Mengenal Jenis Awan yang Mendatangkan Hujan dan Ciri-cirinya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Tidak semua jenis awan mendatangkan hujan. Lalu, apa saja jenis-jenis awan yang mendatangkan hujan? Bagaimana dengan ciri-cirinya? Agar mengetahui jawabannya, simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Menurut buku 200 Fakta Penting Air karya Yuliani Kristinawati, ST (2019: 24), awan adalah kumpulan partikel air atau es yang tampak di lapisan atmosfer.
Awan dapat menunjukkan kondisi cuaca. Misalnya, awan gelap menandakan akan hujan, sedangkan langit tanpa awan menunjukkan kondisi cuaca sedang cerah.
Ada kalanya, awan-awan berkumpul menjadi satu, hingga akhirnya ukurannya berubah menjadi lebih besar. Akibat adanya gaya gravitasi, awan tersebut turun mendekati permukaan bumi, yang suhu udaranya lebih tinggi. Selanjutnya, awan tersebut akan menurunkan hujan.
Agar mengetahui jenis-jenis awan apa saja yang mendatangkan hujan, ketahui penjelasan dan ciri-cirinya di bawah ini.
Jenis-Jenis Awan yang Mendatangkan Hujan
Mengutip dalam buku Agroklimatologi karya Lestari Irene Purba dkk (2021: 65), jenis-jenis awan yang mendatangkan hujan di antaranya adalah sebagai berikut.
1. Awan Cumulonimbus
Awan cumulonimbus tergolong ke dalam awan yang berada di elevasi lebih dari 2.000 m. Awan ini dikenal sebagai awan yang memunculkan hujan deras disertai dengan petir dan guntur.
Setelah kemunculan awan ini, biasanya hadir pula awan sirostratus yang terletak di atasnya. Terkadang, kemunculan kedua awan ini dapat menimbulkan angin puting beliung.
Adapun ciri-ciri awan cumulonimbus, yaitu:
Mempunyai warna putih sampai gelap, sebagai tanda munculnya kilat dan guntur.
Erat kaitannya dengan badai, tornado, petir, dan hujan deras.
Sangat tebal, sampai-sampai dapat menutupi sinar matahari.
Di wilayah subtropis, awan ini dapat menimbulkan salju.
2. Awan Nimbostratus
Awan nimbostratus tergolong ke dalam awan rendah yang berada di elevasi antara 600- 3000 meter di permukaan bumi. Biasanya, persebaran wilayah awan ini cukup luas. Awan ini dapat menimbulkan hujan gerimis.
Ciri-ciri awan nimbostratus adalah sebagai berikut.
Berwarna putih gelap cenderung keabu-abuan dan persebarannya di langit cukup luas.
Awan ini mempunyai bentuk yang tidak menentu, seringkali berbentuk abstrak dan compang-camping.
3. Awan Stratocumulus
Awan stratocumulus termasuk ke dalam awan rendah. Sebab letaknya dekat dengan bumi, tidak heran awan ini dapat disaksikan secara jelas.
Awan jenis ini bisa menghasilkan hujan yang tidak terlampau deras, bila dikomparasikan dengan hujan yang dihasilkan oleh awan cumulonimbus.
Adapun ciri-ciri awan stratocumulus, yaitu:
Berada di elevasi di bawah 2.000 meter.
Dapat bergerak lebih cepat daripada awan Cumulonimbus, sekaligus berkembang ke arah horizontal.
Saat musim dingin tiba, awan ini terdiri dari butiran air yang paling dingin hingga dapat berbentuk kristal es.
Dapat memunculkan turbulensi dan konveksi lapisan udara yang tidak stabil.
4. Awan Stratus
Awan ini menjadi tanda adanya kestabilan desakan udara yang ada di atmosfer. Awan ini akan selalu hadir ketika cuaca sedang dalam keadaan paling panas, tetapi tiba-tiba mendarat ketika hujan gerimis sedang turun.
Ciri-ciri awan stratus adalah sebagai berikut.
Terletak pada elevasi yang paling rendah.
Perkembangan awan stratus tidak vertikal, tetapi mengekor dengan aliran angin.
Dapat berkembang menjadi awan nimbostratus.
5. Awan Altokumulus
Awan altokumulus berbentuk bulatan kecil serupa dengan kapas yang tersebar luas di langit. Persebaran awan ini paling teratur dan dapat menutupi mayoritas permukaan langit. Awan ini dapat menyebabkan hujan deras dengan dibuntuti petir.
Adapun ciri-ciri awan altokumulus, yaitu:
Awan ini berada di elevasi 2.000-7.000 meter di atas permukaan laut.
Dapat disaksikan dengan mudah, ketika berada di elevasi seperti gunung.
Bentuknya kecil-kecil serupa bola kapas, yang saling bergandengan dalam jumlah yang banyak.
(VIO)
