Konten dari Pengguna

Mengetahui Pengertian Prinsip Pareto, Sejarah, hingga Contohnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 6 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Prinsip Pareto adalah apa. Foto: Austin Distel/Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Prinsip Pareto adalah apa. Foto: Austin Distel/Unsplash

Daftar isi

Prinsip Pareto adalah sebuah prinsip yang berlaku di berbagai kesempatan. Bahkan, prinsip ini sering diterapkan untuk keperluan bisnis, keuangan, dan lainnya.

Prinsip Pareto juga dikenal dengan sebutan aturan 80/20. Hal tersebut karena Prinsip Pareto menyatakan bahwa dari sekian banyak kejadian, sekitar 80 persen efeknya disebabkan karena 20 persen penyebabnya.

Kabar Harian akan membagikan tentang Prinsip Pareto adalah apa, sejarah, keuntungan, cara menerapkan, dan contohnya. Jadi, simaklah artikel ini hingga habis!

Pengertian Prinsip Pareto

Ilustrasi Prinsip Pareto adalah apa. Foto: Achatnia/Pixabay

Pengertian Prinsip Pareto adalah prinsip yang menyatakan perbandingan antara 80:20 persen, di mana 80 persen adalah hasil kerja dan 20 persen sisanya adalah bentuk usaha atau kerja yang telah dilakukan.

Menurut buku Buat Apa Waktu dan Energi Kita? (Kiat Produktif Kreatif) oleh Dian Nafi pada 2023, Prinsip Pareto menggambarkan bahwa mayoritas hasil yang digambarkan sebagai 80 persen diperoleh dari minoritas upaya, yakni 20 persen yang telah dilakukan.

Tak hanya dalam bentuk distribusi 80:20, sebenarnya Prinsip Pareto juga dapat berbentuk distribusi 80:10, 80:30, atau lainnya. Mengingat, sebagian besar akibat yang dihasilkan adalah sebagian kecil penyebab.

Pada dasarnya, berdasarkan situs Kemenkeu, Prinsip Pareto mengedepankan penggunaan aset terbaik dalam sebuah entitas secara efisien untuk memberikan hasil yang maksimal.

Baca Juga: Pengertian Hukum Penawaran, Faktor, Bunyi, Rumus, Fungsi, Kurva, dan Contohnya

Sejarah Prinsip Pareto

Ilustrasi Prinsip Pareto. Foto: Pexels

Mengutip Betterexplained, Prinsip Pareto ditemukan Vilfredo Federico Damaso Pareto yang menyatakan bahwa 80 persen kekayaan penduduk Italia hanya dikuasai 20 persen penduduknya.

Hal ini kemudian menjadi temuan lain bahwa sebenarnya dalam kehidupan banyak hal tak terbagi secara merata. Misalnya, bisa saja keuntungan yang diperoleh hanya berasal dari sebagian kecil konsumen.

Sementara, mengutip Buku Saku Analisis Pareto oleh Sunarto dan Heru Santoso WN pada 2020, Prinsip Pareto dipopulerkan Joseph M Juran, seorang ahli manajemen mutu. Juran berpendapat bahwa konsep 80/20 dalam Prinsip Pareto dapat diterapkan pada semua sendi kehidupan manusia, mulai dari sosial-ekonomi, sosial-budaya, sosial-politik, dan lainnya.

Menyadur situs Kemenkeu, Joseph Juran menggunakan Prinsip Pareto saat melakukan quality control dalam produksi. Dalam penelitiannya, Juran mendemonstrasikan bahwa 80 persen produk cacat diperoleh dari 20 persen masalah dalam produksi yang kemudian dapat ditingkatkan.

Keuntungan Menggunakan Prinsip Pareto

Ilustrasi Prinsip Pareto. Foto: Austin Distel/Unsplash

Prinsip Pareto dapat digunakan untuk meningkatkan kepemimpinan yang efektif di tempat kerja. Pemimpin dapat memprioritaskan tugas untuk memastikan tim bekerja dengan efektif dan tetap fokus pada inisiatif tertentu.

Sehingga sumber daya yang dimiliki, mulai waktu, uang, persediaan, dan upaya tak terbuang sia-sia di bagian yang menghasilkan keluaran paling sedikit.

Selain itu, Prinsip Pareto dapat membantu meningkatkan laba dengan menyoroti 20 persen produk atau layanan yang menghasilkan 80 persen pendapatan, sehingga produk atau layanan tersebut dapat difokuskan dan ditawar lebih banyak.

Dari uraian tersebut, dapat disimpulkan beberapa keuntungan apabila menggunakan Prinsip Pareto. Dirangkum dari Simply Psychology, berikut keuntungan-keuntungannya:

  • Produktivitas lebih tinggi.

  • Pemanfaatan energi lebih efisien.

  • Keterampilan memecahkan masalah yang lebih baik.

  • Keterampilan pengambilan keputusan yang lebih baik.

  • Mampu menciptakan dampak yang maksimal dengan pekerjaan paling minimal.

  • Meningkatkan rasa percaya diri.

  • Prioritas yang lebih jelas.

  • Dapat membagi pekerjaan menjadi beberapa segmen yang dapat dikelola.

  • Lebih banyak waktu untuk melakukan hal-hal yang disukai.

  • Kemungkinan kecil untuk merasa jenuh.

  • Dapat mengetahui apa yang perlu diperbaiki.

Cara Menerapkan Prinsip Pareto

Ilustrasi Prinsip Pareto. Foto: Dan Dimmock/Unsplash

Ada berbagai cara untuk menerapkan Prinsip Pareto. Dengan menerapkan prinsip tersebut, diharapkan keberhasilan dapat ditemukan dalam berbagai aspek kehidupan apabila seseorang merencanakan dan menerapkan aturan 80:20.

Menyadur situs Simply Psychology, berikut ini cara menerapkan Prinsip Pareto:

1. Kejelasan

Cara menerapkan Prinsip Pareto yang pertama yakni harus memiliki kejelasan, artinya seseorang harus memiliki gagasan yang jelas tentang apa yang diinginkan.

Untuk memperoleh kejelasan adalah dengan menuliskan tujuan dan rencana untuk mencapainya. Kejelasan ini dapat membantu seseorang untuk tetap fokus pada tujuan.

2. Kompetensi

Banyak orang yang ingin menjadi kompeten dalam banyak hal, tetapi karena terlalu banyak melakukan hal tak penting, mereka tak akan pernah menjadi sangat terampil dalam satu hal.

Menerapkan kompetensi berarti seseorang dapat menjadi terampil dalam bidang-bidang utama. Hal ini bisa dilakukan dengan menerapkan Prinsip Pareto. Seseorang dapat menjadi luar biasa dalam 20 persen tugas yang berkontribusi pada 80 persen hasil.

3. Konsentrasi

Konsentrasi memerlukan disiplin diri, sehingga tetap fokus pada satu tugas hingga selesai. Untuk dapat berkonsentrasi, seseorang harus dapat meninggalkan aktivitas yang menyita terlalu banyak waktu.

Ketika sudah fokus melakukan hal yang disukai dan menjadi terampil di satu bidang, orang tersebut dapat membuat perbedaan besar dalam hidupnya.

4. Memahami Kendala

Setiap tujuan yang sedang dicapai, pasti akan selalu ada kendala yang berpotensi menghentikan seseorang menjadi produktif. Dengan begitu, dibutuhkan waktu untuk memahami apa saja yang menghalangi mencapai tujuan, apakah lingkungan atau keterampilan yang dimiliki.

Setelah mengetahui kendala tersebut, seseorang dapat mengerahkan energi untuk mengurangi kendala tersebut. Dengan begitu, orang tersebut dapat memaksimalkan waktu yang dimiliki untuk mengerjakan tugas yang paling diprioritaskan, sehingga proses mencapai sebuah tujuan akan jauh lebih lancar.

5. Mengatur Ulang Daftar Tugas

Cara mengatur ulang daftar tugas adalah dengan memasukkan apa pun dalam daftar, kemudian memilah tugas yang berprioritas tinggi. Untuk mengetahui prioritas tugas, bisa dengan memilih tugas yang harus diselesaikan dalam waktu cepat dan mengesampingkan tugas yang masih dapat ditunda.

Memilah tugas juga dapat dengan memperkirakan seberapa besar kontribusi setiap tugas terhadap tujuan keseluruhan dan berapa lama tugas tersebut diselesaikan.

Contoh Prinsip Pareto

Ilustrasi Prinsip Pareto. Foto: Mimi Thian/Unsplash

Pada dasarnya, Prinsip Pareto menggunakan waktu, uang, dan tenaga untuk mengerjakan hal-hal penting sehingga bisa mendapatkan hasil empat kali dari yang dikerjakan.

Mengutip buku Smart Leadership: Being a Leader oleh Paulus Kurniawan, dkk., berikut ini beberapa contoh penerapan Prinsip Pareto dalam kehidupan sehari-hari:

  • Pekerjaan: 20 persen yang dilakukan memberikan 80 persen bagian dari kepuasan diri sendiri.

  • Kepemimpinan: 20 persen orang mengambil 80 persen keputusan.

  • Produksi: 20 persen produksi sebuah produk dapat menghasilkan 80 persen keuntungan, 20 persen cacat sistem menyebabkan 80 persen masalah, 20 persen produk tidak beres atau jasa menimbulkan 80 persen keluhan pelanggan.

  • Perkebunan: 20 persen benih yang ditanam menghasilkan 80 persen kacang-kacangan di kebun.

  • Bacaan: 20 persen isi sebuah buku membahas 80 persen permasalahannya.

  • Berbicara: 20 persen presentasi menghasilkan 80 persen pengaruh.

  • Waktu: 20 persen waktu yang dimiliki memberikan 80 persen dari apa yang dihasilkan, 20 persen kemungkinan penundaan disebabkan karena 80 persen keterlambatan jadwal.

  • Konsultasi: 20 persen orang yang dijumpai menghabiskan 80 persen dari waktu yang dimiliki.

(NSF)