Konten dari Pengguna

Penyakit Paru-Paru Menahun Black Lung Dapat Disebabkan oleh Apa?

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi paru-paru sebagai organ pernapasan manusia. Foto: Unsplash
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi paru-paru sebagai organ pernapasan manusia. Foto: Unsplash

Paru-paru merupakan organ vital dalam sistem pernapasan manusia. Ketika terjadi gangguan di paru-paru, manusia dapat mengalami beberapa gejala, seperti sesak napas, batuk secara terus-menerus, hingga napas pendek.

Berbagai macam penyakit yang dapat menyebabkan gangguan pada paru-paru memiliki gejala dan tingkat keparahan yang berbeda-beda. Salah satu penyakit paru-paru adalah black lung. Umumnya, penyakit ini tidak memiliki gejala sama sekali di awal kemunculannya.

Perlu waktu yang lama sebelum penyakit black lung bertambah parah. Oleh sebab itu, penyakit black lung disebut dengan penyakit paru-paru menahun. Dalam istilah kedokteran, penyakit black lung disebut dengan pneumokoniosis.

Lantas, apa sebenarnya penyebab penyakit menahun black lung ini? Apa saja gejala yang dialami penderitanya? Agar lebih memahaminya, simak ulasan berikut ini.

Penampakan pekerja tambang batu-bara yang dianggap berisiko menderita penyakit black lung. Foto: Michael Agustinus/kumparan

Penyebab Penyakit Black Lung

Dikutip melalui buku 70 Materi Safety Talks karangan Noviaji Joko Priono dan Agung Supriyadi (2021: 112), penyakit paru-paru menahun black lung dapat disebabkan oleh hal-hal berikut ini.

  1. Serat asbes, umumnya bahan ini sering digunakan sebagai atap;

  2. Kristal silica, umumnya terdapat pada pasir dan batu di daerah pengecoran;

  3. Debu batu bara, umumnya mengandung karbon;

  4. Berilium, umumnya digunakan pada industri elektronik, aerospace, dan tenaga nuklir;

  5. Debu kapas, umumnya digunakan pada industri tekstil;

  6. Debu mineral, umumnya penggunaan kobalt, talk, dan aluminium oksida sebagai bahan dasar industri.

Beberapa penelitian di Indonesia menyebutkan bahwa pekerja tambang sangat rentan mengalami pneumokoniosis. Melalui situs depkes.go.id, sebuah riset menunjukkan bahwa ada sekitar 9% penambang batu bara di Indonesia menderita pneumokoniosis.

Gejala penyakit black lung dapat berupa batuk berdahak dan warnanya hitam. Foto: Unsplash

Gejala Penyakit Black Lung (Pneumokoniosis)

Risiko pekerja terkena pneumokoniosis tergantung dari berapa lama pekerja tersebut terpapar debu batu bara. Penyakit ini terjadi bila paparan cukup lama, biasanya setelah pekerja terpapar lebih dari 10 tahun.

Oleh karena itu, tahap awal penyakit ini sering kali tidak menimbulkan gejala apa pun. Akibatnya, penyakit pneumokoniosis ini sering tidak terdeteksi. Kebanyakan seseorang baru terdeteksi mengidap pneumokoniosis saat berusia lebih dari 50 tahun.

Berdasarkan gejala yang ditimbulkan, pneumokoniosi dibedakan menjadi dua bentuk, yaitu bentuk sederhana (simpleks) dan terkomplikasi (kompleks).

Pneumokoniosis sederhana terjadi karena inhalasi debu batu bara saja. Gejalanya hampir tidak ada, sesekali hanya menimbulkan batuk ringan.

Sementara itu, pneumokoniosis terkomplikasi ditandai gejala pernapasan pendek, batuk berdahak yang cenderung menetap, dahak berwarna hitam, hingga bengkak di kaki dan tungkai.

Faktor-faktor yang dapat meningkatkan risiko pneumokoniosis, di antaranya meliputi:

  • Usia pekerja saat paparan debu pertama kali;

  • Lama berada di tempat kerja;

  • Tipe debu (usia batu bara menentukan risiko terjadinya; pneumokoniosis );

  • Pekerja merupakan perokok aktif/tidak;

  • Ukuran debu.

Pekerja tambang batu-bara dapat melakukan tindakan preventif agar terhindar dari penyakit black lung. Foto: Aditia Noviansyah/kumparan

Pencegahan Penyakit Black Lung (Pneumokoniosis)

Sebagai bentuk pencegahan terjadinya black lung atau pneumokoniosis pada pekerja tambang, dapat dilakukan upaya-upaya tertentu untuk menghindari terjadinya komplikasi yang lebih parah.

Merangkum dalam safetysign.co.id, berikut tindakan preventif yang dapat dilakukan, di antaranya yaitu:

  1. Pekerja menggunakan alat pelindung pernapasan, seperti masker kesehatan khusus untuk mengurangi paparan debu selama bekerja.

  2. Pekerja wajib melakukan pemeriksaan kesehatan rutin berkala dengan rentang waktu 5 tahun sekali sesuai rekomendasi dari CDC's National Institute for Occupational Safety and Health.

  3. Mengurangi kebiasaan merokok, karena konsumsi rokok yang tinggi dapat memperparah kondisi paru-paru.

  4. Pekerja diberikan vaksinasi terhadap pneumokokus untuk mencegah terjadinya infeksi.

(VIO)