Konten dari Pengguna

Sejarah dan Contoh Ejaan Van Ophuijsen dalam Bahasa Indonesia

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 3 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Ilustrasi contoh ejaan van Ophuijsen. Foto: Unsplash.
zoom-in-whitePerbesar
Ilustrasi contoh ejaan van Ophuijsen. Foto: Unsplash.

Ejaan Van Ophuijsen merupakan ejaan latin pertama yang digunakan dalam tata bahasa Indonesia. Contoh ejaan Van Ophuijsen dapat dilihat dalam catatan sejarah seperti teks proklamasi atau sumpah pemuda.

Menurut Alfian Rokhmansyah dan Syamsul Rijal dalam buku Bahasa Indonesia untuk Perguruan Tinggi (2018), ejaan adalah keseluruhan perlambangan bunyi dengan huruf serta penempatan tanda baca dalam satuan bahasa. Dalam arti lain, ejaan merupakan kaidah atau aturan baku yang digunakan dalam tata bahasa tulis.

Penyusunan ejaan bahasa Indonesia yang saat itu masih disebut bahasa Melayu pertama kali diciptakan oleh Charles Adriaan van Ophuijsen pada 1901. Ejaan van Ophuijsen digunakan hingga tahun 1948.

Setelahnya, ejaan bahasa Indonesia mengalami beberapa kali perubahan dan penyempurnaan, seperti ejaan republik pada 1948, ejaan yang disempurnakan pada tahun 1975, hingga ejaan bahasa Indonesia pada 2015.

Untuk lebih memahami apa itu ejaan van Ophuijsen, simak ulasan berikut.

Sejarah Ejaan Van Ophuijsen

Ilustrasi contoh ejaan van Ophuijsen. Foto: Unsplash.

Sebelum diberlakukannya ejaan bahasa Indonesia, masyarakat menggunakan aksara Arab Melayu untuk menulis surat atau mencatat berbagai hal. Hingga pada tahun 1900, Charles Adriaan van Ophuijsen diminta merancang suatu ejaan latin untuk bahasa Melayu. Ophuijsen sendiri merupakan ahli bahasa Melayu berdarah Belanda yang lahir di Solok, Sumatera Barat.

Dia senang mempelajari berbagai bahasa daerah dan kebudayaan di Hindia Belanda. Kecintaannya terhadap bahasa dan masyarakat Hindia lah yang membuatnya terpilih untuk membuat standardisasi ejaan bahasa Melayu.

Perintah penyusunan ejaan bahasa Melayu dilandasi kebijakan pemerintah Belanda yang mendirikan sekolah khusus pribumi. Ejaan tersebut berfungsi untuk mencegah kekacauan akibat pemakaian ejaan yang berbeda di setiap sekolah.

Dalam proses penyusunannya, Ophuijsen dibantu oleh dua orang pakar bahasa Melayu, yakni Engkoe Nawawi Sutan Makmur dan Mochammad Taib Sutan Ibrahim. Rumusan ejaan van Ophuijsen diterbitkan dalam buku Kitab Bahasa Melayu pada tahun 1901.

Pada tahun yang sama, ejaan van Ophuijsen diakui pemerintah Belanda dan digunakan secara luas. Ejaan van Ophuijsen digunakan selama 46 tahun dan baru diganti setelah dua tahun Indonesia merdeka.

Contoh Ejaan Van Ophuijsen

Ilustrasi contoh ejaan Van Ophuijsen. Foto: Unsplash.

Mengutip buku Kitab EYD Edisi V Terlengkap & Terbaru yang ditulis oleh Eko Sugiarto, ejaan van Ophijsen memiliki ciri yang sangat mencolok, yakni penggunaan kata dj untuk j, j untuk y, oe untuk u, tj untuk c, dan ch untuk kh.

Agar lebih memahami maksudnya, berikut ciri khas ejaan bahasa Indonesia yang dibuat van Ophuijsen lengkap dengan contoh penggunaannya.

  1. Penggunaan huruf dj untuk menulis bunyi j. Contohnya: djangan (jangan), Djakara (Jakarta), dan djika (jika).

  2. Penggunaan huruf j untuk menulis bunyi y. Contohnya: jang (yang), jajasan (yayasan), dan sajang (sayang).

  3. Penggunaan kata oe untuk menulis bunyi u. Contohnya: oeang (uang), oerusan (urusan), dan oendian (undian).

  4. Penggunaan kata tj untuk menulis bunyi c. Contojhnya: tjara (cara), tjiri (ciri), dan tjampur (campur).

  5. Penggunakan kata ch untuk menulis bunyi kh. Contohnya: achir (akhir), machloek (makhluk), dan chasiat (khasiat).

  6. Penggunaan apostrof untuk menuliskan bunyi glotal atau bunyi hamzah. Contohnya: Do’a (doa), ma’lum (maklum) dan Jum’at (Jumat).

  7. Penggunaan tanda -,- untuk menyatakan sesuatu yang sama seperti yang ditulis di baris atas.

(GLW)