Pengertian Majas, Fungsi, dan Jenis-jenisnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian majas secara umum adalah gaya bahasa yang menggunakan kiasan. Majas digunakan untuk memberikan efek artistik pada puisi atau prosa, sehingga penulis dapat mengekspresikan perasaan dan isi pikirannya.
Ada banyak jenis majas yang digunakan untuk merangkai kata. Simak penjelasan lengkap tentang pengertian majas, fungsi, dan jenis-jenisnya berikut ini.
Pengertian Majas
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI), pengertian majas adalah cara melukiskan sesuatu dengan jalan menyamakannya dengan sesuatu yang lain. Majas dapat diartikan sebagai kiasan.
Sementara itu, mengutip artikel ilmiah berjudul Majas dalam Kumpulan Puisi dan Pembelajarannya di SMA oleh Ratih Amalia Wulandari, dkk., Universitas Lampung, majas adalah salah satu unsur fisik puisi yang dapat membangun nilai keindahan atau estetik suatu karya sastra.
Dalam artikel tersebut juga disebutkan bahwa majas adalah bahasa indah yang digunakan untuk meningkatkan efek dengan jalan memperkenalkan serta membandingkan suatu benda atau hal tertentu dengan benda atau hal lain yang lebih umum.
Fungsi majas dalam puisi dimaksudkan untuk menjadikan puisi agar lebih indah, menarik, dan kaya makna. Namun, majas tak hanya digunakan dalam puisi, tetapi juga cerita pendek, novel, pidato, bahkan percakapan sehari-hari.
Baca Juga: Kalimat Utama: Pengertian, Ciri-Ciri, dan Contohnya
Fungsi Majas
Majas memiliki beberapa fungsi yang penting dalam bahasa dan sastra. Disadur dari situs uma.ac.id, berikut ini sederet fungsi majas:
1. Meningkatkan Kreativitas
Penulis sastra atau pembicara dapat menggunakan majas yang membuat mereka bisa memainkan kata-kata serta menciptakan bahasa yang indah dan penuh warna.
2. Memperkaya Bahasa
Dengan adanya majas, ungkapan dalam bahasa Indonesia menjadi semakin banyak. Majas menambah kedalaman dan nuansa pada bahasa serta membuatnya lebih menarik dan ekspresif.
3. Meningkatkan Daya Tarik
Fungsi majas yang selanjutnya adalah untuk menarik perhatian pembaca atau audiens. Dengan adanya majas, pidato atau puisi menjadi lebih menarik.
4. Menambah Kekuatan Persuasi
Dalam sebuah retorika atau seni berbicara, penggunaan majas bisa meningkatkan daya persuasi dalam pidato. Majas juga bisa menambah kekuatan persuasi meskipun dalam bentuk tulisan.
5. Memunculkan Emosi
Majas sering kali digunakan untuk memunculkan emosi dalam sebuah karya sastra. Penulis dapat menggambarkan perasaan tokoh atau dirinya saat menulis kepada pembaca atau pendengar dengan majas, sehingga karya tersebut lebih terasa dramatis.
6. Mempermudah Pemahaman
Terkadang, karya dalam bentuk tulisan cukup sulit untuk dipahami. Dengan beberapa majas, seperti metafora, dapat mempermudah penulis menjelaskan konsep yang kompleks dengan cara yang mudah dimengerti.
Jenis-Jenis Majas
Seperti yang sudah dijelaskan di atas, majas merupakan cara penulis melukiskan sesuatu dengan cara yang lebih indah. Ada beberapa jenis majas dalam bahasa Indonesia.
Merangkum buku Persuasive Copywriting, Sebuah Seni Menjual Melalui Penulisan oleh Febri Asiani, berikut ini jenis-jenis majas.
1. Majas Perbandingan
Jenis pertama adalah majas perbandingan. Majas ini digunakan dengan membandingkan objek satu dengan lainnya, yaitu dengan menyamakan, mengganti, atau melebihkan. Majas perbandingan sendiri memiliki beberapa jenis, yaitu:
Majas personifikasi: majas yang membandingkan benda mati dengan manusia. Misalnya: patung tersebut seolah menyambut pengunjung yang masuk ke museum.
Majas hiperbola: majas yang mengungkapkan sesuatu dengan berlebihan. Misalnya: Andi berlari secepat kilat karena teringat belum mematikan kipas angin.
Majas metafora: majas yang membandingkan suatu objek dengan objek lain yang sifatnya serupa, tetapi bukan manusia. Misalnya: ketua kelas MIPA II dikenal sebagai sosok yang kutu buku di sekolah.
Majas alegori: majas yang membandingkan suatu objek dengan kata-kata kiasan bermakna konotasi atau ungkapan. Misalnya: hidup ini seperti roda, kadang berada di atas, kadang di bawah.
2. Majas Pertentangan
Jenis majas selanjutnya adalah majas pertentangan. Sesuai dengan namanya, majas ini menggunakan kata-kata kiasan yang bertentangan dengan maksud sebenarnya.
Sama seperti majas perbandingan, ada beberapa jenis majas pertentangan. Berikut uraiannya:
Majas litotes: majas yang menggunakan ungkapan untuk merendahkan diri tetapi pada kenyataannya tak sesuai dengan yang dikatakan. Misalnya: maukah kamu mampir ke gubuk kami yang sederhana?
Majas antitesis: majas yang memadukan pasangan kata yang memiliki arti bertentangan. Misalnya: ayah bekerja siang malam demi menghidupi keluarganya.
Majas paradoks: majas yang menggunakan ungkapan untuk membandingkan situasi asli atau fakta dengan situasi yang berkebalikan. Misalnya: ucapan tante Dewi begitu lembut, tetapi sangat menyayat hati.
3. Majas Sindiran
Majas sindiran adalah majas yang menggunakan kata-kata kiasan yang dimaksud untuk menyindir seseorang, perilaku, atau kondisi tertentu. Beberapa jenis sandara sindiran, yaitu:
Majas ironi: majas yang menggunakan kata-kata yang bertentangan dengan fakta yang ada dengan maksud menyindir. Misalnya: anak ini sangat teladan, hingga tengah malam baru saja pulang bermain.
Majas sinisme: majas yang menggunakan kata sindiran secara langsung, tak menggunakan ungkapan seperti majas ironi untuk memperhalus sindiran. Misalnya: pemilik rumah di ujung tersebut sangat pelit, tak pernah mau berbagai dengan sesama.
Majas sarkasme: majas yang menggunakan sindiran secara langsung dan kasar, hingga sindiran tersebut tampak seperti hujatan.
4. Majas Penegasan
Majas ini digunakan untuk meningkatkan pengaruh pada pembaca atau pendengar untuk menyetujui pernyataan, ujaran, atau kejadian yang diungkapkan.
Menyadur buku Ultralengkap Peribahasa Indonesia, Majas, Plus Pantun oleh Nur Indah Sholikhati, majas penegasan disebut juga dengan majas paralelisme.
Majas ini sering berbentuk kata atau kalimat perulangan. Misalnya: pergilah kekasihku, pergi yang jauh, pergi dan jangan kembali lagi.
(NSF)
