Urutan Silsilah Keluarga Jawa yang Menarik untuk Diketahui

Menyajikan beragam informasi terbaru, terkini dan mengedukasi.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kabar Harian tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Masyarakat Jawa dikenal memiliki struktur sosial yang kuat dan menjunjung tinggi nilai-nilai kekeluargaan. Salah satu bentuk pelestarian nilai-nilai tersebut terlihat dalam urutan silsilah keluarga Jawa yang tersusun dengan rapi dan sistematis.
Dalam masyarakat Jawa silsilah keluarga sering disebut dengan urutane turunan. Memahaminya sangat penting untuk menjaga keharmonisan antar anggota keluarga, melestarikan garis keturunan, serta menghindari pernikahan keluarga yang masih memiliki hubungan darah dekat.
Urutan Silsilah Keluarga Jawa: Memahami Struktur Kekerabatan Tradisional
Keluarga bisa diartikan sebagai inti terkecil dari masyarakat yang memiliki anggota meliputi ayah, ibu, dan anak. Dalam cakupan yang lebih luas, pengertian keluarga tidak hanya sekedar itu saja tetapi juga mencakup saudara-saudara lain yang memiliki ikatan sedarah.
Dari ikatan sedarah itulah terbangun silsilah keluarga. Dikutip Membuat Silsilah Keluarga Pakai Komputer: Software Tersedia Gratis oleh JUD ( 2017:2), silsilah keluarga merupakan urutan keturunan dalam sebuah keluarga. Silsilah ini cenderung bersifat historis, artinya mulai dibangun dari nenek moyang hingga keturunannya saat ini.
Bagi budaya Jawa, silsilah keluarga menjadi bagian dari identitas dan kehormatan keluarga. Untuk memudahkan dalam memahami urutan silsilah keluarga Jawa, silsilah ini dikelompokkan menjadi dua yaitu sebagai berikut.
1. Urutan Turunan Munggah
Urutan turunan munggah bisa diartikan sebagai urutan generasi keluarga dari orang tua ke atas. Adapun urutannya yaitu:
Wong tuwo: Orang tua yang terdiri dari bapak dan ibu.
Mbah: Kakek dan nenek, orang tua dari bapak dan ibu.
Buyut: Kakek dan nenek buyut atau orang tua dari mbah.
Canggah: Kakek dan nenek dari mbah atau orang tua dari buyut.
Wareng: Orang tua dari canggah.
Udheg-udheg: Orang tua dari wareng.
Gantung siwur: Orang tua dari udheg-udheg.
Grepak senthe: Orang tua dari gantung siwur.
Debok bosok: Orang tua dari grepak senthe.
Galih asem: Orang tua dari debok bosok.
Gropak waton: Orang tua dari galih asem.
Mbah cendheng: Orang tua dari gropak waton.
Mbah giyeng: Orang tua dari mbah cendheng.
2. Urutan Turunan Mudhun
Urutan turunan mudhun diartikan sebagai urutan generasi keluarga dari orang tua ke bawah. Adapun rinciannya yaitu:
Wong tuwo: Orang tua, bapak dan ibu.
Anak: Anak dari bapak dan ibu.
Putu: Cucu, anak dari anak bapak dan ibu.
Buyut: Anak dari cucu.
Canggah: Anak dari buyut.
Wareng: Anak dari canggah.
Udheg-udheg: Anak dari wareng.
Gantung siwur: Anak dari udheg-udheg.
Grepak senthe: Anak dari gantung siwur.
3. Sebutan Silsilah Lain
Selain urutan di atas, ada sebutan lain untuk silsilah keluarga dalam masyarakat Jawa yaitu:
Pakdhe (Bapak Gedhe): Sapaan untuk kakak laki-laki dari ayah atau ibu.
Budhe (Ibu Gedhe): Sapaan untuk kakak perempuan dari ayah atau ibu.
Paklik (Bapak Cilik): Sapaan untuk adik laki-laki dari ayah atau ibu.
Bulik (Ibu Cilik): Sapaan untuk adik perempuan dari ayah atau ibu.
Ponakan: Sapaan untuk anak dari saudara kandung.
Dengan memahami urutan silsilah keluarga Jawa, pembaca tidak hanya mengenal garis keturunan, tetapi juga turut melestarikan nilai-nilai budaya yang telah diwariskan secara turun-temurun. Silsilah ini menjadi penghubung antar generasi. (MRZ)
Baca juga: Mengenal Silsilah Keluarga dalam Bahasa Inggris
