Pengertian Singkatan dan Akronim Beserta Contohnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam suatu kalimat bahasa Indonesia, sering kali ditemukan jenis singkatan dan akronim. Pada kondisi tertentu, masih ada juga yang kebingungan dengan istilah ini. Sebab, keduanya memiliki konteks berupa ‘singkatan’ dalam sebuah kalimat.
Lantas apa yang dimaksud dengan singkatan dan akronim? Simak penjelasannya berikut ini.
Singkatan
Menurut buku Master Bahasa Indonesia oleh Ainia Prihantini, singkatan merupakan bentuk yang dipendekkan dan terdiri atas satu huruf atau lebih. Singkatan memiliki berbagai jenis dan kaidah penulisan, bergantung pada penggunaannya.
Jenis-jenis Singkatan
Macam-macam singkatan menurut Prihantini buku Master Bahasa Indonesia adalah sebagai berikut:
1. Singkatan nama seseorang, nama gelar, sapaan, jabatan atau pangkat
Singkatan jenis ini diikuti dengan tanda titik, misalnya:
Muh. Yamin
Linda Dwi S. W.
S. Sos. (Sarjana Sosial)
S. Pd. (Sarjana Pendidikan)
Sdr. (Saudara)
Dan sebagainya
2. Singkatan untuk nama resmi lembaga pemerintah, badan, organisasi, dan nama dokumen resmi
Singkata jenis ini terdiri dari huruf di awal kata. Penulisannya memakai huruf kapital tanpa diikuti oleh tanda titik. Misalnya:
UUD (Undang-Undang Dasar)
DPR (Dewan Perwakilan Rakyat)
PGRI (Persatuan Guru Republik Indonesia)
Dan sebagainya
3. Singkatan kata dalam pembuatan catatan rapat atau kuliah
Singkatan jenis ini berupa gabungan huruf yang diikuti dengan tanda titik. Misalnya:
kpd. (kepada)
jml. (jumlah)
tgl. (tanggal)
Dan sebagainya
4. Singkatan umum
Singkatan umum terdiri dari dua huruf dan diikuti dengan satu tanda titik pada setiap hurufnya. Singkatan ini diterapkan untuk keperluan surat-menyurat, misalnya:
s.d. (sampai dengan)
d.a. (dengan alamat)
a.n. (atas nama)
Dan sebagainya
5. Singkatan untuk menunjukkan satuan ukuran, timbangan, lambang kimia, takaran, dan mata uang
Singkatan ini digunakan tanpa diikuti oleh tanda titik, misalnya:
Rp500 (lima ratus rupiah)
kg (kilogram)
l (liter)
Mg (magnesium)
Dan sebagainya
Akronim
Dalam buku Master Bahasa Indonesia oleh Ainia Prihantini, akronim merupakan singkatan berupa gabungan huruf awal, gabungan suku kata, atau gabungan huruf dan suku kata dari deret kata.
Himpunan tersebut diperlakukan sebagai kata yang disebut sebagai akronim. Prihantini menyebutkan bahwa terdapat hal-hal yang harus diperhatikan dalam pembentukan akronim, di antaranya:
Jumlah suku kata akronim tidak lebih dari jumlah suku kata yang lazim ditemukan dalam bahasa Indonesia (tidak lebih dari tiga suku kata).
Pembentukan akronim disertai dengan keserasian kombinasi vokal dan konsonan sesuai dengan pola kata bahasa Indonesia. Hal ini bertujuan agar mudah diucapkan dan mudah diingat.
Jenis-jenis Akronim
Dalam buku PUEBI & Sastra Indonesia oleh Redaksi Cemerlang, berikut jenis dan contoh pembentukan akronim:
1. Akronim nama diri yang terdiri atas huruf awal di setiap kata.
Penulisan akronim ini menggunakan huruf kapital tanpa disertai dengan tanda titik, misalnya:
BIN (Badan Intelijen Negara)
LIPI (Lembaga Ilmu Pengetahuan Indonesia)
PASI (Persatuan Atletik Seluruh Indonesia)
2. Akronim nama diri berupa gabungan suku kata atau gabungan huruf dan suku kata.
Akronim ini ditulis menggunakan huruf kapital di huruf pertama saja, misalnya:
Jatim (Jawa Timur)
Bappenas (Badan Perencanaan Pembangunan Nasional)
Bulog (Badan Urusan Logistik)
3. Akronim bukan nama diri
Akronim bukan nama diri berupa gabungan huruf awal dan suku kata atau gabungan suku kata. Akronim ini ditulis dengan huruf kecil, misalnya:
pemilu (pemilihan umum)
puskesmas (pusat kesehatan masyarakat)
tilang (bukti pelanggaran)
(ANM)
