Skill Mismatch Lulusan Baru dan Peran Perencanaan SDM

Saya adalah mahasiswa Manajemen di Universitas Pamulang yang memiliki minat dalam bidang bisnis, Sumber Daya Manusia, dan pengembangan strategi perusahaan.
·waktu baca 2 menit
Tulisan dari Kaeyla Nabila tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Setiap tahun, ribuan sarjana baru masuk ke pasar kerja dengan harapan besar, tetapi banyak perusahaan mengeluh sulit menemukan kandidat yang siap bekerja. Ada banyak lowongan kerja dan pencari kerja, tetapi keduanya sering tidak bertemu karena fenomena ketidaksesuaian keterampilan, yaitu ketika keterampilan, kualifikasi, atau bidang studi seseorang tidak selaras dengan tuntutan pekerjaan. Karena kurikulum berubah lebih lambat daripada kebutuhan industri, pengalaman praktik yang terbatas, kurangnya pelatihan soft skills, kurangnya informasi tentang pasar kerja, dan perusahaan sendiri sering terlambat untuk merencanakan kebutuhan bakat jangka panjang, lulusan baru adalah kelompok yang paling rentan. Dampaknya terasa di banyak level: lulusan menghadapi masa tunggu kerja yang lama, pekerjaan yang tidak relevan, dan upah rendah; perusahaan menanggung biaya rekrutmen dan pelatihan yang tinggi, serta risiko turnover; dan perekonomian nasional tidak memanfaatkan bonus demografi dengan baik. Dalam situasi seperti ini, perencanaan sumber daya manusia berfungsi sebagai penghubung antara industri dan pendidikan secara strategis. Ini dilakukan dengan membandingkan kebutuhan kompetensi dengan strategi bisnis, melakukan analisis kesenjangan (gap analysis), berkolaborasi dengan lembaga pendidikan melalui pembuatan kurikulum bersama, magang terstruktur, dan pengajar praktisi, menerapkan pelatihan dan onboarding berbasis kompetensi, menerapkan pelatihan berkelanjutan dan pelatihan, dan memanfaatkan sumber daya manusia yang berbasis kompetensi. Meskipun implementasinya menghadapi beberapa tantangan, seperti perbedaan orientasi akademik dan industri, keterbatasan anggaran untuk pelatihan, dan kurangnya data pasar kerja yang terbuka, kolaborasi yang konsisten antara bisnis, kampus, dan lulusan dapat mulai menyelesaikan paradoks "lulusan banyak tetapi sulit bekerja, lowongan ada tetapi sulit menemukan talenta".
