Konten dari Pengguna

Mengapa Dapat Terjadi Lahan Kritis? Ini Penjelasannya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi lahan kritis yang dicirikan dengan tanah tandus dan sudah tidak mampu berproduksi lagi. Foto: Dok.Kumparan
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi lahan kritis yang dicirikan dengan tanah tandus dan sudah tidak mampu berproduksi lagi. Foto: Dok.Kumparan

Sebagian orang pasti pernah bertanya-tanya, mengapa dapat terjadi lahan kritis? Apa saja pemicunya? Agar mengetahui jawabannya, simak ulasan lengkap tentang penyebab terjadinya lahan kritis berikut ini.

Berdasarkan buku Mega Book SMA IPS susunan Tim Smart Nusantara (2019: 305), lahan kritis adalah daerah tanah yang tidak lagi mampu berperan sebagai unsur produksi, baik sebagai media pengatur tata air, maupun sebagai perlindungan alam dan lingkungan.

Kemampuan produksi lahan kritis sangat kurang, baik dalam bidang pertanian, industri, pemukiman, atau keperluannya lainnya. Jika dihubungkan dengan pertanian, maka lahan kritis yang dimaksud adalah lahan yang sudah tandus dan tidak mampu berproduksi lagi.

Ciri-ciri lahan kritis yang biasanya terlihat dari sifat fisik dan kimia yang dimiliki lahan tersebut, yaitu:

  • Penutup vegetasinya kurang dari 25%

  • Tingkat kemiringan lebih dari 15%

  • Terjadi gejala aerasi lembar (sheet erosion)

  • Terjadi gejala erosi parit (gully erosion)

  • Lapisan tanah paling atas (paling subur) sudah hilang

Lantas, mengapa dapat terjadi lahan kritis? Apa saja penyebabnya? Selengkapnya ada di bawah ini.

Ilustrasi penyebab lahan kritis di daerah pegunungan adalah adanya tanah longsor. Foto: Pixabay

Penyebab Lahan Kritis

Dirangkum berdasarkan buku Penggunaan Lahan di Desa dan di Kota karangan Agus Maryoto (2020: 09), penyebab lahan kritis dapat dibedakan berdasarkan daerah asal terjadinya kerusakan lahan tersebut. Berikut masing-masing penjelasannya.

1. Daerah Pegunungan

Penyebab terjadinya lahan kritis di daerah pegunungan, yaitu adanya tanah longsor, erosi, atau tanah rayap. Lahan kritis di pegunungan dicirikan dengan lapisan tanah yang paling atas hampir habis, sehingga yang tersisa hanya tanah tandus, bahkan dalam bentuk tanah cadas (keras).

Lahan kritis di daerah pegunungan banyak dijumpai di lereng terjal, dengan tanah terbuka dan tandus, atau daerah pegunungan yang hutannya sudah rusak.

Ilustrasi penyebab lahan kritis di dataran rendah adalah banjir hingga adanya sedimentasi. Foto: Pixabay

2. Daerah Dataran Rendah

Di daerah dataran rendah juga dapat ditemukan lahan kritis. Lahan kritis di daerah ini biasanya disebabkan oleh genangan air (banjir) atau proses sedimentasi (pengendapan) bahan tertentu, yang menutupi lapisan tanah subur.

Biasanya, tanah yang subur ini posisinya lebih rendah dari daerah sekitarnya, sehingga ketika hujan tiba, air tidak bisa mengalir, dan menggenangi daerah tanah subur tersebut.

Ilustrasi peristiwa abrasi sebagai penyebab lahan kritis di pantai. Foto: Pixabay

3. Daerah Pantai

Peristiwa abrasi biasanya menyebabkan terjadinya lahan kritis di sekitar pantai. Sebab, lapisan sedimen akan hancur dan lenyap. Peristiwa ini biasanya terjadi pada muara sungai yang pantainya terbuka, dengan memiliki gelombang laut yang cukup besar.

Pada dasarnya, lahan kritis dapat terjadi, karena adanya ketidakseimbangan antara pemanfaatan dan pengolahan, atau kecerobohan selama proses pengolahan lahan berlangsung. Oleh sebab itu, lahan kritis sebenarnya dapat ditanggulangi.

Upaya penanggulangan lahan kritis di antaranya dengan cara mencegah penebangan hutan secara sembarangan, menggalakkan reboisasi (penanaman hutan kembali), pemupukan yang seimbang terutama dengan menggunakan pupuk alami, serta pengolahan tanah yang tepat dengan cara membuat sengkedan.

(VIO)