Konten dari Pengguna

Makna Ungkapan Tradisional dalam Budaya Indonesia

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilusrasi folklor dalam budaya Indonesia. Foto: Pixabay.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilusrasi folklor dalam budaya Indonesia. Foto: Pixabay.com

Ungkapan tradisional adalah ungkapan budaya dari suatu kelompok yang dikuasai secara aktif oleh beberapa orang saja. Ungkapan tradisional terdiri dari dua jenis, yaitu pewaris pasif dan pewaris aktif.

Pewaris pasif adalah pewaris folklor yang hanya sekadar mengetahui bentuk folklor. Pengertian folklor itu sendiri menurut Prof. Dr. Robert Sibarani, M. S., dalam Folklor Nusantara Hakikat, Bentuk, dan Fungsi, ialah sebagian kebudayaan yang tersebar dan diwariskan secara turun-temurun, baik dalam bentuk lisan maupun non-lisan yang disertai dengan gerak isyarat.

Pewaris pasif tidak menyebarkan folklor kepada orang lain melainkan hanya menikmatinya. Dalam wayang golek, misalnya, orang Sunda adalah pewaris pasif. Sedangkan para dalang dan ahli pewayangan di Sunda adalah pewaris aktifnya.

Keadaan serupa juga berlaku bagi orang-orang yang mengetahui peribahasa atau ungkapan tradisional lainnya. Pewaris aktifnya pun selalu merupakan golongan minoritas.

Hal ini karena orang yang ahli pada kumpulan peribahasa dari bangsanya sendiri sangat sedikit. Sedangkan sebagian besar lainnya yang juga serumpun, hanya mengetahui dan tidak bisa membawakan folk secara lengkap.

Sifat Dasar Ungkapan Tradisional

Ilustrasi folklor dalam budaya Indonesia. Foto: Pixabay.com

Menyadur dari buku Antropologi: Mengungkap Keragaman Budaya untuk Kelas XI karya Tedi Sutardi, ungkapan tradisional mempunyai tiga sifat dasar. Sifat dasar ungkapan tradisional adalah sebagai berikut:

  1. Peribahasa harus berupa satu kalimat ungkapan.

  2. Peribahasa dimanfaatkan dalam bentuk yang sudah menjadi standarnya. Misalnya, katak yang ‘congkak’ adalah peribahasa, tetapi seperti kodok yang ‘sombong’ bukan peribahasa. Jadi, kata congkak tidak bisa diganti dengan kata sombong karena memang sudah standarnya menggunakan kata congkak bukan yang lain.

  3. Peribahasa harus memiliki daya hidup tradisi lisan yang bisa dibedakan dari bentuk-bentuk klise tulisan yang berbentuk syair, iklan, reportase olahraga, dan sebagainya. Misalnya, ungkapan untuk iklan ‘Orang pintar minum tolak angin’, ungkapan itu tidak bisa menjadi folklor karena akan cepat dilupakan orang saat iklan itu tidak disiarkan lagi.

Jenis Peribahasa dalam Ungkapan Tradisional

Ilustrasi folklor dalam budaya Indonesia. Foto: Pixabay.com

Peribahasa merupakan suatu ungkapan tradisional yang di dalamnya terdiri dari berbagai jenis. Menurut Tedi Sutardi, jenis-jenis itu terdiri dari:

1. Peribahasa sesungguhnya (true proverb)

Peribahasa sesungguhnya merupakan ungkapan tradisional yang mempunyai sifat-sifat sebagai berikut:

  • Memiliki kalimat lengkap.

  • Bentuknya kurang mengalami perubahan.

  • Memiliki arti kebenaran atau kebijaksanaan. Kebanyakan peribahasa sesungguhnya dalam ungkapan tradisional bersifat kiasan atau ibarat. Misalnya, lebih besar pasak daripada tiang, yang mengibaratkan orang yang lebih besar pengeluarannya dari pada penghasilannya.

2. Peribahasa yang tidak lengkap (proverbial phrase)

Peribahasa yang tidak lengkap merupakan ungkapan tradisional yang kalimatnya mempunyai memliki ciri sebagai berikut.

  • Kalimatnya tidak lengkap.

  • Bentuknya sering berubah.

  • Jarang berisi kebijaksanaan.

  • Bersifat kiasan. Contohnya, "Dari Sabang sampai Merauke", yang artinya mengibaratkan kesatuan wilayah Indonesia.

3. Peribahasa perumpamaan (proverbial comparison)

Peribahasa perumpamaan adalah ungkapan tradisional yang awalan kalimatnya dimulai dengan kata-kata seperti, bagai, dan lain-lain. Contohnya, "Seperti telur di ujung tanduk," ini mengibaratkan suatu keadaan yang sangat gawat.

4. Ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa

Jenis ungkapan inin digunakan untuk penghinaan, celetukan, atau suatu jawaban pendek, tajam, lucu, dan peringatan yang menyakitkan hati.

Contoh ungkapan tradisional jenis ini yang berasal dari bahasa Betawi adalah "Kayak monyet kena trasi". Celetukan ditujukan untuk orang yang suka jahil saat melihat wanita cantik.

Kemudian wanita cantik itu tidak senang dijahili dan mengeluarkan ungkapan tersebut hingga membuat laki-laki kurang ajar itu malu.

(ZHR)

Frequently Asked Question Section

Apa yang dimaksud dengan ungkapan tradisional?

chevron-down

Ungkapan budaya dari suatu kelompok yang dikuasai secara aktif oleh beberapa orang saja.

Sebutkan jenis-jenis peribahasan dalam ungkapan tradisional!

chevron-down

Peribahasa sesungguhnya, peribahasa yang tidak lengkap, peribahasa perumpamaan, dan ungkapan-ungkapan yang mirip peribahasa.

Sebutkan ciri-ciri peribahasa sesungguhnya!

chevron-down

1. Memiliki kalimat lengkap. 2. Bentuknya kurang mengalami perubahan. 3. Memiliki arti kebenaran atau kebijaksanaan.