Nilai Estetis pada Tari Bali yang Perlu Kamu Ketahui

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
ยทwaktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Bali terkenal dengan seni dan budayanya yang kental dan beragam. Ada banyak seni tari Bali yang sampai sekarang masih sering ditampilkan untuk perayaan upacara adat. Terdapat nilai estetis pada tari Bali, salah satunya ialah agem.
Mengutip buku Mandiri Belajar Tematik SD/MI Kelas 4 Semester 2 terbitan Bmedia, ciri-ciri dari gerak tarian Bali bersifat ekspresif. Tarian tersebut memperlihatkan wajah atau mimik muka serta gerak mata dengan penuh ekspresi. Ciri selanjutnya ialah gerakan yang energik, dinamis, dan selaras dengan musik pengiringnya.
Mengutip buku Siswa Seni Budaya Kelas 10 terbitan Gramedia Pustaka Utama, hal yang perlu dipahami dalam mengamati dan menilai karya tari adalah adanya faktor subjektif dan objektif.
Suatu karya seni bersifat objektif karena memiliki sifat yang melekat pada karya tersebut dan tidak terkait dengan orang yang mengamati. Keindahan karya seni bisa bersifat subjektif apabila nilai keindahan itu muncul karena adanya tanggapan perasaan atau selera dari pengamat.
Pengertian Nilai Estetis
Kata estetis berarti nilai keindahan. Dari keindahan itu akan muncul suatu nilai seni. Nilai estetis pada tari Bali dapat diperoleh melalui penglihatan atau visual serta pendengaran atau auditif.
Secara visual, nilai estetis didapat berdasarkan dari gerak yang dilakukan. Sedangkan nilai estetis secara auditif diketahui berdasarkan iringan tarinya.
Nilai estetis juga bisa dikatakan sebagai persepsi dan impresi. Impresi merupakan kesan pertama terhadap gerak yang dilihat. Sedangkan persepsi merupakan interpretasi terhadap gerak tersebut. Jadi, persepsi adalah tahap saata sensasi telah berkesan.
Nilai Estetis pada Tari Bali
Nilai estetis pada tari Bali menciptakan keindahan dalam gerakan. Untuk mengetahui nilai estetis pada tari Bali, ketahui terlebih dulu unsur keindahan dari seni tari secara umum. Mengutip laman undiksha.ac.id, berikut penjelasannya:
Wiraga, digunakan untuk menilai keterampilan menari, meliputi kebisaan menari, kecakapan menghafal gerakan, ketuntasan gerak, dan keindahan gerak.
Wirama, digunakan untuk menilai kesesuaian dan kesinambungan antara gerak dengan irama dan gerak dengan tempo.
Wirasa, digunakan untuk menilai kesesuaian gerak dengan tema tari. Biasanya dinilai dengan penjiwaan terhadap tarian.
Di dalam tari Bali itu sendiri terdapat tiga unsur penilaian wiraga, wirama, dan wirasa yang memiliki istilah khusus, yakni:
Agem adalah sikap pokok dalam tari Bali. Berdasarkan posisi berat badan, agem dibagi menjadi dua macam, yaitu agem kanan dan agem kiri. Seperti halnya pada tari-tari tradisi (klasik) lainnya, agem dalam tari Bali sudah mempunyai patokan-patokan baku, badan, tangan, dan kaki yang harus dipertahankan.
Tandang adalah gerak-gerik yang sesuai dengan watak dari tokoh yang diperankan. Yang termasuk dalam ruang lingkup tandang adalah teknik gerak dan keterampilan gerak dan kemampuan menyesuaikan gerak dengan musik pengiring tari.
Tangkep adalah ekspresi mimik wajah yang memberikan penguatan pada penjiwaan tari.
Agem, tandang, dan tangkep merupakan satu kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Ketiga faktor tersebut memiliki makna kesatuan antara wiraga, wirama, dan wirasa. Sehingga secara keseluruhan tarian tersebut akan menjadi lebih indah.
(ZHR)
