Majas Personifikasi: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penggunaan majas sering dijumpai dalam percakapan sehari-hari. Namun, banyak orang yang tidak menyadari adanya penggunaan majas, seperti majas personifikasi. Majas ini termasuk ke dalam majas perbandingan.
Majas personifikasi memberikan sifat-sifat manusia kepada benda mati, hewan, atau konsep abstrak, sehingga membuatnya seolah-olah dapat bertingkah laku layaknya manusia.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Majas Personifikasi
Dikutip dari buku Rangkuman Lengkap Bahasa Indonesia; SMP / MTs kelas 7/8/9 karya Tim Guru Indonesia (2016: 57), majas personifikasi adalah majas yang isinya mengungkapkan benda yang seakan-akan dapat bertingkah lagu seperti manusia.
Istilah personifikasi berasal dari bahasa Yunani prosopopoeia, yang berarti "memanusiakan." Dalam bahasa Inggris, kata person berarti "orang," sehingga majas personifikasi merujuk pada gaya bahasa yang memberikan sifat atau perilaku manusia kepada sesuatu yang bukan manusia.
Menurut Taringan, seorang ahli bahasa mengartikan majas personifikasi sebagai gaya bahasa yang melekat pada sifat manusia terhadap benda yang sesungguhnya tidak nyata, juga memiliki ide yang abstrak. Sehingga, gaya bahasa personifikasi bisa membuat benda yang tidak bernyawa itu seolah memiliki sifat manusia.
Sedangkan Gorys Keraf berpendapat adalah bahasa kiasan yang digunakan dalam menggambarkan benda mati atau tak bernyawa atau makhluk selain dari manusia, seolah mempunyai sifat serta karakteristik seperti manusia.
Hal ini dapat diterapkan pada berbagai objek seperti tumbuhan, hewan, benda mati, atau elemen alam seperti langit dan awan.
Dengan menggunakan majas ini, suatu objek non-manusia dapat digambarkan seolah-olah memiliki kehidupan layaknya manusia. Misalnya, benda mati divisualisasikan seakan mampu berjalan, bernapas, atau menari seperti manusia.
Majas personifikasi termasuk dalam kategori majas perbandingan karena melibatkan perbandingan antara dua hal, yakni antara objek yang tidak hidup dan sifat-sifat khas manusia. Contoh penggunaannya bisa ditemukan dalam kalimat seperti, “hembusan angin di tepi pantai membelai rambut indahku.”
Dengan demikian, melalui majas ini, objek-objek selain manusia dianggap memiliki kemampuan untuk berpikir, bertindak, dan menunjukkan perilaku khas manusia.
Ciri-Ciri Majas Personifikasi
Majas personifikasi mengaburkan batas antara manusia dan benda mati, sehingga memudahkan manusia untuk merasakan dan menghargainya dengan lebih mendalam.
Secara alami, manusia cenderung meniru, sehingga langkah awal dalam memahami dunia sekitar adalah dengan memberi penghargaan terhadap segala sesuatu di sekelilingnya.
Dengan menggunakan majas ini, rasa memiliki terhadap benda-benda pun bisa terasa lebih kuat. Objek-objek sehari-hari yang biasanya hanya dimanfaatkan, kini bisa tampak lebih hidup dan bermakna bagi manusia.
Untuk mengetahui suatu kalimat terdapat majas personifikasi atau tidak, berikut adalah ciri-cirinya.
1. Menggunakan Kata yang Menggambarkan Sifat Manusia
Majas personifikasi merupakan gaya bahasa yang menggambarkan benda mati seolah-olah memiliki sifat atau perilaku layaknya manusia.
Penggunaan majas ini memiliki kemiripan dengan konsep antropomorfisme dalam psikologi, yang melibatkan pemberian sifat manusia pada makhluk hidup non-manusia atau benda mati.
Antropomorfisme menggambarkan hewan, tumbuhan, atau benda seolah-olah bisa berpikir, berbicara, dan bertindak seperti manusia.
Meski demikian, majas personifikasi berbeda dengan fabel. Dalam fabel, sifat manusia hanya disematkan pada hewan tertentu yang menjadi tokoh utama dalam cerita.
Sementara itu, dalam personifikasi, berbagai unsur alam seperti angin, hujan, atau bahkan aroma bisa digambarkan memiliki sifat dan perilaku manusiawi secara imajinatif.
2. Membandingkan Benda Mati Layaknya Benda yang Hidup
Majas personifikasi kerap kali memiliki kemiripan dengan fabel dan termasuk dalam jenis majas perbandingan. Ciri khas dari majas ini adalah membandingkan benda mati seolah-olah memiliki sifat seperti makhluk hidup.
Artinya, benda mati digambarkan seakan-akan mampu berperilaku atau bereaksi layaknya makhluk hidup.
3. Melibatkan Panca Indera
Panca indera yang dimaksud di sini merujuk pada lima alat indra manusia yang memiliki fungsi spesifik, yaitu untuk mencium, mengecap, melihat, menyentuh, dan mendengar.
Keterlibatan semua indra tersebut dapat membangun unsur kedekatan atau proximity, meskipun majas personifikasi sendiri bersifat imajinatif.
Dengan mengaktifkan kelima indra ini, gambaran yang diciptakan melalui personifikasi menjadi terasa lebih nyata dan mudah dirasakan oleh pembaca.
4. Bermakna Kiasan
Majas ini bersifat tidak literal atau nyata. Artinya, apa yang dikatakan bukanlah hal yang sebenarnya terjadi, tapi hanya digunakan untuk menciptakan efek keindahan atau kedekatan emosional.
Kalimat dengan majas personifikasi tidak diartikan secara harfiah. Maknanya bersifat kiasan dan perlu penafsiran lebih dalam.
105 Contoh Majas Personifikasi
Berikut adalah contoh majas personifikasi yang sering dijumpai dalam kehidupan sehari-hari:
Gelas itu saling berdendang satu dengan lainnya.
Badai mengamuk dan merobohkan bangunan.
Kereta tua itu meraung-raung di tengah kesunyian malam.
Angin berbisik lembut menyampaikan salamku padanya.
Ombak berkejar-kejaran ke tepi pantai.
Bel sekolah itu memanggil-manggil agar para siswa segera masuk kelas.
Angin malam berbisik lembut di telingaku.
Mentari pagi tersenyum cerah menyambut hari.
Hujan mengetuk jendela kamarku dengan pelan.
Bintang-bintang menatapku dari kejauhan.
Petir menggeram marah di langit.
Kabut pagi memeluk tubuhku dengan dingin.
Ombak menari di atas permukaan laut.
Bulan mengintip malu dari balik awan.
Awan gelap berjalan perlahan menutupi langit.
Salju menyelimuti bumi dengan penuh kasih.
Jam weker menjerit membangunkanku dari tidur.
Pintu itu mengaduh saat dibuka dengan paksa.
Kursi tua itu memanggilku untuk duduk.
Buku-buku di rak menatapku minta dibaca.
Televisi berbicara tanpa henti sepanjang malam.
Sepatu itu merindukan langkah-langkahku.
Lampu jalan menemani langkahku malam itu.
Jendela tersenyum menyambut matahari pagi.
Dinding kamar menyimpan rahasia yang tak terucap.
Karpet menyambutku hangat di pagi hari.
Cinta mengetuk hatiku tanpa permisi.
Rindu menjerit di dalam dada.
Waktu berlari tanpa menunggu.
Harapan menari-nari di ujung mata.
Kenangan itu memelukku erat.
Kesedihan menyelimuti hati.
Kegelisahan mengetuk pikiranku tanpa henti.
Mimpi-mimpi itu mengajakku terbang.
Kesepian duduk di sebelahku malam ini.
Luka hati itu tertawa mengejek.
Pena itu menari di atas kertas.
Laptopku menangis karena terlalu lelah.
Gitar itu bernyanyi merdu dalam keheningan.
Meja kerja memanggilku kembali ke rutinitas.
Mobil tua itu mengeluh saat dinyalakan.
Cermin menatapku dengan jujur.
Alarm membentakku agar segera bangun.
Kamera mengabadikan senyumku dengan penuh cinta.
Kalender menegurku bahwa waktuku hampir habis.
Helm itu setia menungguku setiap pagi.
Matahari perlahan pamit di ufuk barat.
Langkah kaki hujan mengiringi perjalanan senja.
Malam memeluk kota dengan keheningan.
Bunga itu menunduk malu pada sinar pagi.
Waktu mencuri detik-detik kebahagiaanku.
Cahaya lilin menari dalam gelap.
Sungai menyapa batu-batu di pinggirannya.
Malam menuliskan puisi di langit yang gelap.
Pohon-pohon bergoyang riang menyambut angin.
Bayangan itu mengikuti langkahku tanpa suara.
Makanan pedas itu membakar lidah.
Semak belukar beramai-ramai berkumpul di halaman rumahku.
Tampak layangan melambai-lambai dengan bebas di langit yang biru.
Daun kelapa itu melambai-lambai menanti kehadirannya.
Awan putih itu berjalan mengikutiku.
Gedung-gedung tinggi membusungkan dada dengan sombongnya.
Angin datang kasih kabar.
Mungkin semesta ini sudah bosan melihat tingkah laku manusia.
Mobilmu sudah tua renta, tulang-tulangnya tak lagi berdaya.
Pasir berbisik di tengah sejuknya udara pagi.
Embun pagi mencium dedaunan dengan lembut.
Sungai menyanyikan lagu riang sepanjang perjalanan.
Angin mencubit pipiku dengan nakal.
Gunung menyapa langit dengan gagah.
Laut mengamuk menerjang karang.
Pelangi melukis senyuman di langit.
Langit menumpahkan kesedihan lewat hujan.
Petir menari di langit malam.
Tanah merindukan sentuhan hujan.
Malam menutup mata kota dengan tenang.
Boneka itu tersenyum dari atas rak.
Ponselku berteriak minta diisi daya.
Kipas angin menggerutu karena panasnya ruangan.
Buku harianku menyimpan rahasia terdalam.
Jendela mengintip ke dalam hatiku.
Keyboard menari mengikuti jari-jariku.
Jaket memeluk tubuhku hangat-hangat.
Ransel itu mengeluh karena terlalu berat.
Piring-piring di rak bersenandung pelan.
Lantai memeluk kakiku setiap langkah.
Detik-detik berjalan pelan dalam penantian.
Kecemasan berbisik dalam hati yang resah.
Kesedihan mengetuk saat senyuman mulai luntur.
Hari-hari berlalu tanpa mengucap selamat tinggal.
Waktu menari sambil mengabaikan luka.
Rasa penasaran mengintip dari balik logika.
Ketakutan menyergap tiba-tiba dalam gelap.
Duka menggandeng tanganku dalam diam.
Kegembiraan melompat-lompat di dalam dada.
Masa lalu menepuk pundakku diam-diam.
Bulan dan bintang bercumbu mengiringi suasana malam yang sepi.
Bintang-bintang bernyanyi, bulan pun tersenyum.
Angin membelai rambutnya yang tergerai.
Penanya menari-nari di atas kertas.
Baunya menyengat, merasuk masuk ke dalam hidung.
Tanah dan bumi pasrah menerima takdirnya.
Alam menangis melihat perilaku manusia.
Suara gemericik hujan bernyanyi menemani tidur anak-anak.
Rasa memang tak pernah bohong.
Baca Juga: 90 Kata Motivasi Belajar Penuh Motivasi dari Tokoh Indonesia dan Dunia
Itulah pengertian majas personifikasi lengkap dengan ciri-ciri dan contohnya. Majas personifikasi sering ditemukan di kehidupan sehari-hari. (Umi)
