Konten dari Pengguna

Properti dalam Tari Topeng Tumenggung: Kedok, Tekes, hingga Keris

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 2 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi Tari Topeng. Foto: Pixabay
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi Tari Topeng. Foto: Pixabay

Tari Topeng merupakan kesenian khas daerah Cirebon, Jawa Barat. Meski demikian, perkembangannya meluas hingga ke luar daerah, sehingga Tari Topeng juga banyak ditemukan di kalangan masyarakat Betawi hingga Jawa Timur, tetap dengan ciri khas dan keunikannya masing-masing.

Pertunjukan Tari Topeng Cirebon terdiri dari 5 babak dengan urutan penyajiannya, dimulai dari Topeng Panji, Topeng Samba, Topeng Rumyang, Topeng Tumenggung, hingga Topeng Kelana.

Masing-masing babak tarian tersebut memiliki makna dan kisah yang berbeda-beda. Karena itu, properti tari yang digunakan pun berbeda, menyesuaikan makna dari tarian yang ditampilkan.

Ulasan berikut akan menjelaskan lebih dalam mengenai properti Tari Topeng Tumenggung.

Properti Tari Topeng Tumenggung

Ilustrasi properti Tari Topeng. Foto: iStock

Tari Topeng Tumenggung merupakan bentuk tarian yang mengisahkan kehidupan manusia setelah memasuki fase dewasa dan mapan. Hal ini ditandai dengan gerakan tari yang sangat dinamis dan properti tari yang mendukungnya.

1. Kedok

Kedok atau topeng adalah properti wajib dalam setiap pertunjukan Tari Topeng Cirebon, tak terkecuali Tari Topeng Tumenggung. Kedok yang dipakai biasanya terbuat dari kayu yang dibentuk menyerupai wajah dengan warnanya yang menyesuaikan karakter.

Mengutip jurnal Kajian Visual Busana Tari Topeng Tumenggung Karya Satir Wong Bebarang Pada Masa Kolonial oleh Anis Sujana, selain sebagai penutup wajah, kedok berfungsi untuk mengubah karakter pribadi penari menjadi tokoh atau peran yang dibawakan. Tujuannya untuk memperkuat ekspresi dan menambah daya tarik penampilan.

2. Tekes atau Sobrah

Salah satu ciri khas Tari Topeng Cirebon ditunjukkan oleh penutup kepala yang disebut tekes atau sobrah. Meski sekilas tampak serupa, pemakaian tekes ini menggambarkan watak masing-masing tokoh.

Untuk Tari Topeng Tumenggung, tekes yang dipakai adalah model gedang saerip atau citomalik.

3. Bendo

Bendo merupakan ikat kepala bermotif batik. Bendo dalam tari Topeng Tumenggung menyimbolkan kebangsawanan masa kolonial.

4. Topi

Ilustrasi Tari Topeng. Foto: Pixabay

Penari Tari Topeng Tumenggung mengenakan topi berwarna hitam dengan ornamen karpatu berwarna perak. Bagian depannya membentuk palang, sedangkan bagian atasnya bolong dan bagian depannya menjorok.

Di seputar topi melingkar band berwarna emas. Ini merupakan simbol elemen pengaruh barat (kolonial).

5. Kacamata

Kacamata berlensa bening, bertangkai, dan berbidang (frame). Kacamata yang dikenakan ini tampak natural, tanpa sentuhan artistik sebagai simbol kepintaran atau kecerdasan.

6. Kemeja dan Dasi

Karakter mapan yang ingin ditunjukkan dalam tarian ini juga tampak dari busana yang dikenakan, yakni kemeja dan dasi. Kemeja berwarna dengan bagian depan berbentuk segi empat memanjang dan bagian leher diberi aksen ‘berdiri’.

Sementara itu, dasi berwarna hitam, di bagian atasnya cenderung mengerucut dan bagian bawahnya melebar dengan ujung membentuk huruf V. Di bagian tengah memanjang ke bawah terdapat tiga buah bros warna perak sebagai ornamen.

7. Baju Kutung

Baju kutung merupakan busana yang dikenakan di luar kemeja. Berwarna merah marun dengan band melingkar warna emas pada kedua ujung bagian tangan. Ini merupakan simbol kebangsawanan pada masa feodal.

8. Celana, Sinjang, dan Keris

Celana yang dikenakan senada dengan baju kutung, yakni berwarna merah marun dihiasi dengan band warna emas yang melingkar pada kedua ujung bagian kaki.

Sinjang merupakan kain panjang yang dibentuk menyerupai dodot. Sementara keris yang digunakan dalam Tari Topeng Tumenggung adalah keris bentuk ladrangan.

(ADS)