Mengendus Makanan di Kantor? Jangan-jangan Kamu Mengalami Mesiasmorfosis

Mahasiswi Program Studi Bahasa dan Sastra Indonesia, Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan, UIN Syarif Hidayatullah Jakarta
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Kaila Yuri Alphiani tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Pernahkah kamu merasa rutinitas kerja dari pukul sembilan pagi hingga lima sore perlahan mengikis kemanusiaanmu? Target yang tak ada habisnya, tumpukan pekerjaan, dan ritme hidup yang serba cepat terkadang membuat seseorang bekerja layaknya mesin. Tanpa disadari, kepekaan terhadap sekitar mulai memudar.

Gagasan inilah yang diangkat secara satiris oleh Triyanto Triwikromo melalui cerpen Mesiasmorfosis diterbitkan di Kompas.id pada 2 Mei 2026. Kisah manusia berkepala kucing yang dihadirkannya bukan sekadar fantasi, melainkan simbol yang merefleksikan memudarnya empati dan identitas manusia di tengah rutinitas kehidupan modern.
Sekilas, premis tersebut terdengar seperti fantasi yang menggelikan. Namun, di balik keanehannya, Mesiasmorfosis menyimpan kritik sosial yang tajam mengenai kehidupan manusia modern.
Dalam kajian sastra, unsur fantasi tidak selalu dimaksudkan sebagai sesuatu yang harus dipahami secara harfiah. Menurut Burhan Nurgiyantoro (2018), makna karya sastra dibangun melalui keterpaduan unsur-unsur intrinsik seperti tokoh, alur, latar, dan simbol. Karena itu, perubahan kepala tokoh menjadi kepala kucing dalam Mesiasmorfosis tidak sekadar berfungsi sebagai kejutan cerita, melainkan simbol yang memperkuat gagasan pengarang tentang dehumanisasi.
Ketika Manusia Perlahan Menjadi Kucing
Cerpen dibuka dengan Kafka, seorang sekretaris senior di Lembaga Asuransi Kecelakaan Kerja Praha, yang tidak menyadari bahwa kepalanya telah berubah menjadi kepala kucing Sphynx. Anehnya, perubahan serupa juga dialami rekan-rekan sekantornya. Ada yang berkepala Persia, Ragdoll, hingga British Shorthair.
Yang lebih menggelitik justru bukan perubahan fisik mereka, melainkan reaksi orang-orang di sekitarnya.
"Karena setiap orang di kantor sibuk dengan pekerjaan masing-masing, tak ada yang memperhatikan segala perubahan yang terjadi."
Kalimat ini menjadi sindiran yang terasa dekat dengan kehidupan masyarakat modern. Kesibukan, target pekerjaan, dan budaya kerja yang serba cepat membuat manusia kehilangan kepekaan terhadap lingkungan, bahkan terhadap dirinya sendiri. Dalam kondisi seperti itu, kepala kucing dapat dibaca sebagai metafora hilangnya empati dan identitas akibat rutinitas yang berlangsung terus-menerus.
Triyanto seolah mempertanyakan, apakah manusia benar-benar masih hidup sebagai manusia ketika seluruh waktunya hanya dihabiskan untuk bekerja tanpa lagi menyadari perubahan yang terjadi di sekitarnya?
Ketika Binatang Justru Ingin Menjadi Manusia
Cerita kemudian bergerak ke arah yang semakin absurd dengan kemunculan Odradek, makhluk menyerupai gulungan benang yang dikenal dalam dunia Kafka. Bersama komunitasnya, Odradek diburu oleh Vlciphalus, serigala neraka yang mengancam keberadaan mereka.
Odradek meyakini bahwa Kafka adalah Mesias berkepala kucing yang mampu menyelamatkan mereka. Namun, penyelamatan itu tidak dilakukan melalui mukjizat atau kesaktian. Kafka justru mengajarkan mereka bagaimana menjadi manusia.
Di sinilah letak ironi terbesar cerpen ini. Saat manusia perlahan kehilangan sisi kemanusiaannya karena terjebak dalam rutinitas dan sistem, makhluk yang dianggap rendah justru berjuang untuk memperoleh nilai-nilai kemanusiaan.
Melalui alegori tersebut, Triyanto memperlihatkan bahwa menjadi manusia bukanlah soal bentuk fisik, melainkan kemampuan untuk memiliki empati, akal budi, dan hati nurani.
Haruskah Menjadi Iblis untuk Mengalahkan Iblis?
Bagian akhir cerita membawa Kafka ke Permakaman Yahudi untuk menghadapi kawanan Vlciphalus. Dalam pertarungan itu, kepala kucingnya berkembang menjadi cakar dan taring yang semakin buas.
Di tengah pertarungan, muncul pertanyaan yang menjadi inti refleksi cerita.
"Apakah aku perlu menjadi iblis dulu untuk membunuh iblis?"
Pertanyaan tersebut tidak hanya relevan bagi Kafka, tetapi juga bagi kehidupan sehari-hari. Ketika menghadapi lingkungan yang penuh ketidakadilan, sistem yang korup, atau relasi yang toksik, manusia sering dihadapkan pada godaan untuk menggunakan cara-cara yang sama buruknya demi memenangkan pertarungan.
Melalui dilema itu, Triyanto tidak memberikan jawaban pasti. Sebaliknya, ia mengajak pembaca merenungkan batas-batas moral yang sering kali diuji oleh keadaan.
Sastra sebagai Cermin Kehidupan
Pada akhirnya, Mesiasmorfosis menunjukkan bahwa realisme magis bukan sekadar permainan imajinasi. Dunia yang dipenuhi manusia berkepala kucing, Odradek, dan Vlciphalus justru menjadi cermin bagi kehidupan manusia modern.
Triyanto Triwikromo mengingatkan bahwa dehumanisasi tidak selalu datang secara tiba-tiba. Ia hadir perlahan melalui rutinitas, ambisi, dan sistem yang membuat manusia lupa untuk berhenti, melihat sekeliling, dan tetap memelihara empati.
Mungkin, setelah menutup cerpen ini, pertanyaan yang paling penting bukan lagi mengapa Kafka berubah menjadi manusia berkepala kucing. Pertanyaan yang lebih layak diajukan kepada diri sendiri adalah: jangan-jangan, tanpa kita sadari, metamorfosis itu sedang terjadi pada kita?
DAFTAR PUSTAKA
Nurgiyantoro, B. (2018). Teori Pengkajian Fiksi. Yogyakarta: Gadjah Mada University Press.
Triwikromo, T. (2025). Mesiasmorfosis. Kompas.id.
