Konten dari Pengguna

Pengertian dan Tata Cara Tawasul Maulid Simtudurror

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi tawasul Maulid Simtudduror. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi tawasul Maulid Simtudduror. Foto: Unsplash.

Pembacaan maulid Simtudduror biasanya didahului dengan membaca doa dan bertawasul. Tawasul Maulid Simtudurror dilakukan dengan mengirim Surat Al Fatihah kepada Nabi Muhammad.

Maulid Simtudduror ditulis oleh Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsy. Kitab rawi dengan judul asli "Simtudduror Fi Akhbar Maulid Khairil Basyar min Akhlaqi wa Aushaafi Wa Siyar" ini mengisahkan perjalanan hidup, shalawat, serta puji-pujian kepada Rasulullah.

Syair-syair dalam Kitab Simtudduror ditulis dengan bahasa yang indah dan penuh makna, namun masih bisa dimengerti oleh pembacanya. Karenanya, kitab maulid ini sangat populer di Indonesia dan hampir selalu dilantunkan dalam setiap perayaan Maulid Nabi.

Sebelum membaca maulid Simtudduror biasanya diawali dengan pembacaan doa dan tawasul. Bagaimana bacaannya? Simak ulasannya dalam artikel berikut.

Pengertian Tawassul

Ilustrasi tawasul Maulid Simtudduror. Foto: Unsplash.

Sebelum mengetahui cara membaca tawasul Maulid Simtudduror, penting untuk mengetahui apa itu tawasul terlebih dahulu. Secara etimologis, tawasul adalah masdar dari kata tawassala yatawassalu yang artinya menjadikan satu wasilah (perantara) untuk mencapai sesuatu yang dituju.

Sementara menurut syariat Islam, tawasul adalah tawqarub, yakni mendekatkan diri kepada Allah, mengerjakan perintah-Nya dengan ilmu dan ibadah, serta mengukur diri sesuai dengan syariat Islam.

Adapun perintah untuk mencari wasilah dijelaskan dalam Surat Al Maidah ayat 35. Allah SWT berfirman yang artinya, "Hai orang-orang yang beriman bertakwalah kalian kepada Allah dan carilah jalan yang mendekatkan diri (wasilah) kepada-Nya, dan berjihadlah pada jalan-Nya, supaya kamu mendapat keberuntungan."

Secara garis besar, tawasul dapat dikelompokkan ke dalam dua bentuk. Pertama, tawasul melalui orang-orang yang dekat dan dikasihi oleh Allah, seperti Rasulullah, para rasul, para wali, atau orang-orang saleh.

Mengutip buku Dzikir Agung Para Wali Allah yang ditulis M N Ibad, tawassul dalam bentuk ini diwujudkan dengan cara mengirimkan bacaan al-Fatihah, ayat kursi, tahlil, hingga shalawat. Sementara bentuk kedua, adalah tawasul melalui amalan-amalan kebaikan yang telah dilakukan di masa lalu.

Namun, banyak yang keliru mengartikan ‘perantara’ dalam tawasul sehingga praktiknya menjadi syirik. Misalnya, meminta didoakan ulama atau memohon sesuatu di makam para wali.

Karenanya, umat Muslim perlu memegang teguh prinsip-prinsip bertawasul agar tidak jatuh pada kemusyrikan. Ada tiga prinsip bertawasul, yakni tidak meyakini bahwa para nabi, wali, atau siapa saja yang ditawasuli adalah tempat memohon karena hanya Allah-lah tempat memohon dan Dzat Yang Maha Mengabulkan Permohonan.

Kedua, menyadari bahwa bertawasul adalah cara memohon kepada Allah yang lebih sopan. Dan yang ketiga, menyadari sepenuhnya bahwa sebenarnya seluruh anugerah Allah yang tercurah kepada makhluk-Nya selalu melalui sebuah perantara.

Tawasul Maulid Simtuduror

Ilustrasi tawasul Maulid Simtudurror. Foto: Unsplash.

Bacaan tawasul Maulid Simtudduror dilakukan dengan membaca Surat Al Fatihah untuk Rasulullah, para wali, dan pengarang kitab Maulid Simtudduror, yakni Habib Ali bin Muhammad bin Husein Al Habsy.

Berikut tata cara mengirim Surat Al Fatihah kepada Rasulullah:

Membaca Alfatihah untuk Rasulullah yang diwali dengan bacaan

Ila hadrotinn nabiyyil musthofa, Muhammad shollalloohu 'alaihi wasallam. Altihaaah.

Membaca Surat Al Fatihah untuk sahabat nabi dan para malaikat dengan diawali bacaan berikut:

Summa ila hadroti jami-‘i ash-habi rosulillahi shollallahu alaihi wasalam, khusushon sayyidina Abu Bakar Shidiq wa ‘Umarobnil-Khothob, wa ‘Utsmanabni ‘Affan, wa ‘Ali bin Abi Tholib wa ‘ala baqiyati min shohabatihi ajma’iin, wa ila jami’il-anbiya-i, wal mursalin, was Syuhadaa-i, was-Sholihin, wal-‘ulamaa-il-‘aamilin, wal-Malaa-ikatil-Muqorrobin, wal-Karubiyyin, war-Ruhaniyyin, wal-Karomal-Kaatibin wa li sayyidina Malaa-ikati: Jibril, Mika-il, Isrofil, ‘Izro-il, wa hamalatil-‘arsyi ‘alaihimussalam ajma’iin. Syai-u lillahi lahumul Faatihah, (baca surat al-Fatihah).

Kemudian membaca Al Fatihah untuk para ulama termasuk pengarang kitab Simtudurror yang telah wafat dengan diawali dengan doa berikut:

Tsumma ilaa jamii'i ahlul qubuur. Minal muslimiina wal muslimaat. Wal mu-miniina wal mu-minaat. Min masyaariqil Ardhi ilaa maghooribihaa. Khushuushon abaa-anaa wa ummahaatinaa. Wa ajdaa danaa wa jaddaatinaa. Wa masyaa yikhanaa wa masyayikha masyaa yikhinaa. Lahumul Fatihaah.

(GLW)