Konten dari Pengguna

Sejarah Sepak Bola Wanita di Indonesia dari Awal hingga Saat Ini

Kabar Harian
Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
26 Februari 2025 21:03 WIB
·
waktu baca 7 menit
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Sepak Bola Wanita. Foto: Pexels/Anastasia Shuraeva
zoom-in-whitePerbesar
Sepak Bola Wanita. Foto: Pexels/Anastasia Shuraeva
ADVERTISEMENT
Sepak bola bukan hanya milik kaum pria, tetapi juga menjadi bagian dari perjuangan wanita dalam dunia olahraga.
ADVERTISEMENT
Di Indonesia, sepak bola wanita memiliki sejarah panjang yang penuh tantangan, mulai dari minimnya kompetisi hingga kurangnya dukungan.
Mengutip dari Jurnal Olahraga, Papat Yunisal, (2019:81), sepak bola di Indonesia bukan hanya sekadar olahraga, tetapi juga suatu identitas, kebanggaan, dan alat perjuangan bangsa.

Sejarah Sepak Bola Wanita di Indonesia

Sepak Bola Wanita. Foto: Pexels/Anastasia Shuraeva
Berikut adalah sejarah sepak bola wanita di Indonesia. Olahraga sepak bola adalah olahraga yang paling banyak digemari oleh seluruh lapisan masyarakat di Indonesia.
Animo masyarakat dari banyak kalangan sangat menyukai olahraga yang satu ini, baik sepak bola luar negeri maupun dalam negeri.
Sepak bola merupakan identitas kolektif bangsa, ras, agama dan etnis. Indonesia merupakan negara yang multietnis, begitupun tim nasional sepak bola Indonesia yang berisikan putra putri terbaik bangsa dari berbagai daerah baik di dalam maupun di luar negeri.
ADVERTISEMENT
Sepak bola mempunyai keterkaitan erat dengan dimensi kehidupan sosial. Popularitas sepak bola di semua golongan masyarakat dalam perjalanan sejarah dapat dimanfaatkan untuk kepentingan politik, sosial, dan ekonomi suatu negara.
Dilihat dari segi hiburan, sepak bola bisa membuat penonton dan pendukung menjadi bagian penting yang tidak terpisahkan. Setiap kejuaraan sepak bola selalu disambut dengan antusias oleh masyarakat.
Sepak bola di Indonesia pertama kali diperkenalkan oleh Pemerintah Kolonial Belanda.
Pada awal kemunculannya, rakyat Indonesia melihat orang-orang Belanda bermain dan mereka mengikutinya. Beberapa klub sepak bola modern milik Belanda mulai bermunculan diantaranya Rood-Wit (1893) dan Victoria (1895).
Secara berturut-turut akhirnya bond-bond Sepakbola tumbuh di kota-kota besar terutama Batavia, Bandung, Semarang, dan Surabaya.
ADVERTISEMENT
Untuk mewadahi dan mengatur klub-klub sepak bola milik pribumi maka pada 19 April 1920 dibentuklah organisasi Persatoean Sepak Raga Seloeroeh Indonesia. Ketua umum pertamanya adalah Ir. Soeratin Sosrosoegondo.
Pada masa awal kemunculan PSSI sepak bola identik sebagai sesuatu hal yang berbau maskulin. Ketika perempuan terlibat dalam permainan sepak bola dianggap sebagai hal yang unik, aneh, tidak biasa, bahkan suatu hal yang tabu.
Hal tersebut membuat masyarakat patriarki menganggap sepak bola hanya cocok dimainkan oleh laki-laki. Kendati demikian, perempuan mulai meminati sepak bola dengan mulai bermunculannya pemain sepak bola perempuan.
Pada tahun 1950 masyarakat dihebohkan oleh kabar tentang Rita Zahara yang dikenal sebagai seorang artis dan penyanyi turun ke lapangan untuk bermain sepak bola bersama laki-laki.
ADVERTISEMENT
Kegemparan tersebut muncul karena pada saat itu masyarakat menilai bahwa sepak bola sebagai olahraga yang sangat keras dan kasar. Pemainnya dituntut untuk berlari, merebut bola, berbenturan dengan lawan, berjibaku di lapangan dan lain-lain.
Pada tahun 1969 sepak bola wanita Indonesia mulai mendapat perhatian dengan terbentuknya kesebelasan sepak bola wanita pertama di Indonesia yaitu Putri Priangan. Terbentuknya kesebelasan Putri Priangan ini atas dorongan dari PSSI.
PSSI menganjurkan kepada setiap pengurus di masing-masing daerah untuk membentuk tim sepak bola wanita dalam rangka memenuhi undangan dari kesebelasan Penang Malaysia.
Bermunculannya klub-klub seperti Putri Priangan dan Buana Putri menjadikan sepak bola wanita Indonesia dikenal di dunia Internasional khususnya di kawasan Asia setelah kesebelasan Buana Putri pada tahun 1977 sudah diterima menjadi anggota ALFC (Asian Ladies Football Confederation) dan ikut serta dalam Turnamen Asian Cup ke-III di Taipei.
ADVERTISEMENT
Puncak perkembangan sepak bola wanita di Indonesia terjadi pada tahun 1978 dengan dibentuknya sebuah wadah yang secara formal menghimpun seluruh aspirasi tentang persepakbolaan wanita yang dikenal dengan Galanita (Liga Sepakbola Wanita) yang termasuk unsur penunjang organisasi PSSI.
Selama kemunculan dan perkembangan Galanita tidak terlepas dari peran salah satu tokoh sepak bola wanita yaitu Dewi Wibowo.
Ia ditunjuk sebagai ketua Komisi Galanita PSSI yang terjun ke dunia sepak bola wanita sejak tahun 1964. Ia merupakan pelopor berdirinya kesebelasan Buana Putri.
Selama berkecimpung dalam dunia sepak bola wanita ia menyatakan bahwa perjuangan untuk membentuk dan mempertahankan eksistensinya di masyarakat cukup berat, salah satu penyebabnya ialah adanya hambatan dari pengurus PSSI yang tidak mengakui keberadaan Komisi Galanita.
ADVERTISEMENT
Dengan dikeluarkannya Surat Keputusan Pengurus Harian PSSI No. 71-XII/1978 pasal 12 ayat 2 persepakbolaan wanita mendapat wadah dalam lingkungan organisasi PSSI dan secara utuh memberikan hak otonom kepada Galanita untuk mengatur kegiatannya sendiri.
Dengan diperolehnya status otonom ini, Galanita menjadi lembaga yang organik di bawah naungan PSSI tetapi mandiri dalam hal pelaksanaan kegiatan persepakbolaan wanita.
Status sebagai lembaga organik dan mandiri tidak menjadikan Galanita bisa berkembang pesat sebagaimana sepak bola pria. Dalam sejarah perkembangannya tahun 1969 hingga 1988 menjadi tahun yang bermakna bagi sepak bola wanita Indonesia karena perjalanannya yang tidak mudah.
Sepak bola wanita harus berjuang keras mencari bibit pemain, membentuk organisasi atau klub, menghadapi pihak-pihak yang pro dan kontra terhadap keberadaannya, serta mendapatkan status keorganisasian dari PSSI sendiri.
ADVERTISEMENT

Tantangan Sepak Bola Wanita di Indonesia

Sepak Bola Wanita. Foto: Pexels/Anastasia Shuraeva
Meskipun sepak bola wanita di Indonesia terus berkembang, ada berbagai tantangan yang menghambat kemajuannya. Berikut adalah beberapa tantangan utama yang dihadapi.

1. Minimnya Kompetisi dan Pembinaan Pemain Muda

Tidak adanya liga yang berkelanjutan: Liga 1 Putri yang pertama kali digelar pada 2019 belum berjalan secara rutin setiap tahun, sehingga pemain sulit menjaga performa dan jam terbang mereka. Kurangnya turnamen usia muda: Kompetisi untuk pemain wanita di level junior sangat terbatas, sehingga regenerasi pemain sulit dilakukan. Dampak: Pemain berbakat kesulitan mendapatkan pengalaman bertanding yang cukup, yang berakibat pada kurangnya kualitas timnas wanita.

2. Kurangnya Dukungan Finansial dan Sponsor

Minimnya sponsor: Sepak bola wanita kurang menarik bagi sponsor dibandingkan sepak bola pria, karena dianggap memiliki daya tarik pasar yang lebih kecil. Dukungan klub yang masih rendah: Tidak semua klub sepak bola pria memiliki tim wanita, sehingga pengembangan sepak bola wanita masih terbatas. Dampak: Tanpa dukungan finansial yang cukup, sulit bagi klub dan pemain untuk berkembang, baik dari segi fasilitas, pelatihan, maupun gaji pemain.
ADVERTISEMENT

3. Kurangnya Pelatih dan Fasilitas Khusus untuk Sepak Bola Wanita

Jumlah pelatih bersertifikat masih sedikit: Pelatih yang memiliki lisensi khusus untuk sepak bola wanita masih sangat terbatas. Fasilitas latihan tidak memadai: Banyak tim wanita harus berbagi lapangan dengan tim pria atau bahkan tidak memiliki tempat latihan yang layak. Dampak: Pengembangan pemain wanita menjadi lebih lambat dibandingkan negara lain yang memiliki fasilitas lebih baik.

4. Stereotip Gender dan Kurangnya Dukungan Masyarakat

Sepak bola masih dianggap sebagai olahraga pria: Banyak masyarakat yang masih memiliki anggapan bahwa wanita tidak cocok bermain sepak bola. Kurangnya eksposur media: Liputan tentang sepak bola wanita masih jauh lebih sedikit dibandingkan sepak bola pria, sehingga popularitasnya rendah. Dampak: Kurangnya dukungan ini membuat sedikitnya anak perempuan yang tertarik untuk menekuni sepak bola sejak dini, sehingga bakat potensial sulit ditemukan.
ADVERTISEMENT

5. Kesenjangan dengan Negara-Negara Asia Lainnya

Persaingan yang semakin ketat: Negara-negara Asia seperti Jepang, Korea Selatan, dan Australia sudah jauh lebih maju dalam sepak bola wanita, baik dari segi kompetisi maupun pembinaan. Kurangnya pengalaman internasional: Timnas Wanita Indonesia jarang mendapatkan kesempatan bertanding melawan tim-tim besar Asia, sehingga sulit meningkatkan kualitas permainan. Dampak: Indonesia masih tertinggal dalam peringkat FIFA dan sulit bersaing di turnamen besar seperti Piala Asia atau SEA Games.

6. Kurangnya Program Pengembangan Karier Pasca-Pensiun

Tidak banyak pemain sepak bola wanita yang mendapatkan kesempatan berkarier setelah pensiun, baik sebagai pelatih, analis, atau bagian dari manajemen sepak bola. Minimnya dukungan untuk transisi karier menyebabkan banyak pemain harus mencari pekerjaan di luar sepak bola setelah berhenti bermain. Dampak: Hal ini membuat banyak pemain berbakat enggan untuk serius menekuni sepak bola, karena masa depan mereka setelah pensiun tidak terjamin.
ADVERTISEMENT
Perjalanan sepak bola wanita di Indonesia memang masih penuh tantangan, tetapi perkembangan yang ada menunjukkan arah yang positif.
Dengan semakin banyaknya kompetisi, dukungan dari berbagai pihak, serta peningkatan kesadaran masyarakat, sepak bola wanita berpeluang besar untuk berkembang lebih pesat.
Cari tahu perkembangan sepak bola wanita Indonesia dan dunia hanya di Instagram @kumparanbolanita. (Dista)