Konten dari Pengguna

Mengenal Macam-macam Majas dan Contohnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi majas bahasa Indonesia. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi majas bahasa Indonesia. Foto: Unsplash

Dalam bahasa Indonesia, majas adalah cara menggambarkan sesuatu dengan cara menyamakannya pada sesuatu yang lain. Majas juga bisa disebut dengan kata-kata kiasan. Majas sering digunakan dalam beberapa karya sastra, seperti puisi, cerpen, pantun, dan novel.

Umumnya, majas atau gaya bahasa digunakan untuk mengungkapkan perasaan atau pikiran dengan bahasa yang sedemikian rupa dengan maksud mempercantik susunan kalimat sehingga menimbulkan kesan bagi pembaca atau pendengar.

Mengutip buku Pedoman Umum Ejaan Bahasa Indonesia dan Pembentukan Istilah oleh Tim Redaksi BIP, bagi pengguna bahasa yang juga penikmat karya kebahasaan, majas merupakan hal yang mutlak ada dalam setiap karya.

Misalnya, bagi pecinta sastra, majas adalah faktor utama pendukung agar karya yang dihasilkan memiliki kesan imajinatif bagi pembacanya.

Berdasarkan penggolongannya, macam-macam majas terbagi menjadi empat kategori, yaitu majas perbandingan, majas pertentangan, majas sindiran, dan majas penegasan. Keempat kategori majas tersebut masih dibagi lagi menjadi beberapa majas. Berikut penjelasannya.

Macam-macam Majas

Ilustrasi majas. Foto: Unsplash

1. Majas Perbandingan

a. Asosiasi (perumpamaan)

Diungkapkan dengan maksud membandingkan dua hal yang mutlak berbeda, tapi dianggap sama. Majas asosiasi ditandai dengan kata bagai, baik seperti, seumpama, laksana. Contoh:

  • Mukanya putih bersih seperti susu.

  • Wataknya keras seperti batu.

b. Metafora

Memberikan ungkapan perbandingan analogis dan ditandai dengan pemakaian kata yang bukan makna sebenarnya. Contoh:

  • Pekerjaan itu sudah diselesaikan oleh tangan kanan Pak Adi.

  • Singa memang kuat, sehingga pantas kalau dijuluki raja hutan.

c. Personifikasi

Majas yang memunculkan karakteristik manusia kepada benda mati dengan tujuan membuat benda tersebut seolah-olah hidup. Contoh:

  • Angin berbisik seolah menyampaikan pesanmu untukku.

  • Langit ikut menangis mendengarnya.

d. Hiperbola

Majas yang melukiskan sesuatu dengan kata-kata yang lebih hebat dari pengertiannya. Contoh:

  • Ayah memeras keringat untuk menghidupi keluarganya.

  • Harga bensin melambung tinggi.

e. Litotes

Majas yang melukiskan keadaan dengan kata-kata yang artinya berlawanan dengan kenyataan sebenarnya guna merendahkan diri. Contoh:

  • Kami hanya menyediakan teh dingin dan makanan kampung saja.

  • Kapan-kapan main ke gubukku.

f. Metonimia,

Menggunakan merek dagang atau nama barang untuk melukiskan sesuatu. Contoh:

  • Umar pergi ke Bogor memakai Honda.

  • Nutrisari menyegarkan tenggorokanku.

g. Eufemisme

Majas yang melukiskan suatu benda dengan kata-kata yang lebih sopan. Contoh:

  • Tunanetra itu berjalan beriringan.

  • Pramusaji itu sangat ramah.

h. Sinekdoke

Terbagi atas dua, yaitu:

  • Pars pro toto, majas yang melukiskan sebagian untuk keseluruhan. Contoh: Abdi tak terlihat batang hidungnya.

  • Totem pro parte, majas yang melukiskan seluruh untuk sebagian. Contoh: Argentina membantai Brasil 4-0.

2. Majas Sindiran

Ilustrasi majas dalam novel. Foto: iStock

a. Ironi

Mengutip Ringkasan dan Pembahasan Soal Bahasa Indonesia SMP oleh Rika Lestari, majas ironi adalah majas sindiran yang menyatakan sebaliknya dari apa yang sebenarnya dengan maksud menyindir seseorang. Contoh:

  • Indah benar rapormu dihiasi dengan warna merah.

  • Apalah artinya aku yang hanya anak ingusan dan tak mengerti apa-apa.

b. Sinisme

Majas yang menggunakan kata-kata sebaliknya. Contoh:

  • Tak berkata pun aku sudah bosan mendengarkan ocehanmu.

  • Rasanya ingin kupatahkan lehermu.

c. Sarkasme

Majas yang sangat kasar dan menyakitkan. Contoh:

  • Dasar gajah, tak lihatkah kau aku berdiri di depanmu.

  • Dasar buaya, seenaknya saja kau perlakukan aku.

3. Majas Penegasan

a. Pleonasme

Majas yang menggunakan sepatah kata yang sebenarnya tidak perlu dikatakan lagi. Contoh:

  • Kucing itu naik ke atas meja.

  • Andi maju ke depan.

b. Repetisi

Majas yang melukiskan sesuatu dengan mengulang kata. Contoh:

  • Cinta adalah misteri. Cinta adalah kesetiaan. Cinta adalah kerinduan. Cinta adalah pengorbanan

c. Paralelisme

Seperti majas repetisi, tetapi dipakai dalam puisi.

d. Klimaks

Majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut menggunakan urutan kata yang semakin memuncak pengertiannya. Contoh:

  • Psikologi perkembangan mempelajari usia prenatal, balita, kanak-kanak, remaja, dewasa, sampai usia lanjut.

e. Anti-klimaks

Majas yang menyatakan beberapa hal berturut-turut menggunakan kata-kata yang semakin melemah pengertiannya. Contoh:

  • Jangankan seribu atau seratus, serupiah pun aku tak punya.

4. Majas Pertentangan

a. Antitesis

Melukiskan sesuatu menggunakan paduan kata yang artinya berlawanan. Contoh:

  • Tua dan muda saling membantu dalam acara kerja bakti.

  • Cantik atau tidak, kaya atau miskin, bukanlah ukuran dalam berteman.

b. Paradoks

Melukiskan sesuatu seolah-olah bertentangan, padahal maksud sesungguhnya tidak. Contoh:

  • Hatinya sepi tinggal di kota Bandung yang ramai.

c. Okupasi

Melukiskan sesuatu dengan bantahan, tetapi kemudian diberi penjelasan atau diakhiri dengan kesimpulan. Contoh:

  • Merokok dapat merusak kesehatan, tetapi si perokok tidak dapat menghentikan kebiasaannya. Maka muncullah pabrik-pabrik rokok karena untungnya banyak.

(ADS)