Penemuan Partikel Dasar Penyusun Atom dan Bagian-bagiannya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Apa yang melatarbelakangi penemuan partikel dasar penyusun atom? Kata “atom” sendiri berasal dari kata Yunani “Atomos” yang artinya tidak dapat dibagi. Lebih jelasnya, ketahui terlebih dahulu apa itu atom dan teori pembentukannya.
Menurut buku Cepat Tuntas Kuasai Kimia SMP oleh Dian Wuri Astuti, S.Si (2010: 80), atom adalah benda-benda yang terdiri dari partikel yang sangat kecil, tidak dapat dilihat, tidak dapat dibagi, dan tidak dapat dimusnahkan.
John Dalton (1766-1844) yang merupakan ahli kimia dan fisika, menyusun teori atom yang dikenal dengan Teori Atom Dalton. Adapun poin-poin utama yang Dalton sampaikan, yaitu:
Atom adalah materi yang terdiri dari partikel-partikel terkecil dan tidak dapat dibagi lagi.
Atom-atom satu unsur sama dalam segala hal, tetapi berbeda dari atom-atom unsur lain.
Atom-atom dapat bergabung satu sama lain secara kimia dan membentuk molekul dengan perbandingan sederhana.
Senyawa merupakan hasil reaksi dari atom-atom penyusunnya.
Atom suatu unsur adalah permanen, artinya tidak dapat diuraikan, tidak dapat diciptakan, dan tidak dapat dimusnahkan.
Teori Atom Dalton merupakan dasar perkembangan teori atom modern. Dirangkum dari buku Belajar Kimia secara Menarik untuk SMA karya Das Salirawati dkk (2008: 05), simak penjelasan lengkapnya berikut ini.
Latar Belakang Teori Atom Modern
Teori Atom Dalton-lah yang melatarbelakangi kemunculan teori atom modern yang berisi penemuan partikel dasar penyusun atom.
Teori atom modern menyatakan bahwa atom mempunyai bagian-bagian yang lebih kecil lagi yang disebut partikel dasar penyusun atom, yaitu Elektron, Proton, dan Neutron.
Kemunculan teori atom modern membuat para ahli yakin, ternyata atom bukanlah partikel yang tidak dapat dibagi lagi. Atom mempunyai bagian-bagian yang lebih kecil lagi. Namun, istilah atom tetap digunakan dan penemuan teori ini tidak sampai memperkecil nilai teori atom Dalton.
Lantas, apa perbedaan Elektron, Proton, dan Neutron?
Elektron
Penemuan Elektron berkaitan dengan percobaan tentang hantaran listrik melalui tabung hampa yang dilakukan J.J Thomson. Ia melakukan percobaan sinar katode, dengan mengamati dua pelat elektrode dalam tabung vakum.
Ketika dua pelat elektrode tersebut dihubungkan dengan sumber tegangan tinggi, dari elektrode negatif (katode) menjalar sinar menuju ke elektrode positif (anode), sinar yang keluar dari katode disebut sinar katode dan tabung vakum disebut tabung sinar katode.
Dari eksperimen tersebut, diperoleh kesimpulan bahwa Elektron adalah komponen dasar dari semua atom.
Proton
Eugen Goldstein (1886) melakukan percobaan dengan menggunakan tabung sinar katode dan menemukan partikel jenis baru dari atom yang disebut sinar positif atau sinar anode.
Hasil percobaan menunjukkan, sinar katode merupakan radiasi partikel yang bermuatan positif, yang bergantung pada jenis gas dalam tabung.
Dalam eksperimennya tersebut, Goldstein menemukan tiga sifat Proton, yaitu:
Proton ditemukan ketika hidrogen digunakan di dalam tabung lucutan.
Dalam hal hidrogen e/m adalah maksimum dan e = 1,622 x 10-19 C dan m = 1,67 x 10-27 kg.
Proton menanggung muatan positif satu unit yang 1837 kali lebih berat dari pada elektron.
Neutron
Pada tahun 1920, Rutherford mengajukan hipotesis bahwa dalam inti atom harus ada partikel tidak bermuatan yang massanya hampir menyerupai massa Proton.
Hipotesis Rutherford berhasil dibuktikan oleh James Chadwik dengan eksperimen yang dilakukannya, yaitu dengan menembaki atom berilium dengan sinar alfa.
Hasil penembakan tersebut terdeteksi partikel tidak bermuatan yang memiliki massa yang hampir sama dengan Proton. Sebab bersifat netral, partikel tersebut dinamakan Neutron dan tergolong partikel dasar.
(VIO)
