Siapa yang Jatuh Cinta terhadap Refleksinya Sendiri di Mitos Yunani?

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Siapa yang jatuh cinta terhadap refleksinya sendiri di mitos Yunani? Ada banyak mitologi Yunani yang menarik perhatian dan masih menjadi perdebatan hingga saat ini, salah satunya adalah kisah tentang seorang pemuda tampan yang jatuh cinta kepada refleksinya sendiri.
Kisah tentang pria yang jatuh cinta kepada bayangannya sendiri ini telah menjadi simbol narsisme dan memiliki dampak yang mendalam dalam bidang seni, psikologi, dan budaya. Lantas, siapa sebenarnya sosok pria ini?
Siapa yang Jatuh Cinta terhadap Refleksinya Sendiri di Mitos Yunani?
Dalam mitologi Yunani, sosok pria yang diceritakan jatuh cinta terhadap refleksinya sendiri adalah Narcissus atau Narkissos. Narcissus adalah seorang pemuda tampan yang terkena kutukan sehingga ia mencintai bayangannya sendiri.
1. Asal-usul Narcissus
Narcissus adalah anak dari dewa sungai Kefissos dan seorang peri bernama Liriope. Mengutip Buku Saku dari dan untuk Orang Sombong oleh Wardaturrwang, sang ibu Liriope mulai mengandung Narcissus setelah dirinya diperkosa oleh Kefissos.
Versi lain juga menyebutkan, bahwa kejadian tragis itu mengantarkan Narcissus ke dunia dengan kutukan yang menyertainya di masa depan. Ia yang lahir dengan paras rupawan tanpa cela tidak diperbolehkan melihat wajahnya sendiri.
Seorang peramal bernama Teiresias memperingatkan Liriope bahwa Narcissus akan berumur panjang selama ia tidak pernah melihat dirinya sendiri.
Sejak itu, Narcissus tumbuh besar tanpa mengetahui sedikit pun bagaimana wajahnya. Para wanita, entah dari kalangan manusia ataupun peri yang datang untuk mengaguminya hanya dianggap angin lalu dan tidak benar-benar ia hiraukan keberadaannya.
2. Balas Dendam Echo dan Kutukan Dewi Nemesis
Suatu ketika, ketampanan Narcissus memikat salah seorang peri bernama Echo. Namun, sama seperti wanita lainnya, ia tidak membalas perasaan peri cantik tersebut. Hal ini menyebabkan hati Echo hancur karena penolakan Narcissus.
Echo pun berdoa sambil menangis terisak-isak kepada Dewi Nemesis, seorang dewi balas dendam, untuk membalaskan dendamnya atas penolakan Narcissus. Dewi Nemesis pun mendengar doa Echo dan merasa simpati padanya.
Sebagai respons, Dewi Nemesis mengutuk Narcissus. Kutukan ini menyebabkan Narcissus jatuh cinta kepada bayangannya sendiri. Puncak dari kutukan ini terjadi ketika Narcissus tidak sengaja melihat bayangannya sendiri di sebuah kolam.
Narcissus tertawan dan jatuh cinta pada bayangan dirinya sendiri sehingga perasaan tersebut membuatnya memandangi pantulan air kolam tanpa henti. Begitu fokusnya ia, hingga tidak sadar terjatuh ke air kolam dan mati tenggelam.
3. Versi Alternatif
Selain kisah dengan Echo, ada versi lain yang mengatakan bahwa Narcissus tidak hanya menarik perhatian wanita. Seorang pria bernama Ameinias juga jatuh cinta padanya. Namun, Narcissus menolak perasaan pria tersebut.
Sebagai bentuk penolakan cintanya, Narcissus mengirimkan hadiah pedang kepada Ameinias. Dalam keputusasaannya, Ameinias bunuh diri di hadapan Narcissus dengan pedang tersebut.
Sebelum meninggal, Ameinias mengutuk Narcissus bahwa pria itu akan jatuh cinta kepada bayangannya sendiri dan pada akhirnya bunuh diri.
4. Menginspirasi Seni Romantik
Kisah Narcissus telah menjadi inspirasi yang sangat populer dalam seni Romantik. Beberapa seniman Romantik, seperti John William Waterhouse dan Salvador Dalí, telah menciptakan karya seni yang terinspirasi oleh mitos ini.
Lukisan yang dibuat para seniman tersebut sering kali menampilkan sosok Narcissus yang sedang memandangi bayangannya sendiri di air kolam.
5. Psikologi Narsisme
Selain dalam mitologi dan seni, kisah Narcissus juga memiliki hubungan terkait psikologi. Mengutip buku Sosio-Antropologi Kesehatan oleh Jeini Ester Nelwan, istilah "narsisme" pertama kali digunakan dalam psikologi oleh Sigmund Freud dengan mengambil nama tokoh Narcissus.
Narsisme adalah perasaan cinta terhadap diri sendiri secara berlebihan. Orang yang mengalami kondisi ini disebut dengan narsisis. Kondisi ini sering dianggap sebagai bentuk ketidakmatangan emosional.
Itulah penjelasan mengenai sosok siapa yang jatuh cinta terhadap refleksinya sendiri di mitos Yunani serta keterkaitannya dalam dunia seni dan psikologi.
(SFR)
