Konten dari Pengguna

Mengapa Matahari yang Menjadi Pusat Tata Surya? Jelaskan!

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

ยทwaktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penampakan matahari yang menjadi pusat tata surya di alam semesta. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Penampakan matahari yang menjadi pusat tata surya di alam semesta. Foto: Pixabay

Dari sekian banyak benda langit, mengapa matahari yang menjadi pusat tata surya? Jelaskan! Mungkin pertanyaan ini pernah tercetus di benak manusia. Tata surya sendiri terdiri atas sebuah bintang yang disebut matahari dan semua objek yang mengelilinginya.

Sistem tata surya merupakan hasil penggumpalan gas dan debu di angkasa, hingga akhirnya terbentuk matahari dan objek yang mengelilinginya. Objek yang mengelilingi matahari terdiri dari delapan buah planet, asteroid, meteorit, hingga komet.

Teori awal yang muncul tentang sistem tata surya adalah teori Geosentrik yang dikemukakan oleh Ptolomeus, serta teori Heliosentrik yang dikemukakan oleh Nicolas Copernicus. Keduanya menganut perbedaan tentang di mana letak pusat tata surya.

Teori Geosentrik mengatakan bahwa pusat tata surya adalah Bumi, sedangkan teori Heliosentrik menyatakan bahwa matahari merupakan pusat tata surya. Namun, hingga kini teori Heliosentrik yang menjadi pijakan bahwa matahari yang menjadi pusat tata surya.

Lalu mengapa matahari yang menjadi pusat tata surya? Sebelum mengetahui alasannya, simak uraian singkat mengenai teori Heliosentrik yang menjadi dasar tentang matahari sebagai pusat tata surya.

Matahari menjadi pusat tata surya karena gaya gravitasi yang dimilikinya. Foto: Pixabay

Teori Heliosentrik

Mengutip dalam buku Seri Sains: Tata Surya oleh Taufiq Hidayat S.T (2017: 02), teori Heliosentrik menyatakan bahwa matahari merupakan pusat tata surya. Sementara bumi bergerak mengelilingi matahari dalam orbit berbentuk lingkaran.

Untuk permasalahan orbit, data yang diperoleh Copernicus memperlihatkan adanya indikasi penyimpangan kecepatan sudut orbit planet-planet. Namun, Copernicus tetap mempertahankan bentuk orbit lingkaran dengan menyatakan bahwa orbitnya tidak konsentris (mempunyai pusat yang sama).

Teori Heliosentrik disampaikan Copernicus dalam publikasinya yang berjudul De Revolutionibus Orbium Coelestium kepada Paus Pope II dan diterima oleh gereja.

Di kemudian hari, setelah kematian Copernicus pandangan gereja berubah. Teori Heliosentrik dianggap berbahaya, karena bertentangan dengan pandangan gereja yang menganggap manusialah yang menjadi sentral di alam semesta.

Setelah tahun 1960, mulai muncul hipotesis-hipotesis yang muncul untuk memperkuat pernyataan bahwa matahari memang menjadi pusat tata surya di alam semesta ini.

Ilustrasi matahari yang menjadi pusat tata surya karena gaya tarik gravitasinya mampu menarik benda-benda langit di sekitarnya. Foto: Pixabay

Mengapa Matahari yang Menjadi Pusat Tata Surya? Jelaskan!

Berdasarkan buku Geografi SMA Kelas X karya Yusman Hestiyanto (2007: 23), matahari menjadi pusat tata surya karena gaya gravitasi yang dimilikinya. Matahari adalah bintang yang memiliki massa sangat besar.

Massa matahari yang begitu besar inilah yang menjadikan matahari memiliki gaya tarik gravitasi yang besar pula. Gravitasi yang dimiliki matahari diyakini sebesar 28 kali lebih kuat daripada gravitasi yang dimiliki oleh bumi.

Sebab begitu besarnya gaya gravitasi yang dimiliki matahari, matahari mampu menyatukan planet-planet, asteroid, komet, meteor, meteorit dan benda-benda langit lainnya menjadi satu kesatuan.

Meski bukan bintang terbesar, tetapi matahari menjadi bintang paling besar bagi manusia di bumi, karena jaraknya paling dekat dengan bumi.

Cahaya dan panas matahari inilah justru yang menyebabkan adanya kehidupan di bumi. Secara langsung maupun tidak langsung, cahaya dan panas matahari memberikan energi kepada semua makhluk hidup yang tinggal di bumi.

(VIO)