Pengertian Puasa Ramadan, Dalil, dan Tata Caranya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Menjelang bulan Ramadan, umat muslim di dunia mempersiapkan diri menunaikan ibadah puasa. Pengertian puasa Ramadan dijelaskan dalam berbagai ayat Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad saw.
Berdasarkan kutipan dari kitab Fiqih Madzhab Syafi’i berjudul Fath Al-Qarib, Muhammad bin Qasim Al-Ghazi, (2015, 272), puasa adalah menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan pada waktu siang pada hari yang diperbolehkan berpuasa bagi muslim yang berakal dan suci dari haid dan nifas.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Pengertian Puasa Ramadan dan Ketentuannya
Berikut ini pengertian puasa Ramadan dan hal-hal yang berkaitan dengan ketentuannya sesuai dalam Al-Qur'an dan hadis Nabi Muhammad saw.
Berdasarkan kutipan dari umj.ac.id, secara etimologi bahasa puasa berarti menahan diri untuk tidak melakukan sesuatu.
Sedangkan dalam terminologi ulama fiqih puasa artinya menahan diri dari segala sesuatu yang membatalkan puasa dengan memenuhi segala syarat-syaratnya, terhitung sejak terbitnya matahari di pagi hari hingga terbenamnya matahari saat malam hari.
Kata shaum (berpuasa) disebutkan sekali di dalam Al-Quran surat Maryam ayat ke-26. Kemudian shiyam (puasa) disebutkan sebanyak 9 kali di dalam Al-Qur'an.
Jika disebutkan shaum (berpuasa) maka memiliki makna yang luas mencakup makna puasa. Sehingga hal apapun yang berkaitan dengan menahan (berpuasa) diartikan dengan kata shaum.
Makna shiyam sendiri berarti puasa. Hal ini merujuk pada ibadah puasa yang memiliki syarat dan ketentuan khusus. Pada Al-Quran surat Al-Baqarah ayat 183–185 terdapat penyebutan makna puasa Ramadan menggunakan kata shiyam (puasa).
Menjalankan ibadah puasa di bulan Ramadan memiliki beberapa aturan dan ketentuan yang harus dipenuhi sebagai syarat sahnya menjalani ibadah ini. Berikut ini ketentuan puasa yang tertuang dalam kitab Fath Al-Qarib.
1. Syarat Wajib Puasa
Beberapa syarat wajib puasa adalah sebagai berikut:
Islam
Baligh atau berakal
Mampu berpuasa
2. Fardhu Puasa
Fardhu puasa berjumlah 4 perkara yaitu:
Niat, yaitu apabila menunaikan ibadah puasa fardhu maka harus menentukan niat puasa fardhu. Contohnya seperti puasa di bulan Ramadan atau puasa nazar. Niat berpuasa yang sempurna adalah dengan mengucapkan lafadz berikut. Dikutip dari kitab Minhajut Thalibin: نَوَيْتُ صَوْمَ غَدٍ عَنْ أَدَاءِ فَرْضِ شَهْرِ رَمَضَانَ هذِهِ السَّنَةِ لِلهِ تَعَالَى Nawaitu shauma ghadin ‘an adā’i fardhi syahri Ramadhāna hādzihis sanati lillāhi ta‘ālā Artinya, “Aku berniat puasa esok hari demi menunaikan kewajiban bulan Ramadhan tahun ini karena Allah ta’ala.”
Menahan diri dari makan dan minum meskipun hanya sedikit. Dikecualikan apabila sedang lupa atau berada di lingkungan yang penuh dengan ketidaktahuan akibat jauh dari ulama.
Bersetubuh dengan sengaja. Apabila lupa maka hukumnya sama halnya dengan lupa makan maka puasanya tidak menjadi batal akibat persetubuhan.
Menyengaja muntah. Apabila orang yang sedang berpuasa muntah tanpa sengaja maka puasanya tidak menjadi batal.
3. Perkara yang Membatalkan Puasa
Beberapa perkara yang membatalkan puasa terdapat 10 perkara sebagai berikut:
Masuknya segala sesuatu ke dalam lubang tubuh dengan sengaja pada lubang yang menganga.
Masuknya sesuatu pada lubang yang tidak menganga seperti masuk ke otak akibat luka. Artinya orang yang sedang berpuasa harus benar-benar menjaga dari masuknya segala sesuatu atau benda pada tempat yang disebut lubang pada tubuh.
Huqnaf atau memasukkan obat melalui kemaluan atau anus.
Muntah dengan sengaja. Apabila tidak sengaja maka puasanya tidak menjadi batal.
Bersetubuh dengan sengaja. Apabila tidak sengaja maka puasanya tidak menjadi batal.
Keluar mani sebab bersentuhan kulit. Baik dengan cara yang haram seperti mengeluarkan dengan tangannya sendiri atau cara yang tidak haram seperti dengan dikeluarkan oleh tangan istrinya. Sehingga dikecualikan pada ihtilam atau bermimpi yang menyebabkan keluarnya mani.
Haid
Nifas
Gila
Murtad. Apabila di tengah menjalankan ibadah puasa terjadi hal ini, maka puasanya menjadi batal.
4. Sunnah Berpuasa
Perkara yang disunnahkan dalam berpuasa terdapat tiga hal berikut ini:
Menyegerakan berbuka apabila sudah jelas bahwa matahari tenggelam. Namun ketika masih ada keraguan, maka jangan terburu-buru untuk berbuka puasa. Disunahkan pula untuk berbuka menggunakan kurma atau yang manis. Namun apabila tidak ada maka berbuka menggunakan air.
Mengakhirkan sahur diperbolehkan selama tidak ragu. Kesunahan sahur bisa didapatkan dengan sedikitnya makan atau minum.
Meninggalkan ucapan kotor karena orang yang berpuasa harus menjaga lisannya dari berbohong, menggunjing, mengumpat, dan lain-lain. Namun apabila ada seseorang yang mengumpat pada orang yang sedang berpuasa, maka hendaknya dijawab dengan mengatakan “aku berpuasa” baik secara lisan atau hatinya.
5. Hari yang Diharamkan Berpuasa
Diharamkan untuk melaksanakan puasa pada 5 hari berikut ini:
Hari Raya Idul Fitri
Hari Raya Idul Adha
Hari Tasyrik yakni 3 hari pasca Idul Adha.
Makruh Tahrim
Hari syak’ atau hari yang meragukan, kecuali memiliki adat puasa yang kebetulan jatuh pada hari syak’ tersebut atau berpuasa qadha dan nazar. Hari syak’ contohnya tanggal 30 bulan Sya'ban ketika tidak muncul hilal pada malamnya serta langitnya sedang cerah atau pada saat orang-orang berbicara dengan dilihatnya hilal namun tidak dilihat oleh orang yang adil atau hilal yang dilihat oleh anak kecil, budak dan orang fasik.
Hukum Puasa Ramadan
Menjalankan ibadah puasa di bulan suci Ramadan hukumnya fardhu ain (wajib) bagi setiap muslim mukallaf (dewasa) yang mampu melakukannya.
Kewajiban berpuasa di bulan Ramadan telah disyariatkan oleh Nabi Muhammad saw sejak tanggal 10 Sya’ban, yaitu sebelum genap dua tahun sejak Rasulullah berhijrah dari kota Makkah menuju Madinah.
Hukum puasa Ramadan tertuang dalam beberapa dalil yang menjelaskan tentang ibadah puasa Ramadan.
1. Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 183
Allah Swt berfirman:
يٰۤـاَيُّهَا الَّذِيْنَ اٰمَنُوْا كُتِبَ عَلَيْکُمُ الصِّيَا مُ کَمَا كُتِبَ عَلَى الَّذِيْنَ مِنْ قَبْلِکُمْ لَعَلَّكُمْ تَتَّقُوْنَ
Yaa ayyuhallazdiina aamanuu kutiba 'alaikum ash-shiyaamu kamaa kutiba 'alallazdiina min qablikum la'allakum tattaquun.
"Wahai orang-orang beriman! Diwajibkan bagi kamu berpuasa sebagaimana yang telah diwajibkan atas orang-orang sebelum kamu supaya kamu bertakwa,” (Surat Al-Baqarah Ayat 183)
2. Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 184
Allah Swt. berfirman:
اَيَّا مًا مَّعْدُوْدٰتٍ ۗ فَمَنْ كَا نَ مِنْكُمْ مَّرِ يْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ وَعَلَى الَّذِيْنَ يُطِيْقُوْنَهٗ فِدْيَةٌ طَعَا مُ مِسْكِيْنٍ ۗ فَمَنْ تَطَوَّعَ خَيْرًا فَهُوَ خَيْرٌ لَّهٗ ۗ وَاَ نْ تَصُوْمُوْا خَيْرٌ لَّـکُمْ اِنْ كُنْتُمْ تَعْلَمُوْنَ
Ayyaaman ma'duudaat, fa man kaana minkum mariidhan au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhor, wa 'alalladziina yuthiiquunahuu fidyatun tha'aamu miskiin, fa man tathawwa'a khairan fa huwa khairul lah, wa an tashuumuu khairul lakum in kuntum ta'lamuun
"(Yaitu) pada beberapa hari tertentu, maka barang siapa di antara kamu sekalian sedang sakit atau dalam perjalanan kemudian tidak berpuasa, maka diwajibkan mengganti sebanyak hari yang tidak berpuasa tersebut pada hari-hari yang lain. Dan bagi orang yang berat menjalankannya, wajib membayar fidyah yaitu memberi makan orang miskin. Akan tetapi barang siapa dengan kerelaan hati mengerjakan kebajikan maka itu lebih baik baginya dan puasamu itu lebih baik bagimu apabila kamu mengetahui." (Surat Al-Baqarah Ayat 184)
3. Al-Quran Surat Al-Baqarah Ayat 185
Allah Swt berfirman:
شَهْرُ رَمَضَا نَ الَّذِيْۤ اُنْزِلَ فِيْهِ الْقُرْاٰ نُ هُدًى لِّلنَّا سِ وَ بَيِّنٰتٍ مِّنَ الْهُدٰى وَا لْفُرْقَا نِ ۚ فَمَنْ شَهِدَ مِنْكُمُ الشَّهْرَ فَلْيَـصُمْهُ ۗ وَمَنْ کَانَ مَرِ يْضًا اَوْ عَلٰى سَفَرٍ فَعِدَّةٌ مِّنْ اَيَّا مٍ اُخَرَ ۗ يُرِ يْدُ اللّٰهُ بِکُمُ الْيُسْرَ وَلَا يُرِ يْدُ بِکُمُ الْعُسْرَ ۖ وَلِتُکْمِلُوا الْعِدَّةَ وَلِتُکَبِّرُوا اللّٰهَ عَلٰى مَا هَدٰٮكُمْ وَلَعَلَّکُمْ تَشْكُرُوْنَ
Syahru ramadhaanalladziii unzila fiihil-qur-aanu huda lin-naasi wa bayyinaatim minal-hudaa wal-furqan, fa man syahida minkumusy-syahra falyashum-h, wa man kaana mariidhan au 'alaa safarin fa 'iddatum min ayyaamin ukhar, yuriidullahu bikumul-yusra wa laa yuriidu bikumul-'usra wa litukmilul-'iddata wa litukabbirullaha 'alaa maa hadaakum wa la'allakum tasykuruun
"Bulan Ramadan adalah bulan yang di dalamnya diturunkan Al-Quran sebagai petunjuk bagi manusia dan penjelasan-penjelasan mengenai petunjuk itu dan pembeda antara yang benar dan yang batil. Oleh karena itu, barang siapa di antara kamu semua ada di bulan itu, maka berpuasalah. Dan barang siapa sakit atau dalam perjalanan kemudian dia tidak berpuasa, maka wajib untuk menggantinya, sebanyak hari yang ditinggalkannya itu, pada hari-hari yang lain. Allah menghendaki kemudahan bagimu, dan tidak menghendaki kesukaran bagimu. Hendaklah kamu mencukupkan bilangannya dan mengagungkan Allah Swt atas petunjuk-Nya yang diberikan kepadamu, agar kamu senantiasa bersyukur." (Surat Al-Baqarah Ayat 185)
4. Hadis Nabi Muhammad saw Riwayat Bukhari dan Muslim
“Agama lslam ditegakkan atas lima dasar. Pertama bersyahadat (bersaksi) bahwa tiada Tuhan selain Allah dan Muhammad adalah utusan Allah, kedua mendirikan shalat, ketiga membayar zakat, keempat melaksanakan haji, dan yang kelima berpuasa di bulan Ramadan.” (HR. Al-Bukhari dan Muslim)
Kewajiban berpuasa menjadi ijma’ para ulama dan seluruh umat muslim. Sehingga tidak ada satu pun yang menolak dan mengingkarinya.
Sedangkan tata cara melaksanakan ibadah puasa adalah dengan menahan diri dari makan, minum, dan segala sesuatu yang membatalkan dan diharamkan saat berpuasa selama bulan Ramadan.
Hal ini dikarenakan puasa termasuk ibadah yang perlu diketahui dan wajib dijalani oleh setiap muslim karena kewajiban berpuasa adalah pokok ibadah paling mendasar dalam ajaran syariat Islam.
Seperti halnya kewajiban shalat, zakat, haji dan rukun Islam lainnya. Maka barangsiapa yang mengingkari rukun Islam ini maka dia bukan termasuk orang Islam.
Baca juga: 5 Niat Buka Puasa Ramadan dan Artinya beserta Tata Caranya
