Guru Bukan Abdi Dalem Keraton

Pengajar di MTs Riyadlatul Ulum Batanghari Lampung Timur
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kaha Anwar tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Di negeri ini, guru diperlakukan seperti abdi dalem yang lupa diberi uang saku. Mereka diminta setia tanpa kontrak yang adil, sabar tanpa tenggat, ikhlas tanpa slip gaji. Upah kecil disebut pengabdian. Tunjangan telat disebut cobaan. Protes dibaptis menjadi dosa moral. Ruang kelas diubah menjadi keraton mini, sementara negara duduk di singgasana kebijakan, menyantap pidato tentang masa depan bangsa.
Padahal, guru bukan abdi dalem.
Abdi dalem mengabdi demi berkah, demi simbol, demi romantisme kekuasaan. Ia tidak menawar upah karena yang dikejar bukan dapur, melainkan makna spiritual. Hubungannya dengan istana adalah relasi sakral. Ia hidup dari mitos dan ritus.
Guru hidup dari realitas.
Realitas yang bernama kontrakan, cicilan, harga beras, dan token listrik yang tak pernah mengenal kata “ikhlas”. Maka ketika undang-undang menyebut guru sebagai pendidik profesional, kata “profesi” seharusnya bermakna keras seperti palu hakim. Ia berarti keahlian, martabat, dan hak ekonomi yang jelas. Bukan kalimat pemanis yang dibacakan saat upacara lalu dilipat kembali ke laci birokrasi.
Namun yang terjadi, guru justru dipaksa hidup dalam dua dunia yang saling bertabrakan. Di atas kertas mereka profesional, di lapangan mereka diperlakukan seperti relawan permanen. Ketika gaji tak cukup, mereka diminta ikhlas. Ketika sistem bobrok, mereka diminta sabar. Ketika keadilan absen, mereka diminta tersenyum. Ikhlas diubah menjadi alat disiplin. Ia dipakai untuk meredam amarah, bukan untuk membersihkan batin.
Masalahnya sederhana dan memalukan: perut tidak bisa diajak berideologi. Kompor tidak paham nasionalisme. Anak tidak kenyang oleh jargon “pahlawan tanpa tanda jasa”. Tetapi, negara terus berharap guru hidup dari udara moral. Seolah-olah idealisme bisa dimasak, lalu disajikan di piring.
Ironi semakin telanjang ketika negara menuntut kinerja profesional dengan fasilitas amatir. Administrasi menumpuk, target dinaikkan, evaluasi diperketat, tetapi kesejahteraan berjalan pincang. Ini seperti menyuruh pelari profesional berlari maraton sambil membawa beban, lalu memuji ketabahannya saat ia roboh. Penderitaan dipuji, sistem dibiarkan.
Jika guru terus diposisikan sebagai abdi moral, pendidikan akan selamanya menjadi drama air mata. Kita akan sibuk merayakan pengorbanan, sambil menghindari pembenahan struktural. Padahal, peradaban tidak dibangun dari orang-orang yang terus diminta mengalah, tetapi dari sistem yang membuat kerja manusia dihormati.
Sudah waktunya kita membongkar keraton di ruang kelas. Pendidikan bukan kerajaan kecil yang hidup dari loyalitas tanpa keadilan. Ia adalah arena profesional yang seharusnya dijaga dengan kebijakan yang waras, bukan ceramah tentang kesabaran.
Sebab, bangsa yang memuliakan guru hanya lewat spanduk, pidato, dan peringatan seremonial, sejatinya sedang membangun museum kemunafikan. Dari luar tampak megah, di dalam berdebu.
Dan di tengah museum itu, guru terus berjalan pelan. Pagi mengajar dengan sisa idealisme. Siang mengisi laporan yang tak pernah mengenyangkan. Malam menghitung uang sambil menimbang harga telur. Di situlah wajah pendidikan kita: gagah di panggung, ringkih di meja makan.
