Mengenal Perhiasan Baju Adat Papua dari Suku Kombai

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Baju adat Papua terdiri dari berbagai macam, salah satunya pakaian dan perhiasan yang dipakai Suku Kombai. Suku di Papua ini memiliki baju adat yang dikenakan sebagai adat istiadat dan budaya setempat.
Berdasarkan Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, pakaian adat merupakan simbol kebudayaan suatu daerah. Pakaian adat biasanya dipakai untuk memperingati hari besar seperti kelahiran, pernikahan, kematian, dan hari-hari besar keagamaan.
Perhiasan Baju Adat Papua Suku Kombai
Mengutip dari Jurnal Arkeologi Papua Volume 6 Nomor 2 yang ditulis Sonya M. Kawer, Suku Kombai dikenal sebagai salah satu suku yang masih memiliki aksesori atau perhiasan yang dipakai dalam tradisi budaya mereka. Mulai dari perkawinan, peperangan, hingga alat tukar.
Berikut berbagai perhiasan baju adat Papua Suku Kombai yang bersumber dari Balai Arkeologi Jayapura 2014.
Bentuk hiasan pada laki-laki
Mahkota kepala jenis pertama (fi rafhuo), terbuat dari kulit kus-kus pohon dan kulit kerang cowries dan rakhi, serta manik-manik rambut. Hiasan tersebut diikat di atas alis atau testa.
Mahkota kepala jenis kedua (mimina), terbuat dari tali rotan, pucuk daun sagu, dan manik-manik rumput (wame) yang digunakan sebagai topi.
Hiasan hidung (yani), terbuat dari batu dan kulit kerang. Batu yang diasah seukuran hidung dan kerang yang dipotong ukuran sedang, dipasang di tengah-tengah antara lubang hidung.
Hiasan lengan tangan (rafe), terbuat dari kulit pohon nibung. Kulit nibung dianyam bulat seukuran tangan.
Kalung (wuhu), terbuat dari gigi babi (aimba) dan kulit pohon melinjo (li). Gigi babi diikat pada anyaman tali pintalan melinjo dan digunakan pada leher.
Hiasan badan (ranggaleho), terbuat dari gigi anjing (manggi) dan kulit pohon melinjo (li). Gigi anjing diikat pada pintalan kulit melinjo. Hiasan ini disilang pada bagian badan.
Koteka (umo), terbuat dari moncong burung taong-taong (riambo) dan kulit labu. Hiasan ini dipakai pada alat kelamin lelaki.
Gelang kaki (dofi), terbuat dari kulit pohon nibung. Kulit nibung dianyam bulat seukuran pergelangan kaki.
Bentuk hiasan pada perempuan
Mahkota kepala 1 (amyamoho), terbuat dari manik-manik rumput. Hiasan ini diikat di atas alis atau testa.
Mahkota kepala jenis kedua (amyamoho), terbuat dari pucuk pohon sagu. Hiasan ini dianyam dan diikat di atas kepala.
Hiasan hidung (yani), terbuat dari batu. Batu yang diasah seukuran hidung dipasang di tengah-tengah antara lubang hidung.
Hiasan lengan tangan (rafe), terbuat dari kulit pohon nibung hutan. Kulit nibung dianyam bulat seukuran tangan.
Kalung (aerali), terbuat dari gigi babi dan kulit pohon melinjo. Gigi babi diikat pada anyaman tali pintalan melinjo dan digunakan pada bagian leher.
Hiasan badan (ranggaleho), terbuat dari gigi anjing dan kulit pohon melinjo. Gigi anjing diikat pada pintalan kulit melinjo. Hiasan ini disilang pada bagian badan.
Rumbai-rumbai atau rok (fiyo), terbuat dari pucuk daun sagu Hiasan ini dipintal dan dibuat berbentuk rok rumbai-rumbai.
Bra atau pakian dalam (ranggali), terbuat dari kulit pohon melinjo. Kulit pohon melinjo dipintal dan dianyam berbentuk pakaian dalam.
(AMP)
