Konten dari Pengguna

Mengenal Tradisi Bidar Asal Palembang yang Masih Eksis Hingga Kini

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi perahu bidar. Foto: pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi perahu bidar. Foto: pixabay

Bidar adalah perahu cepat yang digunakan untuk perlombaan. Jenis perahu ini biasanya dimunculkan dalam momen-momen khusus seperti upacara adat, perayaan Hari Kemerdekaan, dan lain-lain.

Mengutip buku Sumatera Selatan Memasuki Era Pembangunan susunan Departemen Penerangan RI (1993), lomba bidar dilaksanakan dengan cara mendayung perahu secara cepat. Seni dayung yang berasal dari Palembang ini sudah ada sejak zaman dahulu dan masih dilestarikan hingga sekarang.

Biasanya, lomba bidar dilaksanakan di Sungai Musi. Jika dahulu bidar hanya muat untuk satu orang, kini desainnya dibuat lebih besar, sehingga muat untuk puluhan orang.

Pada zaman dahulu, bidar digunakan oleh kurir untuk mengantarkan paket atau barang tertentu. Untuk mengetahui sejarah dan tradisinya, simaklah penjelasannya berikut ini.

Legenda Bidar di Palembang

Ilustrasi perahu. Foto: pixabay

Secara bahasa, bidar merupakan singkatan dari biduk lancar. Konon lomba ini diadakan pada zaman Putri Dayang Merindu, gadis cantik yang tinggal di bagian hulu kota Palembang pada ratusan tahun silam.

Putri Dayung Merindu berasal dari keluarga kaya raya. Ia mempunyai anak laki-laki bernama Dewa Jaya dan seorang kekasih bernama Kemala Negara.

Suatu hari, diadakan perlombaan bidar di lingkungan tempat tinggal Putri Dayung Merindu. Ada dua pemuda yang ikut dalam perlombaan tersebut, yakni Dewa Jaya yang merupakan putranya dan Kemala Negara yang merupakan kekasihnya.

Perlombaan bidar diadakan untuk membuktikan rasa cinta kedua pemuda kepada Putri Dayung. Namun sayang, perlombaan berakhir tragis. Keduanya justru meninggal dunia usai menyelesaikan kompetisi bidar.

Putri Dayung Merindu harus kehilangan dua orang yang sangat dicintainya. Tepat di depan jenazah Dewa Jaya dan Kemala Negara, ia berkata:

"Saya dan Kemala Negara saling mencinta. Akan tetapi, saya tahu Dewa Jaya juga sangat mencintai saya. Cintanya direstui oleh orang tua saya. Sekarang keduanya sudah menjadi mayat. Keduanya bertarung untuk memperebutkan saya. Saya ingin berlaku adil terhadap keduanya. Mohon agar Datuk belah menjadi dua tubuh saya ini. Yang sebelah mohon dikuburkan bersama Kemala Negara dan yang sebelah lagi dikuburkan bersama Dewa Jaya.”

Tak lama setelah mengucapkan kalimat tersebut, Putri Dayung Merindu pun menancapkan pisau di dadanya. Pisau yang sudah diolesi racun sebelumnya itu membuat ia meregang nyawa.

Seluruh penduduk pun menghormati sikap Dayung Merindu yang berlaku adil kepada kedua pemuda tadi. Akhirnya, mereka pun menjadikan perlombaan bidar sebagai tradisi yang harus diadakan setiap tahun.

Tradisi Bidar di Palembang

Ilustrasi bidar. Foto: pixabay

Tradisi bidar selalu diadakan di Palembang setiap tahunnya. Lomba ini biasanya dilaksanakan di Sungai Musi, tepatnya di Dermaga Ferry sampai ke depan Benteng Kuto Besak.

Perahu bidar memiliki panjang sekitar 24-30 m, lebar 75-100 cm dan tinggi 60-100 cm. Jumlah awak perahu terdiri dari 45-58 orang yang semua berjenis kelamin laki-laki.

Saat pelaksanannya, semua perahu bidar akan diarahkan ke tempat start. Umumnya, masing-masing kampung memiliki awak perahu bidar yang dianggap juara.

Setelah diundi posisi start-nya, masing-masing peserta lomba akan diarahkan untuk mengambil posisi bertanding. Biasanya setiap start diikuti oleh 2-3 perahu bidar.

Bidar yang menang akan langsung masuk ke babak semi final dan final. Sementara bidar yang kalah akan tersisih dari perlombaan. Begitu seterusnya sampai pertandingan selesai.

(MSD)