Konten dari Pengguna

Metode Dakwah Sunan Gunung Jati dalam Menyebarkan Ajaran Agama Islam

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Metode Dakwah Sunan Gunung Jati. Foto: Unsplash/Muhammad Adil
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Metode Dakwah Sunan Gunung Jati. Foto: Unsplash/Muhammad Adil

Sunan Gunung Jati, memiliki nama asli Syarif Hidayatullah, termasuk dalam kelompok wali songo yang menyebarkan ajaran Islam di pulau Jawa. Ia aktif menyebarkan agama Islam khususnya di wilayah Jawa Barat menggunakan berbagai metode. Oleh karena itu, mempelajari metode dakwah Sunan Gunung Jati sangatlah penting.

Mengutip dari buku Jalan Hidup Sunan Gunung Jati (2021), Sunan Gunung Jati memiliki peran ganda sebagai pandita-ratu, yaitu sebagai penyebar dakwah Islam dan juga sebagai raja.

Sunan Gunung Jati lahir di Mesir pada tahun 114 Masehi. Ia adalah putra Sultan Mahmud, yakni Syarif Abdullah, yang berasal dari keturunan Bani Ismail, dan Nyai Mas Rara Santang, putri Prabu Siliwangi. Sunan Gunung Jati meninggal pada usia 120 tahun dan dimakamkan di Gunung Sembung, Cirebon.

Metode Dakwah Sunan Gunung Jati

Ilustrasi Metode Dakwah Sunan Gunung Jati. Foto: Unsplash/Abdullah Faraz

Sejak kecil, Sunan Gunung Jati sudah menunjukkan pengetahuan agama yang mendalam, kecerdasan, dan wawasan yang luas. Ia menimba ilmu agama di berbagai tempat, termasuk Makkah, Baghdad, Gujarat, dan Palestina.

Selain itu, Sunan Gunung Jati belajar di Pesantren Ampel Denta di bawah bimbingan Sunan Ampel, serta belajar di Pesantren Amparanjati kepada Syaikh Datuk Kahdi, yang lebih dikenal sebagai Syaikh Nurjati.

Sebagai salah satu dari wali songo, Sunan Gunung Jati memiliki strategi yang efektif untuk mengubah kebudayaan dan peradaban masyarakat Indonesia, khususnya di wilayah Jawa Barat, menjadi bernuansa Islam.

Sunan Gunung Jati berhasil melaksanakan berbagai metode dakwah yang efektif untuk proses Islamisasi di tanah Jawa. Perannya sebagai Sultan Cirebon juga memungkinkannya untuk berdakwah secara lebih luas kepada masyarakat.

Berikut adalah berbagai metode yang digunakan Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan ajaran agama Islam:

  1. Metode muidlah hasanah atau nasihat-nasihat yang baik Dasar metode ini merujuk pada Al-Quran surat An-Nahl ayat 125 yang artinya: “Seluruh manusia kepada jalan Tuhanmu dengan hikmah dan pelajaran yang baik dan bantahlah mereka dengan cara yang baik. Sesungguhnya Tuhanmu yang lebih mengetahui tentang siapa yang tersesat dari jalan-Nya dan Dialah yang lebih mengetahui orang-orang yang mendapat petunjuk.” Banyak nasihat yang sudah diberikan Sunan Gunung Jati kepada muridnya, diantaranya yaitu: - Duweha sifat kang wani, artinya miliki sifat yang berani. - Aja ilok ngamad kang durung yakin, artinya jangan suka mencela sesuatu yang belum terbukti kebenarannya. - Den suka wenan lan suka mamberih gelis lipur, artinya jika bersedih jangan diperlihatkan agar cepat hilang. - Aja ilok ngijek rarohi ing uwong, artinya jangan suka menghina orang lain. -- - Ake lara ati ing uwong, namung saking duriat, artinya jika disakiti orang hadapilah dengan kecintaan, bukan dengan aniaya.

  2. Metode al-hikmah atau menggunakan cara-cara yang bijaksana Dakwah al-hikmah adalah metode menyampaikan dakwah dengan cara yang bijaksana dan penuh kebijaksanaan. Metode ini dilakukan agar masyarakat dapat menerima dan melaksanakan dakwah atas kemauan mereka sendiri. Sunan Gunung Jati menggunakan metode dakwah al-hikmah untuk menghadapi masyarakat awam. Dengan pendekatan yang bijaksana, ia mendekati masyarakat secara masal, yang sering menimbulkan ketertarikan dari masyarakat umum. Dengan hikmah dan kebijaksanaan, Sunan Gunung Jati mampu berdakwah menggunakan budaya lokal yang telah dimodifikasi sesuai dengan ajaran Islam.

  3. Metode tadarruj atau berjenjang, tingkatan belajar murid Metode tadarruj digunakan oleh Sunan Gunung Jati untuk mengklasifikasikan proses belajar mengajar berdasarkan tingkat pendidikan umat. Tujuannya adalah agar ajaran Islam mudah dipahami dan akhirnya dijalankan oleh masyarakat secara menyeluruh. Metode ini memperhatikan setiap jenjang, tingkat, dan bakat murid. Materi kurikulum disesuaikan dengan tahapan pendidikan, dan tradisi ini masih dipraktikkan di lingkungan pesantren hingga saat ini.

  4. Metode ta’awun atau tolong menolong dan berbagi ketugasan Metode ta’awun adalah metode kerja sama di mana setiap wali diberikan tugas spesifik dalam proses mengislamkan masyarakat di tanah Jawa. Misalnya, Sunan Gunung Jati bertanggung jawab untuk menciptakan doa dan mantra untuk pengobatan lahir batin, serta mengembangkan kegiatan yang berkaitan dengan pembukaan hutan, transmigrasi, atau pembangunan masyarakat desa.

  5. Metode musyawarah Sunan Gunung Jati sering bermusyawarah dengan anggota wali lainnya di Masjid Demak, dan disebutkan bahwa beliau juga turut membantu dalam pendirian Masjid Demak. Para wali sering berkumpul untuk bermusyawarah, membicarakan berbagai hal yang berkaitan dengan tugas dan perjuangan mereka. Selain itu, pemilihan wilayah dakwah mereka dilakukan dengan berbagai pertimbangan, memperhatikan faktor geostrategis yang sesuai dengan kondisi zaman tersebut.

  6. Pembentukan kader dai Pembentukan kader dai adalah bagian penting dari strategi Sunan Gunung Jati dalam menyebarkan agama Islam. Ini melibatkan proses pembentukan dan pelatihan kader, serta penugasan mereka sebagai juru dakwah ke berbagai daerah. Daerah yang menjadi target utama adalah daearah yang belum terpengaruh oleh ajaran agama Islam sama sekali.

Selain dikenal sebagai seorang wali dan politikus, Sunan Gunung Jati juga terkenal sebagai seorang budayawan. Sunan Gunung Jati memanfaatkan akulturasi budaya sebagai sarana untuk menyebarkan ajaran agama Islam.

Salah satu contohnya adalah penggunaan gamelan sekaten sebagai media untuk menyebarkan Islam kepada masyarakat. Sunan Gunung Jati sering memainkan gamelan sekaten pada acara keramaian, seperti Idulfitri dan Iduladha.

Masyarakat yang menyaksikan penabuhan gamelan tersebut diminta untuk membayar dengan cara yang unik, yaitu dengan mengucapkan dua kalimat syahadat, bukan dengan uang. Inilah sebabnya gamelan itu dikenal sebagai gamelan sekaten, berasal dari kata "syahadatain" yang berarti dua kalimat syahadat.

Pendekatan melalui gamelan sekaten dilakukan dengan memperhatikan prinsip-prinsip syariah, yang melarang pemaksaan dalam memeluk agama Islam.

Melalui pendekatan ini, yang ditekankan adalah mengajarkan aspek-aspek keislaman kepada masyarakat. Hal ini sesuai dengan prinsip bahwa penerimaan agama haruslah hasil dari pemahaman dan kesadaran pribadi.

Keahlian Sunan Gunung Jati

Ilustrasi Metode Dakwah Sunan Gunung Jati. Foto: Unsplash/Ahmed Sherif

Selain metode dakwah yang telah diterapkannya, Sunan Gunung Jati juga memiliki beberapa keahlian, di antaranya:

  1. Ahli Bahasa Dari kajian naskah kuno Cirebon, Sunan Gunung Jati diketahui menguasai 99 bahasa. Keahlian ini tidak hanya mencakup bahasa-bahasa dunia, tetapi juga bahasa-bahasa lokal yang digunakan di seluruh pelosok Nusantara.

  2. Ahli Ilmu Kedokteran Selain itu, Sunan Gunung Jati juga diyakini memiliki keahlian dalam ilmu kedokteran. Beliau terkenal sebagai ahli dalam mendeteksi penyakit dan memiliki pengetahuan yang luas dalam ilmu kedokteran. Suatu hari, Sunan Gunung Jati bertemu dengan seorang suami istri yang sedang bertengkar. Perut sang istri terlihat membesar, menyerupai kehamilan. Namun, setelah diperiksa, ternyata penyebab perut yang membesar tersebut adalah adanya tumor di dalam perut sang istri. Dengan keahliannya dalam ilmu kedokteran, Sunan Gunung Jati berhasil mengangkat tumor tersebut dari perut wanita tersebut, menunjukkan kemampuan luar biasanya dalam bidang kedokteran.

  3. Ahli Politik Sunan Gunung Jati memiliki pemahaman yang mendalam dalam hal politik. Beliau percaya jika wilayah Selat Sunda dikuasai oleh Portugis, maka kerajaan Islam di sekitarnya akan menjadi lemah. Oleh karena itu, Sunan Gunung Jati merencanakan untuk mengusir Portugis dari wilayah tersebut. Dengan kebijaksanaannya dalam mengelola Cirebon, Sunan Gunung Jati berhasil melemahkan kerajaan induk besar seperti Padjajaran dan mengusir Portugis dari Selat Sunda, dengan dukungan dari Kerajaan Demak. Ini menunjukkan keahliannya dalam bidang politik, di mana beliau menggunakan kekuasaannya untuk tujuan yang lebih besar, yaitu menyebarkan ajaran Islam dan melindungi kepentingan umat Islam dari ancaman luar.

  4. Ahli Strategi Sunan Gunung Jati terbukti sebagai seorang ahli strategi yang ulung dalam mempertahankan eksistensi Kesultanan Cirebon. Beliau mengambil langkah-langkah strategis dengan memperluas wilayah kekuasaannya. Sunan Gunung Jati berhasil menaklukkan beberapa kerajaan seperti Rajagaluh, Kuningan, Talaga, bahkan sampai menguasai Sunda Kalapa. Tindakan ini memperkuat posisi dan keberadaan Kesultanan Cirebon di wilayah tersebut, menunjukkan kecakapan strategis Sunan Gunung Jati dalam mengelola kekuasaan dan memperluas wilayahnya.

  5. Ahli Pendidikan Sunan Gunung Jati adalah seorang ahli dalam bidang pendidikan. Selama hidupnya, beliau sering melakukan kegiatan desa milangkori atau door to door, berdakwah dari rumah ke rumah, bahkan sampai ke pelosok desa, sambil mempromosikan kegiatan pendidikan yang bermanfaat bagi masyarakat. Melalui dakwah Islam, beliau menjadi pendidik yang mencapai hingga ke pelosok desa. Dalam upaya penyebaran Islam dan pendidikan kepada masyarakat, murid-murid Sunan Gunung Jati sering datang ke Cirebon setiap bulan untuk menghadiri kajian rutin yang diselenggarakan. Ini menunjukkan peran beliau dalam mempromosikan pendidikan dan pengetahuan agama Islam kepada masyarakat, serta komitmennya dalam mengajar dan mendidik para pengikutnya.

Dalam menyebarkan ajaran Islam, Sunan Gunung Jati memilih pendekatan yang lemah lembut dan didasarkan pada nilai-nilai kekeluargaan.

Beliau menggunakan kearifan budaya dan akhlak yang baik sebagai alat untuk membuka hati banyak masyarakat agar mau mengikuti ajarannya.

Metode dakwah Sunan Gunung Jati terbukti efektif dalam membawa umat menuju keimanan dan menerima Islam secara sukarela, damai, dan tanpa paksaan dari pihak lain.

Melihat kondisi saat ini, pendekatan dakwah yang digunakan oleh Sunan Gunung Jati masih sangat relevan untuk digunakan.

Baca Juga:

Sejarah Wali Songo yang Memiliki Ide dan Berhasil Mengembangkan Pesantren