Pengertian Uang Inti, Contoh, dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Pengertian uang inti adalah kewajiban otoritas moneter (Bank Indonesia) yang terdiri atas uang kartal yang berada di luar Bank Indonesia dan kas negara, serta rekening giro Bank Pencipta Uang Giral (BPUG) dan sektor swasta (perusahaan maupun perorangan) di Bank Indonesia.
Dengan demikian, uang kartal yang dipegang pemerintah dalam bentuk kas pemerintah atau kas negara, dan simpanan giral pemerintah pada Bank Indonesia, tidak termasuk sebagai komponen dari uang inti.
Untuk memahami lebih jelas mengenai uang inti, simak uraian lengkapnya di bawah ini.
Pengertian Uang Inti
Dikutip dari Ekonomi Moneter oleh Lora Ekana Nainggolan dkk., pengertian uang inti atau yang sering dikenal dengan istilah uang primer adalah uang logam, uang kertas, maupun cek yang dicetak oleh Bank Sentral.
Dalam pengertian yang lebih sederhana, uang inti adalah inti dari proses penciptaan uang, baik bagi penciptaan uang kartal maupun uang giral. Tanpa ada uang inti, tidak akan ada uang kartal maupun uang giral.
Uang dan kebijakan moneter merupakan dua hal penting yang tidak dapat dipisahkan, karena salah satu tugas pengelolaan kebijakan moneter adalah dengan mengontrol jumlah uang beredar yang ada di masyarakat.
Dikutip dari Ekonomi, Uang, dan Bank (Catatan Teoritis dan Praktis) oleh Dias Satria, Bank Indonesia memiliki kemampuan untuk mengontrol uang inti karena komponen yang ada dalam uang inti, yaitu uang kartal dan uang giral berada dalam pengawasan dan wewenang Bank Indonesia.
Pertama, Bank Indonesia selaku Bank Sentral memiliki otoritas untuk menerbitkan uang kartal yang ada di masyarakat, sehingga secara tidak langsung Bank Indonesia juga memahami secara benar jumlah uang kartal yang beredar.
Kedua, Bank Indonesia memiliki otoritas terkait dengan berapa jumlah cadangan yang harus disimpan oleh bank umum di Bank Indonesia.
Berdasarkan otoritas dan wewenang Bank Indonesia tersebut, uang inti relatif lebih mudah untuk diawasi dan dikendalikan oleh Bank Indonesia.
Contoh Uang Inti dan Faktor-Faktor yang Memengaruhinya
Sebagai contoh, seorang eksportir menerima bayaran sebesar $1 juta (dengan kurs Rp625 = US$ 1). Kemudian, uang tersebut dia tukarkan menjadi rupiah pada bursa valuta asing di Bank Indonesia. Dia menerima cek dari Bank Indonesia sebesar Rp 625 juta.
Transaksi penukaran dolar di Bank Indonesia tersebut telah menciptakan uang inti sebesar Rp625 juta di Indonesia. Jika eksportir menukarkan cek dengan rupiah di Bank Indonesia, uang inti telah berubah bentuknya dari saldo giro Bank Indonesa menjadi uang kartal.
Hal ini tidak mengubah kenyataan bahwa uang inti sebesar Rp625 juta rupiah telah tercipta. Bentuk uang inti tersebut bisa berupa saldo giro maupun uang tunai.
Sementara faktor-faktor yang memengaruhi uang inti antara lain:
Pajak ekspor
Sertifikasi ekspor
Bea masuk atau pajak impor
Pengeluaran pemerintah
Bunga kredit bank
Pengawasan kuantitatif
(SFR)
