Pendekatan Marginal Utility dalam Teori Perilaku Konsumen

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Istilah pendekatan marginal utility dikenal dalam bidang ekonomi, tepatnya pada teori perilaku konsumen. Pada dasarnya, pengguna memiliki perilaku untuk memanfaatkan uangnya seefektif maupun seekonomis mungkin. Namun, banyak juga konsumen yang tidak menerapkan hal tersebut.
Penyebabnya bisa datang dari pengetahuan yang terbatas terhadap suatu kualitas produk, kecenderungan tak acuh pada harga pasar, hingga tradisi kuat yang memengaruhi perilaku konsumen.
Pendekatan Marginal Utility dalam Teori Perilaku Konsumen
Mengutip dari buku berjudul Ekonomi Jilid 1 untuk SMA dan MA Kelas X yang ditulis Ismawanto, perilaku konsumen sangat dipengaruhi oleh hukum permintaan yang menyebutkan bahwa bila harga naik permintaan turun. Sebaliknya, jika harga turun, permintaan naik, dengan catatan keadaan yang lain ceteris paribus.
Ada dua pendekatan terhadap perilaku konsumen seperti yang telah disebutkan dalam hukum permintaan, antara lain sebagai berikut.
1. Pendekatan marginal utility
Menurur Modul Ekonomi Mikro yang ditulis Posma Sariguna Johnson Kennedy, pendekatan marginal utility (MU) adalah pertambahan kepuasan yang diperoleh saat menambah suatu barang atau jasa.
Utilitas marginal menunjukkan manfaat tambahan yang diperoleh setelah mengonsumsi atau memakai satu unit tambahan dari suatu komoditas.
Pendekatan ini bertitik tolak pada anggapan bahwa kepuasan (utility) setiap konsumen bisa diukur dengan uang atau dengan satuan lain, sehingga konsumen selalu berusaha mencapai kepuasan total yang maksimum.
2. Pendekatan kurva indiferen (Indifference Curve)
Kurva indiferen adalah kurva yang menunjukkan kombinasi konsumen antara dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi konsumen. Kurva jenis ini memiliki ciri, yaitu:
Mempunyai kemiringan (slope) negatif dari kiri atas ke kanan bawah.
Bila kedudukannya lebih tinggi, itu menunjukkan tingkat kepuasan yang semakin tinggi.
Tak pernah saling berpotongan dengan kurva indiferen yang lain.
Cembung ke titik asal (titik 0).
Pendekatan Kardinal dan Ordinal
Mengutip dari buku Ekonomi untuk SMA/MA Kelas X yang ditulis Supriyanto dan Ali Muhson, terdapat dua pendekatan teori untuk menjelaskan perilaku konsumen dalam memperoleh kepuasan terhadap barang dan jasa yang dikonsumsi. Berikut penjelasan selengkapnya.
1. Pendekatan kardinal
Pendekatan kardinal menganggap bahwa kepuasan konsumen yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan jasa dapat diukur secara kuantitatif. Artinya kepuasan konsumen dapat diukur dengan angka sebagaimana mengukur berat badan, tinggi badan, dan sebagainya.
Kepuasan konsumen yang diperoleh dari hasil konsumsi produk disebut dengan istilah utilitas (utility). Oleh karena itu pendekatan kardinal juga disebut dengan pendekatan utilitas (utility approach).
2. Pendekatan ordinal
Pendekatan ordinal menggunakan pengukuran bertingkat untuk menganalisis kepuasan konsumen. Faktor tersebut tak dapat diukur dengan angka, tetapi hanya dapat diukur dengan peringkat. Misalnya, tidak puas, puas, lebih puas, sangat puas, dan seterusnya.
Pendekatan ini memiliki anggapan yang berbeda dengan pendekatan kardinal. Pendekatan ordinal tak menganggap bahwa tingkat utilitas dapat diukur dengan angka karena konsumen hanya memiliki skala preferensi.
(AMP)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan marginal utility?

Apa yang dimaksud dengan marginal utility?
Manfaat tambahan yang diperoleh setelah mengonsumsi atau memakai satu unit tambahan dari suatu komoditas.
Apa yang dimaksud dengan kurva indiferen?

Apa yang dimaksud dengan kurva indiferen?
Kurva yang menunjukkan kombinasi konsumen antara dua macam barang yang memberikan tingkat kepuasan sama bagi konsumen.
Apa yang dimaksud dengan pendekatan kardinal?

Apa yang dimaksud dengan pendekatan kardinal?
Kepuasan konsumen yang diperoleh dari kegiatan konsumsi barang dan jasa dapat diukur secara kuantitatif.
