Konten dari Pengguna

Sentosa dan Pertanyaan tentang Pariwisata Berkelanjutan

Kadek Purnami

Kadek Purnami

Mahasiswa Hubungan Internasional, Universitas Bosowa

·waktu baca 4 menit

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kadek Purnami tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

ilustrasi : sumber penulis
zoom-in-whitePerbesar
ilustrasi : sumber penulis

Sentosa selama ini dipromosikan sebagai simbol keberhasilan pariwisata modern dan berkelanjutan Singapura. Infrastruktur yang tertata rapi, pengelolaan destinasi yang efisien, serta berbagai inisiatif ramah lingkungan menjadikan Sentosa sebagai etalase pariwisata kelas dunia. Dalam berbagai laporan resmi, keberlanjutan Sentosa kerap diukur melalui indikator teknis seperti efisiensi energi, pengelolaan limbah, dan pengurangan emisi karbon. Namun, di balik citra hijau tersebut, muncul pertanyaan yang jarang diangkat ke ruang publik: sejauh mana pariwisata berkelanjutan di Sentosa benar-benar memperhatikan masyarakat lokal yang menopang industri ini setiap hari?

Pariwisata berkelanjutan sejatinya tidak hanya berbicara soal lingkungan, tetapi juga menyangkut dimensi sosial dan ekonomi secara seimbang. Ketika keberlanjutan lebih banyak dipahami sebagai pencapaian teknokratis dan reputasi global, risiko yang muncul adalah terpinggirkannya pengalaman dan kepentingan masyarakat lokal dari narasi utama pembangunan pariwisata (UNWTO, 2018).

Masyarakat Lokal dalam Bayang-Bayang Citra Global

Masyarakat lokal, khususnya para pekerja di sektor pariwisata, merupakan fondasi utama keberlangsungan Sentosa sebagai destinasi wisata global. Pekerja perhotelan, staf kebersihan, petugas keamanan, hingga tenaga hiburan menjadi aktor kunci yang memastikan pengalaman wisata berjalan sesuai standar internasional. Tanpa mereka, citra Sentosa sebagai destinasi eksklusif dan ramah lingkungan tidak mungkin terwujud.

Namun, dalam wacana resmi keberlanjutan, masyarakat lokal lebih sering diposisikan sebagai elemen pendukung operasional, bukan sebagai subjek sosial dengan hak, aspirasi, dan kepentingan yang setara. Dimensi sosial dari keberlanjutan cenderung kalah menonjol dibandingkan dimensi lingkungan yang lebih mudah diukur dan dilaporkan. UNWTO mencatat bahwa pelaporan keberlanjutan pariwisata global masih didominasi oleh indikator lingkungan, sementara kesejahteraan pekerja dan partisipasi komunitas lokal sering kali berada di posisi sekunder (UNWTO, 2018). Kondisi ini menunjukkan adanya kesenjangan antara narasi keberlanjutan yang diproyeksikan ke publik internasional dan realitas sosial yang dialami oleh masyarakat lokal di tingkat sehari-hari.

Tata Kelola Terpusat dan Ruang Partisipasi yang Terbatas

Salah satu tantangan utama dalam membaca posisi masyarakat lokal di Sentosa adalah model tata kelola pariwisata yang sangat terpusat. Sentosa dikelola melalui perencanaan yang teknokratis dan berorientasi pada kepentingan negara serta korporasi besar. Model ini memang berhasil menciptakan destinasi yang efisien, aman, dan kompetitif secara global. Namun, pada saat yang sama, struktur tersebut membatasi ruang partisipasi masyarakat lokal dalam proses pengambilan keputusan.

Masyarakat lokal lebih sering ditempatkan sebagai pelaksana kebijakan, bukan sebagai aktor yang memiliki daya tawar untuk memengaruhi arah pembangunan pariwisata. Keberlanjutan sosial kemudian direduksi menjadi isu peningkatan keterampilan individu, seperti pelatihan layanan atau pengembangan kapasitas tenaga kerja. Pendekatan ini secara tidak langsung memindahkan tanggung jawab keberlanjutan kepada pekerja, tanpa diiringi perubahan struktural yang menyentuh kondisi kerja secara menyeluruh. Padahal, keberlanjutan sosial mencakup isu yang lebih mendasar, seperti stabilitas kontrak, jam kerja yang manusiawi, jaminan sosial, serta peluang mobilitas karier yang adil. Tanpa memperhatikan aspek-aspek tersebut, keberlanjutan berisiko menjadi konsep simbolik yang jauh dari pengalaman nyata masyarakat lokal (Bramwell & Lane, 2013).

Kerentanan Kerja dan Ketimpangan Manfaat Ekonomi

Industri pariwisata dikenal sebagai sektor yang sangat bergantung pada fluktuasi kunjungan wisatawan. Dalam konteks destinasi kelas dunia seperti Sentosa, tekanan tersebut semakin diperkuat oleh tuntutan standar layanan internasional dan citra eksklusif. Jam kerja yang panjang, beban emosional dalam melayani wisatawan, serta ketidakpastian kontrak menjadi realitas yang sering kali tersembunyi di balik promosi pariwisata hijau. Distribusi manfaat ekonomi juga menjadi persoalan krusial. Meskipun pariwisata menghasilkan pendapatan yang besar bagi negara dan korporasi, manfaat tersebut tidak selalu dirasakan secara proporsional oleh pekerja di tingkat operasional. Literatur pariwisata berkelanjutan menunjukkan bahwa pertumbuhan sektor wisata cenderung lebih menguntungkan aktor besar dibandingkan masyarakat lokal, sehingga berpotensi memperlebar ketimpangan sosial (UNWTO, 2018).

Dalam konteks ini, pertanyaan tentang “pariwisata berkelanjutan untuk siapa” menjadi semakin relevan. Keberlanjutan yang diakui secara global belum tentu sejalan dengan pengalaman sosial masyarakat lokal yang menopang industri tersebut setiap hari.

Menempatkan Keadilan Sosial dalam Agenda Keberlanjutan

Ke depan, pariwisata berkelanjutan di Sentosa memerlukan pergeseran paradigma yang lebih inklusif. Keberlanjutan tidak cukup dipahami sebagai pencapaian teknis atau simbol reputasi global, tetapi harus dilihat sebagai proses sosial yang menempatkan masyarakat lokal sebagai aktor utama. Membuka ruang partisipasi yang bermakna, memperkuat perlindungan kerja, dan memastikan distribusi manfaat ekonomi yang lebih adil merupakan langkah penting untuk menjaga legitimasi sosial pariwisata berkelanjutan.

Tanpa upaya tersebut, Sentosa mungkin akan terus dikenal sebagai destinasi modern dan ramah lingkungan, namun gagal menjawab pertanyaan mendasar tentang keadilan sosial bagi mereka yang bekerja di balik gemerlap industri pariwisata.