Kadang, yang Menghancurkan Cinta Bukan Orang Ketiga: Khw 400

Mahasiswa universitas Pamulang.
·waktu baca 6 menit
Tulisan dari Salma Nurul Fadhilah tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernah nggak kamu melihat sebuah hubungan yang dari luar tampak baik-baik saja, tetapi ternyata menyimpan banyak luka yang tidak diketahui orang lain? Dua orang masih bersama, masih terlihat sebagai pasangan, bahkan mungkin masih saling mengatakan cinta. Namun, di balik itu, ada salah satu pihak yang terus menahan perasaan, memendam kekecewaan, dan berusaha mempertahankan hubungan yang perlahan membuatnya kehilangan kebahagiaan.
Hal seperti ini mengingatkanku pada kisah Pulang dalam konten Kisah Horor Wawak (KHW) Part 400 yang dibawakan Nadia Omara. Cerita yang ramai dibicarakan ini tidak hanya menyajikan misteri dan unsur horor, tetapi juga mengangkat sisi gelap kehidupan rumah tangga. Di balik kehidupan keluarga yang tampak baik-baik saja, terdapat persoalan serius yang berujung pada tragedi.
Salah satu hal yang bisa direnungkan dari kisah tersebut adalah bagaimana masalah dalam hubungan dapat tersembunyi di balik kehidupan yang terlihat normal. Kita tidak pernah benar-benar tahu apa yang terjadi di dalam rumah tangga orang lain. Pasangan yang terlihat harmonis di hadapan banyak orang belum tentu menjalani hubungan yang sehat ketika hanya berdua.
Tentu, kisah horor tersebut bukan gambaran semua hubungan di dunia nyata. Namun, ada persoalan yang layak kita bicarakan lebih jauh: bagaimana ego, sikap merasa paling benar, dan komunikasi yang buruk dapat membuat hubungan semakin menyakitkan
Ketika Ego Lebih Penting daripada Perasaan Pasangan
Dalam hubungan, perbedaan pendapat adalah sesuatu yang wajar. Dua orang yang memiliki latar belakang, kebiasaan, dan cara berpikir berbeda tentu tidak akan selalu sepakat. Masalahnya bukan terletak pada seberapa sering pasangan berbeda pendapat, melainkan bagaimana mereka menyikapinya.
Ada orang yang ketika marah memilih diam. Ada yang sulit meminta maaf karena merasa gengsinya terlalu besar. Ada pula yang menganggap mengalah berarti kalah, sehingga setiap perdebatan berubah menjadi usaha untuk membuktikan siapa yang paling benar.Padahal, hubungan bukan perlombaan yang harus selalu dimenangkan salah satu pihak.
Terkadang, persoalan kecil bisa menjadi besar hanya karena tidak ada yang mau memulai percakapan. Keduanya sama-sama menunggu, sama-sama mempertahankan gengsi, dan akhirnya masalah yang seharusnya dapat diselesaikan justru semakin rumit.
Menurunkan ego bukan berarti harus selalu menyetujui pendapat pasangan. Kita tetap boleh memiliki pendirian dan menyampaikan ketidaksetujuan. Namun, kita juga perlu belajar mengakui kesalahan, mendengarkan sudut pandang orang lain, serta meminta maaf ketika memang melakukan sesuatu yang menyakiti.
Sebab, dalam hubungan yang sehat, tujuan utamanya bukan membuktikan siapa yang benar, melainkan mencari jalan keluar yang tidak merendahkan salah satu pihak.
Diam Bukan Selalu Berarti Menyelesaikan Masalah
Salah satu persoalan yang sering muncul dalam hubungan adalah silent treatment, yaitu sikap mendiamkan pasangan ketika terjadi konflik. Perilaku ini berbeda dengan mengambil waktu sejenak untuk menenangkan diri.
Setiap orang berhak membutuhkan ruang pribadi. Ada kalanya seseorang belum siap membicarakan masalah karena emosinya masih tinggi. Hal tersebut bisa dipahami, selama disampaikan dengan jelas dan tidak digunakan untuk menghukum pasangannya.
Misalnya, mengatakan, “Aku masih emosi. Aku butuh waktu sendiri dulu, nanti kita bicara lagi.” Kalimat sederhana seperti itu dapat membantu pasangan memahami situasi tanpa harus terus bertanya-tanya.
Sebaliknya, ketika seseorang sengaja mendiamkan pasangannya tanpa penjelasan, membuatnya merasa bersalah, atau baru kembali bersikap baik ketika menginginkan sesuatu, hubungan dapat terasa melelahkan secara emosional.
Orang yang didiamkan mungkin mulai memikirkan berbagai kemungkinan. Apakah dirinya melakukan kesalahan? Apakah pasangannya sudah bosan? Apakah hubungan mereka sedang berada di ujung jalan?
Padahal, belum tentu semua hal itu benar. Namun, ketiadaan komunikasi membuat pikirannya terus dipenuhi pertanyaan.
Yang menyedihkan, terkadang seseorang sudah berulang kali menjelaskan bahwa sikap tersebut menyakitinya, tetapi pola yang sama tetap berulang. Akhirnya, ia bukan hanya berusaha menyelesaikan masalah, melainkan juga harus menghadapi kecemasan yang muncul akibat ketidakjelasan.
Jika dibiarkan, hubungan bisa berubah menjadi tempat yang membuat seseorang terus berhati-hati, takut salah bicara, dan merasa harus selalu menjaga suasana hati pasangannya.
Perempuan Tidak Harus Selalu Menjadi Pihak yang Mengalah
Ada anggapan bahwa perempuan yang baik adalah perempuan yang sabar, mampu memahami pasangannya, dan bersedia mengalah demi mempertahankan hubungan. Sabar dan memahami pasangan memang bukan hal yang buruk. Namun, semuanya bisa menjadi tidak sehat ketika hanya satu pihak yang terus melakukannya.
Bayangkan ketika setiap pertengkaran selalu berakhir dengan perempuan yang meminta maaf terlebih dahulu, meskipun ia tidak memahami kesalahannya. Ia yang berusaha membuka komunikasi, ia yang mencoba memperbaiki keadaan, dan ia pula yang akhirnya mengesampingkan perasaannya sendiri agar hubungan kembali terlihat baik-baik saja.
Lama-kelamaan, ia mungkin menganggap bahwa mempertahankan hubungan berarti harus terus menoleransi hal-hal yang menyakitinya.
Padahal, hubungan tidak seharusnya menjadi tanggung jawab satu orang saja.
Perempuan boleh belajar memahami pasangannya, tetapi pasangan juga perlu belajar memahami dirinya. Perempuan boleh meminta maaf ketika salah, tetapi ia tidak harus menanggung semua kesalahan. Perempuan boleh memberikan kesempatan, tetapi ia juga berhak menetapkan batasan ketika perlakuan yang sama terus berulang.
Jangan sampai keinginan untuk mempertahankan hubungan membuat seorang perempuan lupa bahwa perasaannya sendiri juga layak dijaga.
Pesan ini bukan berarti setiap pertengkaran harus berakhir dengan perpisahan. Hubungan tentu membutuhkan proses, kompromi, dan kesediaan untuk memperbaiki diri. Namun, proses tersebut hanya dapat berjalan jika kedua pihak mau mengambil tanggung jawab.
Terlebih lagi, kekerasan dalam hubungan tidak boleh dianggap sekadar persoalan ego atau kurangnya komunikasi. Kekerasan bukan kesalahan korban, dan tidak ada kewajiban bagi seseorang untuk bertahan dalam situasi yang membahayakan dirinya demi membuktikan cinta.
Memahami pasangan tidak sama dengan membenarkan semua perilakunya. Mencintai seseorang juga tidak berarti kita harus mengorbankan keselamatan dan harga diri sendiri.
Cinta Seharusnya Menjadi Tempat Bertumbuh, Bukan Terus Terluka
Dari kisah Pulang, kita dapat merenungkan bahwa kehidupan rumah tangga yang tampak baik dari luar tidak selalu menceritakan keseluruhan keadaan di dalamnya. Karena itu, kita sebaiknya tidak terburu-buru menilai hubungan orang lain hanya dari apa yang terlihat.
Bagi siapa pun yang sedang menjalin hubungan, kisah seperti ini juga dapat menjadi pengingat untuk lebih memperhatikan cara kita memperlakukan pasangan. Jangan menunggu masalah menjadi besar hanya karena kita terlalu gengsi untuk meminta maaf. Jangan membiarkan pasangan terus menebak-nebak hanya karena kita tidak terbiasa mengungkapkan perasaan.
Belajar berkomunikasi memang tidak selalu mudah. Ada orang yang membutuhkan waktu lebih lama untuk menyampaikan emosinya. Namun, kemauan untuk belajar dan memperbaiki diri tetap penting. Hubungan yang sehat bukan hubungan tanpa konflik, melainkan hubungan ketika kedua pihak dapat menghadapi konflik tanpa saling merendahkan atau menyakiti.
Pada akhirnya, mempertahankan cinta bukan tentang siapa yang paling kuat bertahan atau siapa yang paling sering mengalah. Cinta membutuhkan dua orang yang sama-sama bersedia belajar, mendengarkan, dan bertanggung jawab atas tindakannya.
Sebab, yang menghancurkan hubungan terkadang bukan kehadiran orang ketiga, melainkan ketika dua orang yang seharusnya saling menjaga justru terlalu sibuk mempertahankan ego masing-masing.
Dan untuk perempuan yang sedang berusaha mempertahankan hubungannya, ingatlah satu hal: kamu boleh berjuang untuk seseorang yang kamu cintai, tetapi kamu tidak harus kehilangan dirimu sendiri demi membuat hubungan itu tetap bertahan.
