kontak
Batuan malihan kontak adalah batuan metamorf yang terbentuk secara berurutan karena kenaikan suhu yang disebabkan batuan berdekatan dengan magma aktif.
Karena itu biasanya wilayah pembentukan batuan malihan kontak tidak terlalu luas. Misalnya Batuan marmer di Tulung Agung dan batu bata di Bukit Barisan.
Batuan Malihan Dinamo
Batuan malihan dinamo merupakan batuan metamorf yang terbentuk karena adanya tekanan yang tinggi disertai panas dan tumbukan.
Tekanan ini bisa berasal dari lapisan-lapisan lain yang berada di atas batuan. Contohnya adalah batu sabak.
Batuan Malihan Kontak Pneumatalitis (thermal-pneumatalitics)
Batuan Malihan Kontak Pneumatalitis adalah jenis batuan malihan yang terbentuk karena adanya zat-zat lain yang memasuki batuan selama terjadinya proses metamorfosis (perubahan).
Sebenarnya prosesnya sama saja dengan batuan malihan kontak atau batuan malihan dinamo. Hanya saja saat proses itu ada zat-zat lain yang ikut masuk ke dalam batuan, sehingga menghasilkan batuan baru yang berbeda. Contoh kuarsa yang dimasuki gas Borium akan membentuk batu Topaz.
(DEL)
