Konten dari Pengguna

Pengertian dan Contoh Paper Kuliah untuk Referensi

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 10 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi sedang membuat paper kuliah. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi sedang membuat paper kuliah. Foto: Pixabay

Dalam perkuliahan, mahasiswa sering kali diberi tugas untuk membuat paper. Meski demikian, tidak sedikit mahasiswa yang masih belum mengetahui cara membuat paper. Karenanya, contoh paper kuliah kerap dibutuhkan oleh para mahasiswa untuk dijadikan referensi.

Menurut para ahli dalam buku Teknik Penulisan Karya Tulis Ilmiah terbitan CV. DOTPLUS Publisher, paper adalah karya tulis ilmiah yang mengkaji suatu topik berdasarkan pendapat para ahli, observasi, dan sumber bacaan yang ditulis secara singkat.

Paper juga biasa disebut sebagai ringkasan dari penelitian yang telah dibuat. Tidak banyak perbedaan antara paper dengan makalah, hanya sistematika penulisannya dan pembahasannya yang berbeda.

Selain itu, pembahasan dalam paper juga lebih singkat, karena hanya terfokus pada analisis masalah. Bagi mahasiswa yang sedang membutuhkan referensi, simak contoh paper kuliah di bawah ini.

Kumpulan Contoh Paper Kuliah

Ilustrasi sedang membuat paper kuliah. Foto: Pixabay

Berikut contoh paper kuliah, seperti dikutip dari buku Cerdas Menulis Karya Ilmiah oleh Prof. Dr. Suyono, M.Pd, Rizka Amaliah, M.Pd., Dewi Ariani, S.S., S.Pd., M.Pd., Ariva Luciandika, M.Pd.

Contoh 1

PERAN PENGELOLA PERPUSTAKAAN DALAM MENDUKUNG MAKASSAR SMART CITY

A. Latar Belakang

Tidak bisa dipungkiri bahwa perkembangan ilmu pengetahuan dan teknologi telah membawa perubahan di hampir semua aspek kehidupan manusia. Berbagai permasalahan dapat dipecahkan dengan upaya penguasaan dan peningkatan ilmu pengetahuan dan teknologi.

Selain bermanfaat, perubahan tersebut juga telah membawa manusia ke era persaingan global yang semakin ketat. Sebagai bangsa, kita perlu terus mengembangkan dan meningkatkan kualitas sumber daya manusia.

Oleh karena itu, peningkatan kualitas sumber daya Imanusia harus dilakukan secara terencana, terarah, intensif, efektif, dan efisien dalam proses pembangunan, agar mampu bersaing dalam era globalisasi tersebut.

Seiring dengan kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi dalam era globalisasi dan informasi saat ini semakin maju dan ledakan publikasi cetak dan non cetak tersebar secara luas dan menglobal.

Perpustakaan sudah selayaknya menjadi mediator dan pelayan dalam melayani proses penyediaan sumber informasi yang strategis, sehingga peranan perpustakaan lebih dibutuhkan dalam masyarakat di masa kini dan masa akan datang.

Mengapa demikian? Karena di era globalisasi dan informasi peran perpustakaan menjadi sangat penting karena melimpahnya arus informasi yang datangnya dari berbagai penjuru dunia.

Dunia sudah tidak lagi dibatasi oleh ruang dan waktu, maka informasi dapat datang dari mana dan kapan saja. Hal ini menuntut pengelola perpustakaan untuk dapat memilah dan memilih mana informasi yang sesuai dengan kebutuhan dan mana yang tidak. Di sinilah titik sentral kepiawaian peran yang dimainkan pengelola perpustakaan.

B. Kota Pintar

Seiring dengan meningkatnya jumlah penduduk serta kompleksnya berbagai lini kehidupan dalam masyarakat. Hal ini menjadi sebuah tantangan besar bagi pemerintah kota demi mewujudkan sebuah kota yang mampu memberikan kenyamanan bagi seluruh warganya.

Banyak kota kemudian berlomba-lomba mengusung konsep smartcity sebagai langkah besar demi kemajuan di kota tersebut. Kota Makassar sebagai salah satu kota besar di Indonesia turut mengambil bagian penting dalam perkembangannya yang ada sekarang menuju smart city dengan tagline "Makassar Kota Dunia".

Namun demikian, perlu dijelaskan apa yang dimaksud dengan smart city dan apa ciri sebuah kota bisa disebut smart city? Smart city secara sederhana disebut juga kota "cerdas".

Smart city mengacu kepada konsep kota cerdas atau pintar yang membantu masyarakat yang berada di dalamnya dengan mengelola sumber daya yang ada dengan efisien dan memberikan informasi yang tepat kepada masyarakat atau lembaga dalam melakukan kegiatannya atau pun mengantisipasi kejadian yang tidak terduga sebelumnya.

Konsep smart city ini merupakan sebuah impian dari semua kota besar di seluruh dunia, termasuk Kota Makassar. Untuk menjadi sebuah kota yang "cerdas" atau berjuluk smart city, setidaknya ada 5 (lima) ciri yang harus melekat pada kota tersebut.

Kelima ciri itu antara lain: (1) kota yang berdaya tahan (resilient city), (2) kota efisien (efficient city), (3) kota berkelanjutan (sustainable city), (4) kota yang ramah lingkungan (eco city), (5) kota yang layak hidup (liveable city). Menurut Anda, sudah berapa ciri yang bisa dimiliki untuk mewujudkan Makassar Kota Pintar.

C. Pengelola Perpustakaan

Dalam Undang-Undang Perpustakaan (UU No. 43 Tahun 2007) disebutkan, bahwa perpustakaan adalah institusi pengelola koleksi karya tulis, karya cetak, dan/atau karya rekam secara profesional dengan sistem yang baku guna memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi para pemustaka.

Sesuai dengan unsur pengertian bahwa di dalam perpustakaan terdapat koleksi yang digunakan untuk keperluan pendidikan, penelitian, bacaan umum dan lain-lainnya, maka perpustakaan mempunyai pelbagai macam fungsi seperti yang tertera dalam pasal 3 UU no. 43 Tahun 2017, yang disebutkan bahwa "perpustakaan berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa."

Dengan demikian, pengelola perpustakaan mengacu kepada pihak-pihak (orang/sekelompok orang) yang berada dalam institusi yang memang mempunyai tugas mengelola (to manage) semua koleksi yang dimilikinya secara profesional dalam memenuhi kebutuhan pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa.

D. Peran Pengelola Perpustakaan

Dalam Mendukung Makassar Smart City Perpustakaan sebagai wadah dari sejumlah informasi harus dapat melaksanakan fungsinya dengan baik. Informasi itu tidak lagi berupa hard file tapi juga sudah berbentuk soft file.

Dilihat dari fungsinya perpustakaan tidak hanya sebagai penampung dari sejumlah informasi tapi harus pandai pula mengolah dan menyalurkan kembali kepada penggunanya.

Untuk bisa menjalankan fungsi perpustakaan dengan baik, maka tentunya pihak-pihak yang ada di dalam sebuah instansi/lembaga perpustakaan sebagai pengelola perpustakaan harus bisa dan mampu bekerja secara profesional utamanya dalam hal penggunaan teknologi dan membangun sistem informasi perpustakaan, yang kesemuanya ini akan mendorong terwujudnya Makassar Smart City.

Oleh karena itu, secara garis besar peran pengelola perpustakaan dalam mendukung Makassar Smart City diuraikan sebagai berikut:

1. Meningkatkan Kemampuan Penggunaan Teknologi

Siapapun pihak yang berkecimpung dalam sebuah instansi/lembaga/organisasi yang terkait dengan perpustakaan, mereka itulah pengelola perpustakaan dan tentunya harus mampu menggunakan teknologi.

Betapa tidak, suka atau tidak suka pengelola perpustakaan harus mampu meningkatkan peran dalam memanfaatkan teknologi untuk menjalankan fungsinya berupa mengumpulkan, mengolah, melestarikan dan menyebarkan informasi.

2. Membangun Sistem Informasi Perpustakaan (SIP)

Peran yang harus dilakukan pengelola perpustakaan dalam mendukung Makassar Smart City adalah membangun sistem informasi perpustakaan. Wujud nyata dari sistem informasi perpustakaan ini adalah tersedianya pangkalan data (data base) perpustakaan.

Data base yang dimaksudkan adalah sekumpulan data yang saling berhubung antara satu dengan yang lainnya yang tersimpan dalam perangkat keras komputer dan digunakan perangkat lunak yang saling terkait (link) sehingga memudahkan aktivitas untuk memperoleh informasi.

Hal yang penting dari kehadiran data base ini adalah adanya file-file yang saling terkait atau terhubung antara satu dengan yang lain, yang digunakan untuk memperoleh informasi.

E. Penutup

Rekam jejak Kota Makassar dalam sejarah sudah banyak memberikan kontribusi dalam berbagai aspek kehidupan. Oleh karena itu, tidaklah berlebihan apabila kebijakan Pemerintah Kota Makassar untuk menatanya menjadi sebuah kota impian, yaitu Makassar Smart City, "Makassar Kota Dunia" ditindaklanjuti oleh semua instansi/lembaga dan seluruh komponen masyarakat.

Dinas Perpustakaan Kota Makassar sebagai instansi yang banyak mempunyai tugas dan tanggungjawab dalam mewujudkan Makassar Smart City tentunya harus menunjukkan peran yang lebih dari instansi lain.

Karena di instansi inilah kebutuhan akan data/informasi yang cepat, tepat, akurat, efisien, nyaman yang berfungsi sebagai wahana pendidikan, penelitian, pelestarian, informasi, dan rekreasi untuk meningkatkan kecerdasan dan keberdayaan bangsa, dapat dengan mudah diakses kapan dan di mana saja. Inilah yang harus senantiasa dilakukan dan disosialisasikan secara intensif.

(Paper yang disajikan dalam Bimbingan Teknik Pengelolaan dan Pelestarian Bahan Pustaka Angakatan V Bagi Pengelola Perpusakaan yang diselenggarakan oleh Dinas Perpustakaan Kota Makassar di Hotel Grand Celino, tanggal 19 Juli 2017)

Contoh 2

Selain contoh di atas, ada juga contoh paper kuliah lainnya, seperti dihimpun dari buku KUPATAU (Kumpulan Opini, Artikel, Esai, dan Makalah Kepenulisan) karya Asosiasi Guru Penulis Indonesia Cabang Makassar.

MEMAKNAI GURU PEMBELAJAR

A. Pendahuluan

Tidak bisa dipungkiri bahwa era globalisasi yang ditandai dengan kompleksitasnya kehidupan masyarakat dan semakin canggihnya penggunaan teknologi informasi menuntut aktivitas hidup lebih banyak bermula dan berlangsung pada interaksi antarindividu.

Setiap individu dalam era globalisasi seperti sekarang ini khususnya dalam dunia pendidikan dituntut mengembangkan kapasitasnya secara, optimal kreatif dan mengadaptasikan diri ke dalam situasi global yang amat bervariasi dan cepat berubah.

Selain itu dituntut pula memiliki nalar kreatif dan kepribadian yang tidak simpel, melainkan kompleks. Oleh karena itu, setiap individu sangat diharapkan memiliki strategi adaptif yang diwujudkan dalam bentuk kepemilikan keterampilan intelektual, keterampilan sosial, dan keterampilan personal.

B. Permasalahan

Masyarakat sering menuntut adanya keprofesionalan seorang guru dalam hal mengajar misalnya bilamana terkait dengan ketidakmampuan atau ketidakberhasilan seorang siswa dalam mencapai tingkat pendidikan yang diinginkan?

Hal ini harus diakui bahwa profesi guru memang masih ada yang memandang sebelah mata, konkritnya tanyakan kepada siswa SMA di wilayah perkotaan misalnya berapa yang mau menjadi guru?

Kenyataan ini masih tetap muncul karena masih adanya pandangan sebagian masyarakat bahwa siapa pun dapat menjadi guru, asalkan ia berpengetahuan.

Berdasarkan identifikasi masalah yang diuraikan di atas, maka yang menjadi masalah dalam tulisan ini adalah:

1. Bagaimana perubahan paradigma peningkatan kapasitas GTK?

2. Bagaimana kesiapan GTK dalam menghadapi perubahan teknologi?

3. Bagaimana bentuk modalitas GTK pembelajar?

C. Konsep Profesi, Profesional, dan Profesionalisme

Profesi merujuk pada suatu pekerjaan atau jabatan yang menuntut keahlian, tanggungjawab, dan kesetiaan. Secara teori, profesi tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang yang tidak terlatih atau disiapkan untuk pekerjaan itu.

Dalam hal ini, guru sebagai profesi tentunya memerlukan keahlian khusus yang mana tidak dapat dilakukan oleh sembarang orang di luar bidang kependidikan. Itulah sebabnya profesi guru paling mudah terkena pencemaran.

Profesional merujuk pada penampilan seseorang sesuai dengan tuntutan atau bidang pekerjaannya. Profesional dapat pula menunjukkan orangnya atau performance dari orang itu sendiri.

Berdasarkan pengertian ini, dapat disimpulkan bahwa pekerjaan. profesional berbeda dengan pekerjan lainnya karena suatu profesi memerlukan kemampuan dan keahlian khusus dalam melaksanakan profesinya.

Dengan kata lain, pekerjaan yang bersifat profesional adalah pekerjaan yang hanya dapat dilakukan oleh mereka yang khusus dipersiapkan untuk itu dan bukan pekerjaan yang dilakukan oleh mereka yang karena tidak memperoleh pekerjaan lain, apalagi orang yang kebetulan jadi guru, tentunya sudah jauh dari apa yang disebut dengan guru yang profesional.

Selanjutnya, profesionalisme merujuk kepada tingkatan keterampilan yang diraih seseorang sebagai orang yang profesional. Tingkatan ini ada yang profesionalismenya tinggi, sedang, dan rendah

D. Solusi

Bertitik tolak dari pembahasan di atas, maka penulis mengajukan solusi bahwa untuk menjadi GTK Pembelajar yang profesional, dituntut memiliki perhatian pada empat hal, yaitu:

1. Komitmen kepada siswa dan proses belajar mengajar; Ini berarti bahwa komitmen tertinggi guru adalah kepada kepentingan siswa. Artinya GTK Pembelajar harus menanamkan komitmen bahwa ia adalah bagian dari peserta didik dan peserta didik juga akan merasa bahwa ia adalah bagian dari guru, sehingga tercipta sense of belonging dalam setiap proses belajar mengajar;

2. Menguasai secara mendalam materi pelajaran serta bagaimana cara mengajarkannya. Konsep ini lebih diuraikan dalam bentuk pemetaan atau memetakan materi yang akan diajarkan dengan berbagai sumber informasi pendukung termasuk harus mampu menyelami pola belajar dan inilah yang penulis sebut dengan masuk dalam "dunia" peserta didik yang diajarkan;

3. Mampu berpikir sistematis tentang apa yang dilakukannya dan mau belajar dari pengalamannya. Artinya guru harus melakukan refleksi pengajaran dan koreksi terhadap apa yang telah dilakukannya;

4. Sesama GTK Pembelajar harus dapat saling memperkaya satu sama lain melalui presentasi pengalaman atau hasil penelitian yang dilakukan dalam suatu diskusi, seminar, simposium, dan sejenisnya. Oleh penulis, lebih mengartikan kepada adanya uji petik kepada guru-guru yang telah mengajar dalam suatu sekolah oleh pihak atasan yang berkompeten.

E. Kesimpulan dan Harapan

Dari uraian di atas, disimpulkan bahwa keprofesionalan seharusnya dimiliki oleh seorang GTK Pembelajar. Perkembangan iptek dan globalisasi yang sangat cepat mengharuskan GTK Pembelajar untuk meningkatkan dan mengembangkan keahliannya.

Tugas dan kewajiban GTK Pembelajar kini semakin kompleks dan menantang. Dalam kondisi demikian, GTK Pembelajar dipacu untuk terus meningkatkan kemampuan profesinya, baik secara individu maupun kelompok.

Baca Juga: Contoh dan Cara Membuat Cover Makalah yang Menarik

(NDA)