Ringkasan Cerpen Tarian Pena dan Unsur Intrinsik di Dalamnya

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 7 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ringkasan cerpen tarian pena menjadi salah satu karya sastra yang menarik untuk dibahas. Cerpen ini mengajak pembaca untuk menyelami dunia seorang penulis dengan segala suka duka yang dialaminya dalam proses kreatif.
Melalui alur cerita yang mengalir dan karakter yang mendalam, penulis berhasil menyajikan potret kehidupan seorang penulis dengan begitu nyata.
Penulis berhasil menggugah emosi pembaca dan mengajaknya untuk merenung lebih dalam tentang kehidupan melalui untaian kata yang indah. Gaya bahasa yang puitis dan penuh metafora menciptakan imaji yang kuat dalam benak pembaca.
Daftar isi
Daftar isi

Daftar isi
Ringkasan Cerpen Tarian Pena
Pada cerpen ini pembaca diajak untuk menyelami berbagai emosi dan konflik batin yang dialami oleh seorang seniman, melalui tokoh yang kompleks. Berikut ini adalah ringkasan cerpen tarian pena dikutip dari buku “Di Sini Rinduku Tuntas: Antologi Cerita Pendek Bengkel Sastra 2019”, oleh Virginia C.C Pomantow dkk, (2019:1):
Di bawah terik matahari aku menyusuri jalan kampung yang tampak tak berpenghuni. Samar-samar nyanyian jangkrik terdengar di sampingku. Bagai melodi yang tak tertata, sekali lagi aku mendengarnya. Sesampai dalam “istana tuaku”, terlihat seorang perempuan tua yang menyambutku dengan hangat. Nasi yang berselimut lauk-pauk tersedia dengan manis di meja makan.
Setelah itu, aku masuk ke dalam ruang yang mengetahui setiap gerak-gerikku. Aku mulai memegang pena dan menggoreskannya di atas lembaran putih. Kutuang semua rasa yang bergejolak dalam hatiku. Tiba-tiba langit mulai gelap. Kuterlelap dalam buaian dingin yang kalap, bermimpi seorang pangeran gagah datang dengan kereta emas menjemputku dan merangkulku.
Pagi cerah menanti sosok pelajar dari ibu pertiwi. Aku berdiri di lantai dua sekolah menanti kawan yang menyapa dengan senyuman. Kutatap pohon dan tanaman yang asri dan tersusun pula dengan rapi. Angin menyambar wajahku. “Fuuuuuuuuuu….” Seketika aku merasa tersengat dan memiliki semangat yang tak kunjung pudar.
Di halaman sekolah para siswa bermain basket dengan lihai dan sebagian siswi berbincangbincang dengan santai. Aku senang sekali menuangkan semua yang kulihat dalam sebuah tulisan, baik itu puisi maupun diary, hanya dengan kata yang mudah dipahami dan makna yang tersirat dengan sentuhan rasa kasih. Sungguh, aku tak ingin orang banyak mengetahui apa yang tersirat dalam catatanku.
Waktu berjalan begitu cepat menyongsong matahari yang mengingini senja. Besi kuning mulai menjerit. “Teng, teng, teng.” Waktunya pulang ke “istanaku”. Seperti biasa, setibaku di “istana tuaku”, perempuan tua menyambutku dengan hangat. Terlihat nasi yang berselendangkan lauk-pauk, membekaskan lezat pada lidahku. Tak tahu mengapa, saat itu aku mengucapkan terima kasih pada perempuan tua itu. Aku pun masuk ke dalam ruang yang mengetahui gerak-gerikku dengan mengajak pena menari di atas lembaran putih. Kali ini, terpikirkan olehku sosok perempuan tua yang selalu terbayang di benakku.
Susunan kalimat pun sudah selesai.
“Aryo!” teriakku kepada lelaki yang belum pernah kudapati. Ketika aku membuka mata, Aryo sudah berada di depanku. Seketika pipiku mulai memerah dan bibirku menjadi sedikit kaku. Dengan perlahan, bibir Aryo mendekati bibirku.
“Apakah ini mimpi. Ini masih terlalu dini. Lagipula, aku masih terlalu muda!” teriakku dalam hati. Air dingin pun jatuh membasahi wajahku. Perlahan aku membuka mata dan mendapati ibuku memegang gayung air dari kamar mandi.
“Ibu, mengapa Ibu menyiram air ke wajahku?” tanyaku. “Kamu kalau tidur jangan kayak kebo,” canda ibu. Keesokan harinya, pagi-pagi buta, perempuan tua menyodorkan susu yang berbalut sediri kopi. Terasa lengkap akhir pekan ini. Kuintip dia dari balik lembaran kain yang tergantung di bawah ventilasi, dia di sana. Perempuan tua itu duduk di sebuah kayu berlapis kapuk yang membatu. Aku sedikit tersenyum manis.
“Hemmm….” Wajahnya tampak di bawah naungan yang diharapkan selalu terjadi dan berharap waktu terus begini.
“Ibu telah meninggal,” kata seseorang yang menyapaku dengan tepukan di bahu kanan. Aku terdiam dan tak dapat berbuat apa pun selain menangis bak orang gila.
“Aaah…. Hee…. Tidak! Tidak! Ibuku tidak akan meninggalkanku,” jeritan keras yang tak pernah kuteriakkan sepanjang hidupku. Seketika aku tersadar dari lamunku. ‘Uhh, untung saja itu hanya sebuah khayalan baru yang terlintas di kepalaku,’ kesalku.
Pada sore hari menjelang bulan naik perlahan menggantikan surya, perempuan itu pulang dengan letihnya. Wajah lesu, tangan yang lemas, dan kaki yang perlahan membeku. Kulihat dari seberang utara ruang tamu. Aku melangkahkan kaki dengan pasti dan memeluk tubuh perempuan tua itu, walau peluhnya pun menempel di bajuku.
“Bu, maafkan aku. Aku tidak akan membuatmu kesal dan capek,” tangisku yang tersedu dalam sesal. “Eh, ada apa, sih, kamu ini tiba-tiba memeluk Ibu. Minta maaf pula. Tumben-tumbenan,” kata ibu dengan bingung.
Kemudian aku pergi ke ruang yang mengetahui gerak-gerikku. Kuhanyut dalam renungan pada malam sepi ini, merasakan dua hati yang saling melukai, antara sesal dan sedih. Dua rasa yang sejenis, tetapi memiliki arti masing-masing yang sangat mendalam. Sekali lagi aku menorehkan pena di hadapan lembaran kertas putih.
Lilin kecil yang memercikkan api jingga menemaniku saat itu. Bersama itu, aku berdiam diri sambil menulis sebuah kisahku hari itu. Perlahan aku memejamkan mata dan bunyi rekaman lama terdengar.
Aku terbangun dan keluar dari ruang yang mengetahui gerak-gerikku. Aku terkejut melihat banyak orang mengerumuni kamar perempuan tua itu. Kupandangi arah kamar perempuan tua itu. Lututku terjatuh perlaham menghampiri lantai. Aku tak dapat berbicara, tanganku dingin bak es yang keluar dari freezer.
“Ibu!” teriakku sekuat tenaga sambil meratapi malangnya nasibku. Perempuan tua tak dapat mengatakan apa pun, hanya terdiam, membeku, dan tergeletak, tinggal menunggu untuk dikebumikan. Aku hanya menangis, menangis tak karuan.
Sekarang hari-hariku dipenuhi sesal yang tak berarti. Berangkat ke sekolah dengan seragam kumuh, tidak pula membuat sarapan, karena malas dan resah, serta serintih harapan tak dapat kuadu. Masa tersulit pun kualami. Merajut asa tanpa sosok ibu di sisiku. Rindu tak terbalaskan. Bak pungguk merindukan bulan.
“Ibu, aku rindu. Aku ingin Ibu masih bersamaku. Aku tak ingin semua ini terjadi. Aku lelah dengan semua kejadian ini!” jeritku kepada perempuan tua itu.
“Tamat. Sekarang sudah larut malam. Sebaiknya cepat tidur. Selamat malam, Putriku,” kata ibuku sambil mencium keningku.
“Selamat malam juga, Ibu,” jawabku sambil menarik selimut mungil dan terlelap pada malam itu dengan embusan angin yang menyapa dengan dingin.
Unsur Intrinsik Cerpen Tarian Pena
Berikut adalah unsur intrinsik yang terdapat pada cerpen tarian pena:
Tema
Tema dalam cerpen tarian pena adalah kasih sayang dan penyesalan seorang anak terhadap ibunya. Cerita ini menggambarkan hubungan emosional yang mendalam.
Tokoh
Berikut beberapa tokoh yang ada dalam cerpen:
Aku: Tokoh utama yang penuh kasih dan memiliki ikatan emosional kuat dengan ibunya. Ia suka menulis untuk mengekspresikan perasaannya.
Ibu (Perempuan tua): Sosok ibu yang penuh perhatian, selalu menyambut anaknya dengan hangat meskipun ia tampak letih. Dalam bayangan tokoh utama, ibu adalah sosok yang sangat berarti dan sangat dirindukan.
Aryo: Tokoh yang muncul dalam mimpi tokoh utama sebagai sosok lelaki yang didambakannya, meskipun hanya khayalan.
Alur
Alur dari cerpen ini yaitu campuran (maju-mundur), cerita mengikuti alur maju saat tokoh utama menjalani kesehariannya dan melibatkan kilasan atau khayalan tentang masa depan serta bayangan kehilangan ibu, yang menciptakan nuansa emosional mendalam.
Setting
Berikut beberapa setting yang terdapat pada cerpen:
Tempat:
Jalan kampung yang sepi, menggambarkan suasana pedesaan yang tenang dan terik.
"Istana tua" (rumah tokoh utama), yang menjadi tempat utama di mana interaksi antara anak dan ibu terjadi.
Sekolah, di mana tokoh utama melihat temannya dan mengamati suasana di halaman sekolah.
Ruang kamar tidur, tempat ia sering menulis dan menumpahkan perasaannya.
Waktu:
Pagi, sore, dan malam hari, menyesuaikan dengan rutinitas sehari-hari tokoh utama dan menyimbolkan perjalanan emosional dari awal hingga akhir cerita.
Suasana:
Suasana haru, penuh kasih, dan penyesalan tergambar dari interaksi tokoh utama dengan ibunya dan melalui imajinasi kehilangan yang ia alami.
Sudut Pandang
Cerpen ini memakai sudut pandang orang pertama (Aku), cerita disampaikan dari sudut pandang tokoh utama, "Aku" yang mengisahkan pengalamannya secara pribadi dan emosional, membawa pembaca lebih dekat dengan perasaannya.
Gaya Bahasa
Berikut beberapa gaya bahasa yang terdapat pada cerpen:
Bahasa Puitis
Bahasa pada cerpen ini sangat puitis dengan menggunakan banyak majas, seperti metafora ("istana tua" untuk rumah), personifikasi (angin yang menyapa), dan perumpamaan (ibunya disandingkan seperti "pungguk merindukan bulan"), yang menambah keindahan bahasa serta kedalaman emosi.
Gaya Bahasa Naratif Deskriptif
Gaya bahasanya naratif deskriptif dengan memberikan detail yang menghidupkan perasaan tokoh utama dalam setting dan suasana cerita.
Bahasa sehari-hari
Gaya bahasanya sesekali diselipkan percakapan sederhana yang memperkuat hubungan antara tokoh utama dan ibunya, seperti kalimat sapaan hangat dan tanggapan ringan.
Baca Juga: 16 Contoh Cerpen Romansa yang Menarik
Ringkasan cerpen tarian pena adalah sebuah karya sastra yang kaya akan makna dan keindahan. Melalui analisis terhadap unsur-unsur intrinsiknya, pembaca dapat memahami lebih dalam pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.
Cerpen ini tidak hanya menghibur, tetapi juga menginspirasi kita untuk terus berkarya dan mengejar mimpi. (Mit)
