Konten dari Pengguna

Struktur Teks Editorial, Pengertian, dan Contohnya

Kabar Harian

Kabar Harian

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.

·waktu baca 7 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Teks Editorial: Pengertian, Struktur dan Contohnya. Foto: Pexels
zoom-in-whitePerbesar
Teks Editorial: Pengertian, Struktur dan Contohnya. Foto: Pexels

Daftar isi

Teks editorial disebut juga teks opini. Struktur teks editorial meliputi tiga hal, yakni tesis, argumen, dan penegasan.

Teks editorial/opini sendiri merupakan salah satu ragam bahasa jurnalistik. Teks editorial mengandung unsur-unsur bahasa yang dapat mengekspresikan sikap eksposisi.

Teks eksposisi adalah teks ini berfungsi untuk memaparkan dan menjelaskan suatu informasi. Adanya jenis teks ini dalam teks editorial menunjukkan bahwa teks editorial merupakan teks yang bergenre makro. Simak pembahasan selengkapnya di bawah ini.

Pengertian Teks Editorial

Pengertian Teks Editorial. Foto: Unsplash

Imam Taufik dalam buku Explore Bahasa Indonesia Jilid 3 menjelaskan bahwa pengertian teks editorial adalah artikel atau teks dalam surat kabar atau majalah yang mengungkapkan pendirian editor atau pimpinan surat kabar atau majalah tersebut mengenai beberapa pokok masalah.

Isu yang dimuat dalam teks editorial bisa meliputi masalah politik, masalah sosial, juga masalah ekonomi. Perlu dicatat dengan baik bahwa meski teks editorial disebut opini, tapi opini dalam teks editorial berisi pendapat pribadi redaksi, bukan pendapat si penulis teks.

Fungsi teks editorial adalah untuk memberikan sudut pandang atau pendapat dari pihak yang menulis mengenai suatu isu tertentu.

Teks editorial juga dapat berfungsi sebagai sarana untuk menyampaikan kritik, saran, atau solusi terhadap suatu masalah yang sedang terjadi di masyarakat.

Ciri-ciri Teks Editorial

Teks editorial memiliki ciri-ciri yang membedakannya dengan teks jenis lainnya. Berikut penjelasannya.

  • Menggunakan bahasa formal dan baku.

  • Mempunyai struktur yang terorganisir dengan baik, meliputi pengenalan, isi, dan penutup.

  • Berisi opini atau pendapat yang jelas dan tegas terhadap suatu isu atau peristiwa.

  • Berisi fakta atau data yang mendukung pendapat penulis.

  • Biasanya ditandai dengan judul yang menarik dan mencolok.

  • Mempunyai tujuan untuk mempengaruhi pembaca dan menyampaikan pesan yang ingin disampaikan oleh penulis.

Baca Juga: Apa Pengertian Teks Eksposisi? Ini Penjelasannya

Struktur Teks Editorial

Struktur Teks Editorial. Foto: Pexels

Mengutip Modul Struktur dan Kebahasaan Teks Editorial Bahasa Indonesia Kelas XII yang disusun Foy Ario, M.Pd., struktur umum teks editorial meliputi pengenalan isu (tesis), argumentasi, dan penegasan. Berikut penjelasannya.

1. Pengenalan isu

Pengenalan isu merupakan bagian pendahuluan teks editorial. Fungsinya adalah mengenalkan isu atau permasalahan yang akan dibahas dalam bagian berikutnya.

Pada bagian pengenalan isu disajikan peristiwa persoalan aktual, fenomenal, dan kontrovesial. Pernyataan pendapat/tesis yang berisi sudut pandang penulis tentang masalah yang dibahas. Biasanya tesis merupakan teori yang diperkuat dengan argumen.

2. Penyampaian pendapat/argumen

Bagian ini merupakan bagian pembahasan yang berisi tanggapan redaksi terhadap isu yang sudah diperkenalkan sebelumnya.

Argumentasi, berupa alasan atau bukti yang digunakan untuk memperkuat pernyataan umum atau data hasil penelitian, pernyataan para ahli, maupun fakta-fakta berdasarkan referensi yang dapat dipercaya.

3. Penegasan

Penegasan dalam teks editorial berupa simpulan, saran atau rekomendasi. Di dalamnya juga terselip harapan redaksi kepada para pihak terkait dalam menghadapi atau mengatasi persoalan yang terjadi dalam isu tersebut.

Pernyataan/penegasan ulang pendapat, berisi penegasan ulang pendapat yang didukung oleh fakta untuk memperkuat atau menegaskan keseluruhan isi teks editorial.

Baca Juga: Pengertian, Struktur, dan Ciri-Ciri Teks Biografi

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial

Kaidah Kebahasaan Teks Editorial. Foto: Pexels

Ada banyak kaidah kebahasaan yang digunakan dalam membuat teks editorial. Berikut beberapa di antaranya.

1. Adverbia frekuentatif dan Modalitas

Adverbia frekuentatif adalah adverbia yang mempertegas ekspresi kepastian. Dalam tradisi struktur fungsional linguistik (SFL), hal ini sering juga disebut modalitas.

Contoh adverbia frekuentatif adalah selalu, biasanya, sering, kadang-kadang, jarang, dan kerap.

2. Konjungsi

Konjungsi yang digunakan pada teks editorial adalah konjungsi eksternal temporal, konjungsi internal penegasan, dan konjungsi kausalitas/sebab-akibat. Berikut adalah contoh ketiga konjungsi tersebut.

  • Konjungsi eksternal temporal: pertama, kedua, berikutnya, kemudian, setelah itu.

  • Konjungsi internal penegasan: lagipula

  • Konjungsi eksternal penegasan: bahkan, selain itu

  • Konjungsi kausalitas/sebab-akibat: oleh karena itu, jadi, oleh sebab itu, dengan demikian, karena, sehingga

  • Konjungsi internal persyaratan/pengandaian: agar, supaya.

3. Verba/kata kerja

Verba dalam linguistik struktural harus dianalisis berdasarkan struktur klausa. Alasannya, skema informasi diterapkan pada tataran klausa.

Kita tidak bisa menerapkan verba hanya pada tataran jenis kata semata. Verba terbagi menjadi enam jenis proses: material, tingkah laku (behavioural), verbal, mental, relasional, dan eksistensional.

Dalam teks editorial, terdapat tiga jenis proses verba, yaitu material, mental, dan relasional.

a. Verba material

Verba ini menekankan adanya proses dalam melakukan sesuatu. Proses material membutuhkan dua partisipan yang disebut (1) pelaku dan (2) yang dikenai pelaku. Contohnya adalah sebagai berikut.

  • Singa itu menerkam anak

  • Daus memukul tembok

b. Verba mental

Verba mental adalah verba yang menjelaskan proses dalam merasakan. Ada tiga hal yang dijelaskan dalam proses ini, yaitu

  • Persepsi: (melihat, mendengar, mencium, mengecap, meraba)

  • Afeksi: (suka, takut, benci)

  • Kognisi: (berpikir, memahami, mengetahui)

Dalam proses mental terdapat dua partisipan yang disebut yang merasakan (perasaan sadar untuk melihat, merasakan, atau berpikir) dan fenomena (hal yang dirasakan atau dipikirkan). Beriku contohnya:

  • Aku percaya akan kamu

  • Alfi mencintai istrinya

  • Meida melihat setan

c. Proses relasional

Verba relasional adalah proses untuk menjadi sesuatu. Terdapat tiga tipe proses relasional, yaitu:

  1. Intensif a adalah b (membentuk hubungan persamaan di antara dua entitas).

  2. Keadaan a ada pada b (mendefinisikan suatu entitas berada pada suatu tempat, waktu, atau sikap).

  3. Posesif/kepemilikan a memiliki b (mengidentifikasi bahwa satu entitas memiliki yang lain)

Setiap tipe proses di atas menciptakan dua model:

  • Atributif (b adalah atributif untuk a). Proses ini membutuhkan dua partisipan, yaitu penanda dan petanda atau penyandang dan sandangan. Contoh: Politikus Senayan telah memiliki gaji dan tunjangan yang memadai.

  • Identifikatif (b adalah identitas bagi a). Proses ini membutuhkan dua partisipan, yang disebut token dan yang teridentifikasi dan partisipan nilai dan pengidentifikasi. Contoh: Tugas kepala daerah adalah memimpin daerahnya

4. Modalitas

Salah satu ciri kebahasaan teks editorial adalah adanya penggunaan kalimat pendapat dan pandangan seorang penulis terhadap suatu permasalahan (tesis).

Untuk menunjukkan hal ini, teks editorial membutuhkan ciri kebahasaan yang lain, yaitu modalitas. Modalitas adalah cara penulis menyatakan sikap dalam sebuah komunikasi.

Beberapa bentuk modalitas di antaranya adalah memang, niscaya, pasti, sungguh, sangat, tentu, tidak, bukan (untuk menyatakan kepastian), agaknya, barangkali, mungkin, rasanya, rupanya (untuk menyatakan kesangsian), semoga, mudah-mudahan (menyatakan keinginan), jangan (larangan), mustahil (keheranan).

Contoh Teks Editorial dan Strukturnya

Contoh Teks Editorial dan Strukturnya. Foto: Unsplash

Dikutip dari buku Teks dalam Kajian Struktur dan Kebahasaan oleh Taufiqur Rahman, berikut contoh teks editorial beserta strukturnya.

Judul: Menjual Sembari Menjaga Nirwana

Pernyataan Pendapat:

Indonesia adalah surga sekaligus kisah nyata, bukan isapan jempol belaka atau romantisme dari masa lalu. Ada begitu banyak tempat indah yang tersembunyi dan masih belum tersentuh. Sayangnya, tempat-tempat itu belum digarap serius sebagai tujuan wisata. Jangankan membuat program wisata yang kreatif, membangun prasarananya saja kerap tidak dilakukan pemerintah. Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan keindahan sejumlah tempat terancam oleh eksploitasi alam yang salah

Argumentasi:

Dalam beberapa tahun terakhir, bahkan keindahan sejumlah tempat terancam oleh eksploitasi alam yang salah dan serakah. Padahal, dengan pariwisata, daerah bisa mendapatkan penghasilan sekaligus memelihara alam selingkungannya. Di kepulauan Togean, Sulawesi Tengah, ironi itu terpampang nyata. Kepulauan itu memiliki pantai- pantai indah, laut yang bening dan tenang, serta ikan berwarnawarni yang menyelinap di antara terumbu karang indah. Menjelang senja, matahari menjadi bola merah yang ditelan laut jingga.

Namun, di sana juga berlangsung perusakan alam yang kerap didukung para politikus. Mereka dating hanya pada saat kampanye untuk memancing suara, bahkan mempersilakan para nelayan mengehom terumbu karang. Keinginan pemerintah pusat menjadikannya sebagai taman nasional ditentang justru oleh pemerintah daerah. Di Mentawai, Sumatera Barat, lain lagi yang terjadi.

Kepulauan ini memiliki ombak terbaik untuk berselancar. Di dunia ini hanya ada tiga tempat yang memiliki barrel-ombak berbentuk terowongan yang dapat ditemui sepanjang waktu: Hawaii, Haiti, dan Mentawai.

Namun, pemerintah daerah seolah-olah tidak berdaya di sana. Resor tumbuh menjamur, tetapi kontribusi mereka kepada ekonomi daerah amat minimal. Mungkin ini merupakan bentuk "protes" mereka kepada pemerintah daerah yang tidak serius membangun prasarana wisata di sana. Dengan ribuan "surga yang tersembunyi" itu, pemerintah seharusnya bisa menaikkan jumlah wisatawan asing yang datang ke negeri ini.

Penegasan (Pernyataan Ulang Pendapat)

Indonesia memang surga sekaligus kisah nyata. Di tangan para pemangku kepentingan terletak tanggung jawab merayakannya.

(DEL)