Konten dari Pengguna

Mengenal Jenis-Jenis Kelompok Sosial Teratur dan Tidak Teratur

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi kelompok sosial teratur. Foto: Athena/pexels.com
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi kelompok sosial teratur. Foto: Athena/pexels.com

Daftar isi

Kelompok sosial dibagi menjadi kelompok sosial teratur dan tidak teratur berdasarkan faktor yang melatarbelakangi pembentukannya. Kelompok sosial sendiri adalah kumpulan orang yang berkelompok secara sadar untuk berinteraksi satu sama lain.

Artikel ini akan membahas lebih lanjut tentang kelompok sosial teratur dan tidak teratur. Jadi, simak di bawah ini hingga habis.

Kelompok Sosial Teratur

Ilustrasi kelompok sosial teratur. Foto: THIS IS ZUN/pexels.com

Kelompok sosial teratur adalah sekelompok manusia yang dibentuk melalui cara yang terorganisir. Keanggotaan kelompok sosial teratur lebih mengikat dan umumnya berlangsung lama. Ciri-ciri kelompok sosial teratur, antara lain:

  • Semua anggotanya memiliki kesadaran untuk mengikuti kelompok tersebut.

  • Interaksi yang terjadi antar anggota cukup intens dan kuat.

  • Adanya pengurus, norma, dan aturan.

Merangkum e-Modul Sosiologi XI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019, berikut ini jenis-jenis kelompok sosial teratur.

1. Kelompok Primer

Kelompok primer adalah kelompok kecil yang bersifat intimitas, sering tatap muka, dan adanya kerja sama. Anggota dari jenis kelompok ini saling mengenal dan dekat satu sama lain, sehingga hubungannya lebih erat.

2. Kelompok Sekunder

Kelompok sekunder merujuk pada kelompok formal yang tak terlalu dekat secara sosial. Interaksi dalam kelompok sekunder berlangsung secara tak langsung dan kurang dekat, sehingga keluarganya lebih objektif.

Fungsi kelompok sekunder dalam kehidupan manusia adalah agar tercapainya tujuan tertentu dalam masyarakat, secara rasional dan objektif.

3. Kelompok Dalam atau In-Group

Kelompok dalam dalam kelompok sosial teratur terbentuk karena kesadaran seseorang tentang identitas dirinya dalam sebuah kelompok, misalnya keluargaku, negaraku, dan kelasku, di mana "ku" merujuk bahwa seseorang tersebut merasa menjadi bagian dalam kelompok.

4. Kelompok Luar atau Out-Group

Seseorang yang tak merasa bukan bagian dari sebuah kelompok bisa dikatakan anggota kelompok luar. Namun, kelompok luar bisa menjadi kelompok dalam apabila terjadi komunikasi dan kontak antar kelompok atau individu yang terjalin dengan baik, atau karena adanya rasa simpati.

5. Kelompok Formal

Kelompok formal adalah kelompok yang memiliki peraturan tegas dan diciptakan untuk mengatur hubungan antar anggotanya. Hubungan antar anggota dalam kelompok ini terkoordinasi untuk mencapai tujuan kelompok atau organisasi yang bersifat spesialisasi.

Kegiatan didasarkan pada aturan-aturan yang sebelumnya telah ditentukan. Organisasi ditegakkan pada landasan mekanisme administratif. Pada kelompok ini, terdapat staf administratif yang mempertanggungjawabkan organisasi dan mengkoordinasi kegiatan dalam kelompok.

Contoh kelompok formal yaitu bagian-bagian unit kepolisian lalu lintas, meliputi administrasi, logistik, lapangan atau patroli, dan penyuluhan atau pembinaan.

6. Kelompok Informal

Kelompok informal adalah sebuah kelompok yang tumbuh dari interaksi, kebutuhan anggotanya, dan daya tarik yang membuat anggotanya mau bergabung. Keanggotaan kelompok informal umumnya tidak teratur dan ditentukan atas daya tarik bersama antar anggota.

Namun, pembagian tugas kelompok informal masih jelas, hanya saja sifatnya informal atau berdasarkan kekeluargaan. Contoh dari kelompok informal adalah arisan.

7. Paguyuban

Kelompok sosial teratur jenis paguyuban dibentuk karena kehidupan bersama. Kelompok ini terjadi karena anggotanya diikat hubungan batin dan bersifat alamiah, misalnya adalah keluarga, rukun tetangga, dan lainnya.

8. Patembayan

Patembayan adalah kelompok sosial teratur yang terjadi karena ikatan lahir bersifat pokok untuk jangka waktu tertentu, misalnya ikatan antar pedagang, organisasi sebuah pabrik, dan lainnya.

9. Membership Group

Membership group adalah kelompok sosial teratur di mana setiap orang menjadi kelompok tertentu karena satu daya tarik yang sama, misalnya ekstrakurikuler, karang taruna, dan lainnya.

10. Reference Group

Kemudian, ada reference group, yaitu kelompok sosial yang menjadi acuan bagi seseorang dengan tujuan membentuk pribadi dan perilakunya. Adapun seseorang yang dimaksud merupakan bukan anggota kelompok tersebut.

11. Kelompok Okupasional

Kelompok okupasional muncul karena semakin memudarnya fungsi kekerabatan karena anggotanya memiliki pekerjaan yang sejenis. Misalnya, asosiasi sarjana farmasi, Ikatan Dokter Indonesia, dan lainnya.

12. Kelompok Volunter

Kelompok volunter berisi orang-orang yang memiliki kepentingan sama, tetapi tak mendapat perhatian dari masyarakat. Kelompok ini dapat memenuhi kepentingan orang lain tanpa harus mengganggu kepentingan masyarakat secara umum.

Beberapa penyebab terjadinya kelompok volunter adalah kebutuhan sandang dan pangan, kebutuhan keselamatan jiwa, dan lainnya.

Baca Juga: Pengertian Masyarakat, Ciri-ciri, dan Faktor Perubahan di Dalamnya

Kelompok Sosial Tidak Teratur

Ilustrasi kelompok sosial tidak teratur. Foto: Unsplash/Nanzeeba Ibnat.

Mengutip dari buku Sosiologi: Menyelami Fenomena Sosial di Masyarakat oleh Bagya Waluya, kelompok sosial tidak teratur adalah sekumpulan manusia yang dalam pembentukannya terjadi secara organik atau tak ada pengorganisasian. Umumnya, kelompok sosial tidak teratur hanya berlangsung sementara.

Kelompok sosial tidak teratur terbentuk karena ada kesamaan kepentingan antar anggotanya. Sehingga, ketika kepentingannya telah selesai, kelompok sosial tersebut akan bubar.

Menyadur e-Modul Sosiologi XI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019, berikut ini jenis-jenis kelompok sosial tidak teratur:

1. Kerumunan Sosial (Crowd)

Kerumunan sosial atau social aggregate adalah sekumpulan orang yang berada di sebuah tempat. Namun, di antara mereka tak berhubungan secara tetap.

Kelompok sosial ini disebut juga dengan kolektivitas, yaitu kumpulan manusia pada sebuah tempat dan waktu yang sama tetapi sementara. Sebuah kelompok manusia yang masuk ke dalam jenis kelompok sosial kerumunan apabila memiliki ciri-ciri berikut:

  • Orang-orang di kerumunan tersebut tak mengenal satu sama lain.

  • Kehadiran orang-orang di tempat tersebut hanya bersifat fisik, tak ada kontak batin.

  • Penyebab terjadinya kerumunan karena adanya sebuah kejadian yang menjadi pusat perhatian banyak orang, umumnya secara kebetulan.

  • Tak ada organisasi antar individu satu dengan lainnya.

  • Interaksi antar individu bersifat spontan, tak terduga, singkat, dan sangat lemah.

  • Kedudukan sosial setiap orang dalam kerumunan adalah sama dan tak terstruktur, meskipun berasal dari status sosial yang berbeda-beda.

  • Setiap orang bebas masuk dan keluar dari kerumunan.

  • Kerumunan berlangsung sementara.

Beberapa bentuk kerumunan yang umum dijumpai dalam kehidupan masyarakat, yaitu penonton film, orang yang berpesta, orang-orang yang antre membeli tiket, kerumunan orang-orang yang sedang menyelamatkan diri, kerumunan karena adanya kecelakaan, orang-orang yang mengikuti demonstrasi, dan lainnya.

2. Publik

Publik adalah kelompok yang bukan merupakan kesatuan. Interaksi dalam kelompok sosial tidak teratur jenis ini berlangsung melalui alat komunikasi dan sifatnya tak langgeng.

Contoh kelompok sosial publik adalah pembicaraan pribadi yang berantai, gosip atau desas-desus, surat kabar, televisi, radio, film, dan lainnya.

Alat penghubung untuk kelompok sosial ini umumnya memiliki pengikut yang luas dan berjumlah besar. Adanya aksi yang terjadi pada kelompok sosial publik dapat diprakarsai karena keinginan tiap individu, misalnya saat pemungutan suara dalam pemilihan umum.

3. Massa

Kemudian, kelompok sosial massa, yaitu keseluruhan dari kerumunan sosial. Massa timbul sejalan dengan perkembangan masyarakat yang mengarah pada kehidupan modern. Sehingga, massa dapat menjadi ciri khas masyarakat modern yang umumnya tinggal di kawasan perkotaan.

Ciri massa adalah sebuah kumpulan orang-orang heterogen sehingga identitasnya sulit untuk dikenali. Keanekaragaman kelompok sosial ini tampak dari diferensiasi status sosial, pendidikan, taraf hidup, keturunan, agama, dan pekerjaan.

Faktor Terjadinya Kelompok Sosial

Ilustrasi kelompok sosial. Foto: Pexels

Menurut Soerjono Soekanto, pengertian kelompok sosial adalah himpunan atau kesatuan manusia yang hidup bersama karena saling berhubungan dan memiliki timbal balik satu sama lain.

Adapun faktor terjadinya kelompok sosial ada dua, yaitu kedekatan dan kesamaan. Mengutip dari buku e-Modul Sosiologi XI terbitan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan pada 2019, berikut penjelasannya:

1. Kedekatan

Kelompok sosial bisa terbentuk karena adanya kedekatan, dapat karena kedekatan geografis dan batin yang tak bisa diukur. Kelompok sosial terbentuk karena individu yang saling berinteraksi.

Kedekatan geografis membuat kedekatan fisik semakin tinggi. Semakin dekat jarak geografis seseorang, semakin sering setiap anggota kelompok sosial melihat, berbicara, dan berinteraksi satu sama lain.

Sehingga, kedekatan membutuhkan interaksi yang membuat sebuah kelompok sosial terbentuk, misalnya kelompok pertemanan, kelompok arisan, dan lainnya.

2. Kesamaan

Kelompok sosial tak hanya terbentuk karena adanya kedekatan, beberapa ada yang terbentuk karena adanya kesamaan antar anggotanya.

Beberapa orang lebih merasa nyaman untuk berhubungan dengan orang lain yang memiliki kesamaan, seperti kesamaan minat, nilai, kepercayaan, usia, tingkat intelegensi, dan karakter personal lainnya.

Bahkan, kesamaan dapat menjadi faktor utama untuk memilih calon pasangan yang nantinya membentuk kelompok sosial keluarga.

(NSF)