Kisah Warga Wajo Rayakan Hari Kemenangan dalam Genangan

Portal berita online seputar Wajo dan Sulawesi Selatan.
Tulisan dari Tim Kabar Wajo tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

SENGKANG, KABARWAJO.com - Perayaan Idul Fitri 1438 Hijriah bagi sebagian masyarakat Kabupaten Wajo mungkin berbeda dari tahun-tahun sebelumnya. Curah hujan tinggi yang mengguyur wilayah Kabupaten Wajo beberapa hari terakhir mengakibatkan banjir rob di sejumlah wilayah.
Sejumlah daerah yang terdampak banjir tersebut merupakan wilayah yang berada di pesisir Danau Tempe, yakni Kecamatan Sabbangparu, Tempe, dan Kecamatan Belawa. Akibatnya, genangan air setinggi satu sampai dua meter ini membuat warga terpaksa menggunakan perahu dalam menjalankan aktivitasnya.
Warga Bola Aserae, Dusun Wattang, Desa Leppangeng, Kecamatan Belawa misalnya. Mereka terpaksa menggunakan perahu untuk menunaikan shalat Idul Fitri di Masjid Hilaluddin. Warga 'memarkir' perahunya di sekitar masjid, dan terpaksa melaksanakan shalat id di lantai dua mengingat lantai dasar masjid juga tergenang air.
Beberapa wilayah lain yang terdampak banjir yakni Dusun Abbanuang, Desa Lautang, Desa Menreli, Desa Timoreng, Desa Tancung, dan Desa Wette.
Daerah lain yang terdampak banjir yakni Alausalo, Kecamatan Belawa. Warga terpaksa melaksanakan shalat id di atap rumah warga yang lokasinya lebih tinggi. Pasalnya, masjid yang ada di desa tersebut terendam banjir.
"Kami salat di atap rumah karena banjir melanda daerah ini sejak awal puasa lalu dengan ketinggian mencapai lima meter. Berbagai fasilitas umum seperti masjid juga ikut terendam," kata Jamal, warga setempat kepada wartawan, Minggu (25/6/2017).
Warga lainnya, Risma, mengaku ini untuk pertama kalinya dirinya beribadah di atap rumah.
"Baru pertama kali ini kami melaksanakan salat Idul Fitri di atap rumah warga karena masjid yang sering ditempati salat terendam banjir. Mudah-mudahan banjir ini cepat surut sehingga warga bisa beraktivitas kembali seperti biasanya," ujarnya.
Kondisi banjir ini juga pun membuat warga yang hendak bersilaturahmi (massiara) terpaksa menggunakan perahu untuk berkunjung ke rumah kerabat.
"Saya pertama kali menaiki perahu kecil ini, saya sempat menangis karena ketakutan. Ketika perahunya goyang, saya berteriak lagi. Tapi, alhamdulillah saya bisa selamat sampai ke tempat tujuan," kata Miah, warga Kelurahan Watanglipue, Kecamatan Tempe.
Sebelumnya, banjir juga menyebabkan beberapa akses jalan terhambat. Misalnya di Cempa, Kecamatan Pammana, yang merupakan jalan poros yang menghubungkan Bone dan Wajo. Banjir juga menyebabkan ruas jalan Majauleng-Bola, tepatnya Dusun Limpua, Desa Tua, Kecamatan Majauleng, terputus.
Menanggapi kondisi tersebut, Anggota DPRD Kabupaten Wajo, Andi Gusti Makkarodda, berharap Pemerintah Daerah melalui Dinas Bina Marga, Cipta Karya, Jasa Konstruksi, dan Tata ruang bisa segera turun memantau dan membuat perencanaan untuk segera dianggarkan dan dikerja pasca pembahasan APBD Perubahan.
“Kasian masyarakat jika sampai lewat tahun baru mau dikerja. Kondisi Wajo menjadi yang luar biasa seperti ini karena curah hujan yang sangat tinggi, tentu sinergitas program dan aksi SKPD kita sangat harapkan,” kata politisi dengan akronim AGM itu.
