Mengenal Apa Itu Buzzer dan Cara Kerjanya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Buzzer adalah istilah yang kerap muncul di media sosial, khususnya di Twitter atau kini bernama X. Para pegiat medsos mungkin sudah tidak asing lagi dengan kata ini, namun beberapa orang masih ada yang belum tahu apa itu buzzer.
Secara bahasa, buzzer artinya bel atau lonceng. Kata ini dipakai untuk menggambarkan cara kerja buzzer yang menyuarakan suatu isu atau masalah tertentu secara berulang-ulang.
Untuk mengetahui apa itu buzzer dan cara kerjanya secara lebih mendalam, simak ulasan berikut.
Apa Itu Buzzer?
Buzzer berasal dari kata buzz yang dalam Bahasa Inggris berarti berdengung atau bergumam. Secara harfiah, buzzer adalah individu atau sekelompok orang yang bertugas menyuarakan isu atau gerakan tertentu di media sosial secara terus menerus agar mendapat perhatian banyak orang.
Peran buzzer sangat penting dalam membentuk opini publik di dunia maya. Karenanya ‘kelompok’ ini kerap dimanfaatkan untuk membangun citra atau memasarkan produk dan jasa.
Jasa buzzer awalnya digunakan pemilik bisnis atau perusahaan untuk mempromosikan suatu produk atau kegiatan di Twitter. Namun, sejak dilirik oleh politisi, buzzer identik dengan kampanye negatif.
Para buzzer dibayar untuk menjatuhkan lawan politik, terutama di musim pemilihan umum (pemilu). Caranya bermacam-macam, mulai dari melontarkan komentar negatif, menyebar berita palsu dan fitnah, hingga menjelek-jelekkan tokoh tertentu dengan meme atau ilustrasi.
Dalam melakukan tugasnya, buzzer bersembunyi di balik akun anonim. Mereka juga kerap menggunakan identitas palsu sehingga sulit dilacak.
Cara Kerja Buzzer Politik
Dikutip dari artikel Buzzer di Media Sosial Pada Pilkada dan Pemilu Indonesia Buzzer in Social Media in Local Elections and Indonesian Elections yang ditulis oleh Christiany Juditha, buzzer politik bekerja tanpa bertatap muka atau bertemu langsung dengan agensi yang memberikan pekerjaan.
Peran dan kinerja para buzzer politik pun tidak sembarangan. Dalam mengawal kliennya, mereka membentuk tim yang terdiri dari tujuh hingga sepuluh orang.
Kelompok ini kemudian dipecah kembali menjadi tiga kelompok, yakni PIC Support, content writer, dan admin. Kelompok Person In Charge (PIC) bertugas menyusun strategi. merancang desain sosialisasi, hingga mengukur efektivitas pesan.
Strategi PIC tersebut direalisasikan dalam bentuk naskah oleh content writer. Naskah tersebut nantinya akan diposting di website, akun media sosial, hingga forum-forum aplikasi pesan singkat, seperti telegram dan whatsapp.
Konten yang dibuat buzzer bermacam-macam sesuai dengan arahan klien. Ada yang bertujuan untuk membangun citra positif klien hingga menjatuhkan pihak lawan.
Sedangkan admin bertugas mengawasi isu-isu yang beredar di masyarakat dan mempertajamnya. Mereka juga akan memantau apabila ada serangan balasan dari pihak lawan.
Dalam menjalankan tugasnya, tim buzzer tidak hanya menggunakan satu media sosial saja, tetapi memanfaatkan semua platform sosial, termasuk grup-grup yang sifatnya lebih tertutup seperti melalui Line, WhatsApp, hingga Telegram.
(GLW)
