Penggolongan Larutan Berdasarkan Daya Hantar Listrik

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dalam ilmu kimia, penggolongan larutan berdasarkan daya hantar listrik dibedakan menjadi dua, yaitu larutan elektrolit dan non-elektrolit.
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik, sedangkan larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan arus listrik.
Untuk memahami lebih jelas mengenai penggolongan larutan berdasarkan daya hantar listrik, simak pembahasan berikut.
Penggolongan Larutan Berdasarkan Daya Hantar Listrik
Dikutip dari Modul Pembelajaran SMA Kimia Kelas X oleh Rananda Vinsiah, larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih dengan perbandingan komposisi sesuai dengan komponen penyusunnya. Larutan tersusun dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute).
Berdasarkan daya hantar listriknya, sifat larutan dapat dipengaruhi oleh jenis zat yang terlarut dalam suatu larutan. Zat yang dapat larut dalam air dibedakan menjadi elektrolit dan non-elektrolit.
Perbedaan keduanya berdasarkan adanya daya hantar listrik pada larutan. Zat elektrolit dalam air akan terurai menjadi ion-ion, sedangkan zat non-elektrolit dalam pelarut air tidak terurai menjadi ion-ion.
Konsep larutan elektrolit dan non-elektrolit ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli kimia asal Swedia, Svante August Arrhenius, pada tahun 1884.
Salah satu alat yang dapat digunakan dalam penentuan jenis larutan adalah elektrolit tester. Dalam penggunaannya, dua batang elektroda logam (misal tembaga) dimasukkan ke dalam larutan.
Kedua elektroda tidak boleh bersentuhan dan masing-masing dihubungkan dengan kutub arus listrik searah. Hasilnya, bola lampu akan hidup atau jarum akan bergerak untuk larutan elektrolit, sedangkan bola lampu akan mati untuk larutan non-elektrolit.
Berdasarkan uraian di atas, berikut penjelasan mengenai larutan elektrolit dan non-elektrolit.
1. Larutan Elektrolit
Larutan elektrolit adalah larutan yang dapat menghantarkan arus listrik karena mengandung ion-ion yang bergerak bebas. Ion-ion itulah yang menghantarkan listrik melalui larutan. Larutan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Dapat menghantarkan listrik
Terjadi proses ionisasi
Lampu dapat menyala terang atau redup
Adanya gelembung gas
Dikutip dari Smart Plus Bank Soal Kimia SMA oleh Tim Master Eduka, larutan elektrolit dibedakan menjadi dua, yaitu elektrolit kuat dan elektrolit lemah.
a. Larutan Elektrolit Kuat
Larutan elektrolit kuat memiliki daya hantar listrik yang baik, meskipun pada konsentrasi rendah. Elektrolit kuat memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Terionisasi sempurna
Menghantarkan arus listrik
Lampu menyala terang
Terdapat banyak gelembung gas
Contoh dari elektrolit kuat adalah HCL, H2SO4, NaOH, KOH, K2SO4, dan CaCL2.
b. Elektrolit Lemah
Larutan elektrolit lemah memiliki daya hantar listrik yang buruk, meskipun pada konsentrasi yang besar. Elektrolit lemah memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Terionisasi sebagian
Menghantarkan arus listrik
Lampu menyala redup
Terdapat sedikit gelembung gas
Contoh dari elektrolit lemah adalah CH3COOH, HF, HNO2, NH3, dan C2H5OH.
2. Larutan Non-elektrolit
Larutan non-elektrolit adalah larutan yang tidak dapat menghantarkan listrik. Larutan ini memiliki ciri-ciri sebagai berikut.
Tidak dapat menghantarkan listrik
Tidak terjadi proses ionisasi
Lampu tidak menyala
Tidak ada gelembung gas
Contoh dari larutan non-elektrolit adalah CO(HN2)2, CH3OH, C6H12)6, dan C2H5OH.
(SFR)
Frequently Asked Question Section
Apa yang dimaksud dengan larutan?

Apa yang dimaksud dengan larutan?
Larutan adalah campuran homogen dari dua zat atau lebih dengan perbandingan komposisi sesuai dengan komponen penyusunnya.
Apa saja materi penyusun larutan?

Apa saja materi penyusun larutan?
Larutan tersusun dari pelarut (solvent) dan zat terlarut (solute).
Siapa yang memperkenalkan konsep larutan elektrolit dan non-elektrolit?

Siapa yang memperkenalkan konsep larutan elektrolit dan non-elektrolit?
Konsep larutan elektrolit dan non-elektrolit ini pertama kali diperkenalkan oleh ahli kimia asal Swedia, Svante August Arrhenius, pada tahun 1884.
