Mengenal Letak Astronomis Indonesia dan Pengaruhnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Letak astronomis Indonesia dan pengaruhnya memiliki keunikannya sendiri yang menjadikannya strategis dan wajib diketahui. Setiap negara tentunya memiliki letak astronomis dan letak geografis yang berbeda-beda dengan negara lainnya.
Mengutip dari buku IPS Terpadu untuk SMP dan MTs Kelas VIII, Y. Sri Pujiastuti, dkk (2007), letak astronomis merupakan suatu tempat yang letaknya mutlak (absolut) yang ditentukan oleh jaring-jaring derajat lintang dan bujur.
Garis lintang adalah garis imajiner secara horizontal melingkari bumi. Sementara, garis bujur adalah garis imajiner yang melingkari bumi secara vertikal. Letak astronomi sendiri memiliki pengaruh terhadap kehidupan sehari-hari, sehingga sangat penting untuk diketahui.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Letak Astronomis Indonesia
Mengutip buku IPS Terpadu (Sosiologi, Geografi, Ekonomi, Sejarah), Mamat Ruhimat, faktor yang terdapat dalam letak astronomis adalah posisi relatif terhadap benda langit, seperti matahari, bulan, serta pengaruh fenomena astronomis,pergerakan bumi, rotasi, dan revolusi.
Adapun letak astronomis Indonesia dan pengaruhnya berdasarkan garis lintang dan bujur, berikut penjelasannya:
1. Garis Lintang
Garis lintang ialah garis imajiner horizontal yang melintang dan membelah struktur bumi menjadi dua poros yang sama besar, yakni lintang utara (LU) dan lintang selatan (LS).
Garis lintang utara dan selatan sendiri sejajar dengan garis khayal khatulistiwa (equator) yang membentang hingga kutub selatan dan kutub utara. Letak astronomis Indonesia berada pada titik 6° Lintang Utara (LU) sampai 11° Lintang Selatan (LS).
Berdasarkan posisi lintangnya, sebagian berapa di belahan bumi Selatan. Inilah penjelasannya:
Batas paling utara 6° 08’LU tepat melewati Pulau Weh (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam).
Batas paling selatan 11°15’ LS tepat melewati Pulau Rote (Provinsi Nusa Tenggara Timur).
Wilayah Indonesia yang dilalui khatulistiwa (ekuator) atau garis lintang 0° adalah Kota Pontianak (Kalimantan Barat), Kota Bonjol (Sumatra Barat), Kota Tumbu (Sulawesi) dan Maluku.
Sementara itu, kepulauan Indonesia tidak dilalui Garis Balik Utara (GBU) atau tropic of cancer (23,5° LU) dan Garis Balik Selatan (GBS) atau tropic of Capricorn (23,5° LS).
2. Garis Bujur
Garis bujur merupakan suatu garis khayal yang ditarik dari ujung kutub utara sampai ke kutub selatan dan digunakan untuk menentukan lokasi di bumi. Garis bujur ialah garis imajiner vertikal yang terbagi atas garis Bujur Barat (BB) dan garis Bujur Timur (BT).
Sementara itu, Garis bujur barat dan garis bujur timur tersebut dipisahkan oleh Greenwich Mean Time (GMT) berdasarkan perjanjian internasional.
Artinya, garis bujur menunjukan lokasi sebuah tempat di timur atau barat Bumi dari sebuah garis utara-selatan yang disebut Meridian Utama. Berdasarkan pengukuran sudut, garis Bujur dihitung dari 0° di Meridian Utama ke +180° arah timur dan −180° arah barat.
Garis bujur juga disebut dengan garis meredien yang membatasi letak astronomis Indonesia antara 95° bujur timur (BT) – 141° bujur timur (BT). Berdasarkan posisi bujur, wilayah Indonesia terletak di belahan timur sebagai berikut,
Batas sebelah barat 95° 45’ BT melewati Pulau Beureuh (Provinsi Nanggroe Aceh Darussalam).
Batas sebelah timur 141° 05’ BT melewati Sungai Fly dan Sungai Merauke (Provinsi Papua).
Dapat disimpulkan, bahwa Indonesia sendiri memiliki letak astronomis yang berada pada titik 6° LU atau Lintang Utara - 11° LS atau Lintang Selatan. Sedangkan garis bujurnya antara 95° BT atau Bujur Timur - 141° BT atau Bujur Timur.
Pengaruh Letak Astronomis Indonesia
Letak Indonesia secara astronomis ternyata memiliki pengaruh yang luas bagi kehidupan masyarakat sehari-hari. Mulai dari iklim tropis yang dimiliki, kateristik alam, dan lainnya. Berikut adalah penjelasan mengenai pengaruh letak astronomis Indonesia.
1. Memiliki Iklim Tropis
Diketahui, wilayah Indonesia terletak pada 6° LU – 11° LS dan 95° BT – 141° BT secara astronomis. Pada bentang inilah yang menyebabkan wilayah Indonesia masuk pada iklim tropis. Selain itu, Indonesia sendiri juga terletak di sepanjang garis khatulistiwa.
Wilayah negara Indonesia dengan iklim tropis akan memperoleh sinar matahari sebagai pusat tata surya sepanjang waktu. Untuk itu, Indonesia memiliki musim hujan dan musim kemarau. Di berbagai negara, faktor yang mendukung iklim yaitu tekanan atau suhu udara.
Akan tetapi, di Indonesia perubahan iklim ditentukan oleh adanya faktor curah hujan. Hal tersebut dapat dibuktikan dengan rata-rata kelembapan di Indonesia sekitar 65% – 90%.
Sebagian besar, Indonesia mempunyai beberapa jenis iklim yang beriklim hujan tropis dengan taraf curah hujan tertinggi, kemudian disertai dengan iklim muson tropis, serta yang mempunyai taraf curah hujan terendah, yaitu iklim sabana tropis.
Namun, Indonesia pada hakikatnya adalah negara yang memiliki tiga jenis iklim, yakni iklim musim (iklim muson), iklim tropika atau tropis (iklim panas), serta iklim laut. Tetapi, yang paling melekat dengan Indonesia adalah iklim tropis atau iklim panas atau kemarau.
Pada umumnya, musim kemarau terjadi antara bulan Maret sampai Agustus. Sedangkan, iklim tropis atau musim hujan biasanya terjadi antara bulan September sampai Februari. Kondisi ini tentunya berbeda dengan yang terjadi di negara-negara wilayah subtropis.
Negara beriklim subtropis memiliki 4 musim, yaitu musim panas, musim dingin, musim semi, dan musim gugur.
2. Memiliki 3 Zona Waktu
Letak astronomis juga dapat mempengaruhi perbedaan waktu yang mulai ditetapkan pada titik lintang dan bujur 0 derajat di Kota Greenwich, Inggris.
Indonesia terbagi atas 3 zona waktu, yaitu Waktu Indonesia bagian Barat (WIB), Waktu Indonesia bagian Tengah (WITA), dan Waktu Indonesia bagian Timur (WIT). Hal sesuai dengan Keputusan Presiden No. 41 Tahun 1987.
Waktu Indonesia bagian Barat atau WIB merupakan pembagian waktu di Indonesia yang ada di garis 1-5 derajat bujur timur. Pembedaan waktu dengan wilayah zona di bagian tengah berselang satu jam, sementara dengan wilayah bagian timur berselang dua jam.
Sedangkan, waktu Indonesia bagian tengah atau WITA berada pada garis 120 derajat bujur timur. Pembagian waktu di wilayah WITA ini sangat berbeda jika di wilayah WITA menunjukkan pukul 12.00, maka di wilayah barat pukul 11.00 WIB dan bagian timur pukul 13.00 WIT.
Untuk zona waktu Indonesia bagian timur atau WIT adalah wilayah yang berada di garis 135 derajat bujur timur. Waktu di Indonesia bagian timur memiliki perbedaan dengan selisih dua jam dengan wilayah bagian barat dan satu jam dengan wilayah bagian tengah.
Adapun pembagian waktu dalam berbagai wilayah di Indonesia adalah sebagai berikut.
Daerah Waktu Indonesia bagian Barat, berbatasan dengan garis 105° BT. Wilayahnya meliputi Sumatra, Jawa, Madura, DKI Jakarta, Yogyakarta, Banten, Aceh, Riau, Jambi, Kalimantan Tengah, dan Kalimantan Barat (GMT + 7 jam).
Daerah Waktu Indonesia bagian Tengah, berbatasan dengan garis 120° BT. Wilayahnya meliputi Bali, Nusa Tenggara Barat, Nusa Tenggara Timur, Kalimantan Utara, Kalimantan Timur, Kalimantan Selatan dan Sulawesi (GMT + 8 jam).
Daerah Waktu Indonesia bagian Timur, berbatasan dengan garis 135°BT. Wilayahnya meliputi Maluku Utara, Maluku dan Papua (GMT + 9 jam)
3. Kekayaan Flora dan Fauna
Pengaruh lainnya adalah seluruh wilayah Indonesia mendapatkan sinar matahari secara sama dan merata serta curah hujan yang tinggi. Tentunya hal ini cukup baik untuk tumbuhnya berbagai flora sebagai sumber makanan dan fauna yang memakannya.
Letak astronomis ini juga memengaruhi pembagian persebaran flora dan fauna di Indonesia berdasarkan dari garis wallace dan garis weber. Berikut diantaranya:
Fauna Asiatis, disebut dengan fauna barat yang memiliki ciri dan tipe yang mirip fauna Asia. Fauna ini tersebar di wilayah barat Indonesia, yaitu Sumatra, Jawa, Bali, dan Kalimantan.
Fauna Peralihan, merupakan fauna Indonesia di bagian tengah. Umumnya, fauna peralihan merupakan hewan endemik yang berbeda dari fauna Asiatis maupun Australis.
Fauna Australis, dikenal dengan nama fauna timur atau yang mirip dengan fauna di Benua Australia. Jenis ini bisa ditemukan di wilayah Papua, Halmahera, dan Kepulauan Aru.
Flora Asiatis, yang memiliki variasi lebih dibandingkan dengan yang lain. Hal ini karena wilayah ini memiliki curah hujan dan suhu udara yang tinggi, meliputi Bali, Sumatra, dan Kalimantan.
Flora Peralihan, jenis ini berada di bagian tengah daerah peralihan antara Indonesia bagian barat dan Indonesia bagian timur. Misalnya seperti hutan jati.
Flora Australis, berada di bagian timur itu meliputi wilayah Papua, Maluku, Nusa Tenggara, dan Sulawesi.
Itulah penjelasan mengenai letak astronomis Indonesia dan pengaruhnya bagi kehidupan masyarakat sehari-hari. (HEN)
Baca Juga: Letak Geografis Indonesia: Pengaruh, Keuntungan, dan Dampaknya
