Rejeki atau Rezeki, Mana Penulisan yang Benar?

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Kata rejeki atau rezeki pastinya sudah tidak asing lagi di telinga, terutama jika ingin menggambarkan suatu pendapatan atau pencapaian yang diperoleh, baik itu secara materi ataupun yang bukan materi.
Namun, dari kedua kata tersebut, manakah kata yang penulisannya benar sesuai kaidah bahasa Indonesia? Untuk mengetahui jawabannya, simak penjelasan berikut.
Rejeki atau Rezeki?
Menurut Kamus Besar Bahasa Indonesia (KBBI) yang diterbitkan oleh Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan, kata baku yang sesuai dengan kaidah bahasa Indonesia adalah "rezeki" dengan huruf "z", sedangkan "rejeki" dengan huruf "j" adalah bentuk kata tidak baku.
Jadi, untuk keperluan penulisan, gunakan kata "rezeki" supaya tidak salah lagi dalam menulis.
Kata "rezeki" termasuk dalam kelas kata nomina (kata benda) sehingga dapat menyatakan nama dari seseorang, tempat, atau semua benda dan segala yang dibendakan.
Berdasarkan KBBI, kata "rezeki" memiliki beberapa pengertian, antara lain:
Segala sesuatu yang dipakai untuk memelihara kehidupan (yang diberikan oleh Tuhan)
Makanan (sehari-hari)
Nafkah
Penghidupan
Pendapatan (uang dan sebagainya untuk memelihara kehidupan)
Keuntungan
Kesempatan mendapat makan
Sementara dalam pengertian yang lebih luas, "rezeki" berarti segala sesuatu yang bermanfaat, berdaya guna bagi setiap makhluk, serta dapat dimanfaatkan oleh manusia sebagai sumber kehidupan.
"Rezeki" juga berarti anugerah, karunia, atau pemberian dari Tuhan untuk makhluknya yang dapat dimanfaatkan.
Selain itu, arti "rezeki" masuk ke dalam jenis kiasan sehingga penggunaan katanya bisa jadi bukan dalam arti yang sebenarnya. Berikut gabungan kata "rezeki" yang sebagian memiliki arti kiasan, di antaranya:
Rezeki batin, yakni sesuatu yang berguna bagi batin atau santapan rohani.
Rezeki halal, yakni pendapatan yang halal (yang diperoleh dengan jujur).
Rezeki mahal, yakni sukar mencari rezeki (penghidupan) atau jarang sekali mendapat keuntungan.
Rezeki mata, yakni segala sesuatu yang sedap dipandang.
Rezeki meninggi, yakni mendapat keuntungan tidak dengan bersusah payah.
Rezeki merendah, yakni segala yang dikerjakan selalu menguntungkan.
Rezeki murah, yakni mudah mendapat penghidupan atau kerap kali mendapat keuntungan.
Rezeki musang, yakni gadis yang tidak terjaga.
Rezeki nomplok, yakni rezeki yang diperoleh tanpa diduga dan dalam jumlah yang cukup besar.
Terbuka rezeki, yakni murah rezeki.
Murah rezeki, yakni mudah mendapat (memperoleh) rezeki atau banyak rezeki.
Naik rezeki, yakni semakin bertambah keuntungannya.
Tinggi rezeki, yakni tidak mudah mendapat rezeki.
Panas rezeki, yakni sukar mencari rezeki.
Pintu rezeki, yakni sumber penghidupan.
Putus rezeki, yakni kehilangan mata pencaharian.
Kata "rezeki" tidak memiliki turunan kata. Berikut contoh penggunaan kata "rezeki" dalam kalimat.
Yang namanya rezeki tidak akan ke mana.
Rezeki sudah ada yang mengatur.
Siska mendapat rezeki nomplok.
Rezeki itu datang dari Tuhan.
Jangan iri dengan rezeki orang lain.
(SFR)
