Konten dari Pengguna

IoT hingga Hand Sanitizer: Inovasi Mahasiswa KKN dalam Memberdayakan Masyarakat

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kalingga Dwindra Putraka tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Dokumentasi Sosialisasi Program Kerja ke Yayasan Pesantren
zoom-in-whitePerbesar
Dokumentasi Sosialisasi Program Kerja ke Yayasan Pesantren

Kuliah Kerja Nyata (KKN) selama ini identik dengan berbagai kegiatan pengabdian masyarakat yang dilakukan mahasiswa di desa. Namun, lebih dari sekadar menjalankan program kerja, KKN menjadi ruang bagi mahasiswa untuk menerapkan ilmu yang dipelajari di bangku kuliah dalam menjawab kebutuhan nyata masyarakat. Berangkat dari semangat tersebut, mahasiswa KKN Bina Desa Fakultas Teknik Universitas Mulawarman di Dusun Danau Raya, Desa Persiapan Pinang Raya, Kecamatan Sangatta Selatan, Kabupaten Kutai Timur, menghadirkan beragam inovasi yang memadukan teknologi, edukasi, kesehatan, dan pemberdayaan masyarakat.

Setiap daerah memiliki tantangan yang berbeda. Ada masyarakat yang membutuhkan akses terhadap teknologi, ada pelaku usaha yang memerlukan dukungan dalam mengembangkan usahanya, hingga kebutuhan akan edukasi mengenai kesehatan, keselamatan, dan literasi digital. Kondisi tersebut menjadi dasar penyusunan program kerja KKN agar solusi yang diberikan tidak hanya bersifat sementara, tetapi juga dapat dimanfaatkan setelah masa pengabdian berakhir.

Salah satu program unggulan yang dikembangkan secara berkelompok adalah pemanfaatan teknologi Internet of Things (IoT) untuk membantu budidaya jamur tiram milik Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan Pertamina EP Sangatta. Dalam budidaya jamur, suhu dan kelembapan merupakan faktor penting yang memengaruhi pertumbuhan dan kualitas hasil panen. Selama ini, pemantauan kondisi kumbung masih banyak dilakukan secara manual sehingga perubahan suhu maupun kelembapan tidak selalu dapat diketahui dengan cepat.

Sosialisasi Program Kerja Kelompok

Melalui program tersebut, mahasiswa mengembangkan alat pemantau suhu dan kelembapan berbasis IoT yang dipasang di dalam kumbung jamur. Sensor yang terpasang mampu membaca kondisi lingkungan secara berkala sehingga petani memperoleh informasi yang lebih mudah mengenai keadaan kumbung. Alat pemantau ini juga terhubung langsung ke website sehingga memudahkan pemantauan jarak jauh. Teknologi sederhana ini diharapkan dapat membantu proses budidaya menjadi lebih efektif sekaligus memperkenalkan pemanfaatan teknologi digital di sektor pertanian.

Manfaat alat tersebut juga dirasakan oleh Wakil Direktur Kelompok Wanita Tani binaan Pertamina EP Sangatta, Sri Subekti. Menurutnya, sistem pemantauan berbasis IoT menjadi solusi yang membantu para petani, terutama bagi anggota kelompok yang tidak dapat berada di kumbung jamur sepanjang hari.

"Alat ini sangat membantu, terutama bagi petani jamur yang kesehariannya juga memiliki pekerjaan lain sehingga tidak selalu berada di kumbung. Dengan adanya website monitoring, kami bisa mengetahui kondisi suhu dan kelembapan setiap kumbung secara langsung tanpa harus datang untuk mengeceknya satu per satu," ungkap Sri Subekti.

Ia menilai pemanfaatan teknologi seperti ini dapat membantu proses budidaya jamur menjadi lebih praktis karena informasi kondisi kumbung dapat diakses dengan lebih cepat.

Selain program kelompok, setiap anggota KKN juga menghadirkan inovasi sesuai bidang keilmuan dan kebutuhan masyarakat.

Muhammad Nur Faiz mengadakan sosialisasi mengenai dasar dasar kelistrikan dan bahaya listrik kepada santri di Pondok Pesantren yang berada di RT 04 Dusun Danau Raya. Edukasi tersebut tidak hanya berisi teori mengenai penggunaan listrik yang aman, tetapi juga dilengkapi dengan demonstrasi panel surya sederhana. Melalui simulasi tersebut, peserta dapat memahami bagaimana energi matahari dapat diubah menjadi energi listrik sekaligus mengenal salah satu bentuk energi terbarukan yang semakin banyak dimanfaatkan di berbagai sektor. Kegiatan ini diharapkan mampu meningkatkan kesadaran masyarakat terhadap pentingnya keselamatan dalam penggunaan listrik sejak usia dini.

Di bidang lingkungan, Kalingga Dwindra Putraka mengembangkan sebuah website bernama DaurKriya. Platform ini menyediakan katalog pengolahan sampah, informasi harga jual sampah berdasarkan jenisnya, serta daftar bank sampah yang berada di Kota Sangatta. Kehadiran DaurKriya bertujuan mempermudah masyarakat memperoleh informasi mengenai pengelolaan sampah sekaligus mendorong pemanfaatan sampah yang memiliki nilai ekonomi. Dengan akses informasi yang lebih mudah, masyarakat diharapkan semakin terdorong untuk memilah sampah dan menyalurkannya ke bank sampah yang tersedia.

Digitalisasi juga diterapkan pada sektor usaha masyarakat melalui aplikasi JTOFIT yang dikembangkan oleh Muhammad Nashrul Fakhri. Aplikasi ini dirancang sebagai sistem pencatatan pemasukan dan pengeluaran bagi Kelompok Wanita Tani binaan Pertamina EP Sangatta. Sebelum adanya aplikasi tersebut, pencatatan keuangan masih dilakukan secara manual sehingga berpotensi menyulitkan proses evaluasi usaha. Melalui sistem digital, pencatatan menjadi lebih rapi, mudah diakses, serta dapat membantu kelompok dalam memantau perkembangan usahanya.

Pemanfaatan teknologi tidak hanya berhenti pada aspek administrasi. Reisya Nazwa mengembangkan website promosi produk bagi Kelompok Wanita Tani binaan Pertamina EP Sangatta sebagai media pemasaran digital. Website ini menjadi sarana untuk memperkenalkan berbagai produk yang dihasilkan kepada masyarakat yang lebih luas. Di tengah meningkatnya penggunaan internet sebagai media promosi, kehadiran platform digital diharapkan dapat membuka peluang pasar baru sekaligus meningkatkan daya saing produk lokal.

Reisya Nazwa memperkenalkan website promosi produk KWT

Kehadiran website tersebut juga mendapat respons positif dari Ketua Kelompok Wanita Tani (KWT) binaan Pertamina EP Sangatta, Arniati. Menurutnya, media digital tersebut memberikan kemudahan ketika memperkenalkan profil maupun produk KWT kepada masyarakat.

"Selama ini kalau ada tamu atau kegiatan sosialisasi kami biasanya harus menyiapkan presentasi terlebih dahulu. Sekarang lebih mudah karena cukup buka website, masyarakat sudah bisa melihat informasi mengenai KWT dan produk yang kami miliki," ujar Arniati.

Ia berharap website tersebut dapat terus dimanfaatkan sebagai media promosi sekaligus sarana penyebaran informasi mengenai aktivitas dan produk KWT kepada masyarakat yang lebih luas.

Di sisi lain, perkembangan teknologi juga membawa tantangan baru berupa meningkatnya risiko penyalahgunaan internet. Menjawab kondisi tersebut, Devi Siska memberikan sosialisasi mengenai cyber safety atau keamanan dalam berinternet. Materi yang disampaikan meliputi pentingnya menjaga data pribadi, mengenali berbagai bentuk penipuan digital, serta menggunakan media sosial secara bijak. Edukasi ini menjadi penting karena literasi digital tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga kemampuan melindungi diri saat beraktivitas di ruang digital.

Dhea Safira Aprilia memberikan demonstrasi pembuatan hand sanitizer

Pada bidang kesehatan, Dhea Safira Aprilia memperkenalkan pembuatan hand sanitizer berbahan dasar lidah buaya dan alkohol 95 persen. Lidah buaya dipilih karena memiliki sifat yang membantu menjaga kelembapan kulit sehingga penggunaan hand sanitizer menjadi lebih nyaman. Program ini memperkenalkan alternatif produk kesehatan sederhana yang dapat dibuat menggunakan bahan yang mudah diperoleh, sekaligus meningkatkan pemahaman masyarakat mengenai pentingnya menjaga kebersihan tangan sebagai bagian dari perilaku hidup bersih dan sehat.

Sementara itu, Anggung memanfaatkan teknologi Sistem Informasi Geografis (SIG) melalui perangkat lunak ArcGIS untuk menyusun peta administrasi kecamatan. Peta tersebut memuat informasi mengenai batas wilayah, jaringan jalan, sungai, serta kawasan permukiman. Kehadiran peta administrasi ini diharapkan dapat menjadi sumber informasi spasial yang bermanfaat bagi masyarakat maupun pemerintah desa dalam mendukung perencanaan wilayah dan penyajian data geografis yang lebih terstruktur.

Tidak kalah penting, Jeni Octavia mengembangkan filter air sederhana menggunakan media pipa yang ditujukan untuk membantu meningkatkan kualitas air sumur masyarakat Dusun Danau Raya. Akses terhadap air bersih masih menjadi kebutuhan mendasar bagi masyarakat. Melalui inovasi ini, masyarakat diperkenalkan pada teknologi tepat guna yang relatif sederhana, mudah dirakit, dan dapat dimanfaatkan untuk membantu mengurangi kekeruhan air sebelum digunakan dalam kebutuhan sehari hari.

Kesembilan program tersebut menunjukkan bahwa pengabdian masyarakat tidak selalu harus diwujudkan melalui kegiatan berskala besar. Solusi sederhana yang disusun berdasarkan kebutuhan masyarakat justru memiliki peluang lebih besar untuk memberikan manfaat secara langsung. Mulai dari penerapan Internet of Things di sektor pertanian, digitalisasi usaha, pengelolaan sampah, edukasi keselamatan listrik, literasi digital, inovasi kesehatan, hingga teknologi tepat guna di bidang lingkungan, seluruh program dirancang dengan tujuan yang sama, yaitu meningkatkan kualitas hidup masyarakat melalui pemanfaatan ilmu pengetahuan.

KKN menjadi pengingat bahwa ilmu yang dipelajari di perguruan tinggi memiliki nilai ketika dapat diterapkan untuk menyelesaikan persoalan di tengah masyarakat. Kolaborasi antara mahasiswa, pemerintah desa, masyarakat, serta Kelompok Wanita Tani binaan Pertamina EP Sangatta menjadi contoh bahwa inovasi tidak selalu lahir dari teknologi yang rumit, tetapi dari kemampuan memahami kebutuhan masyarakat dan menghadirkan solusi yang relevan.

Harapannya, berbagai program yang telah dilaksanakan tidak berhenti ketika masa KKN berakhir. Sebaliknya, inovasi yang telah diperkenalkan dapat terus dimanfaatkan, dikembangkan, dan menjadi pijakan bagi lahirnya berbagai inisiatif pemberdayaan masyarakat di masa mendatang. Dengan demikian, KKN tidak hanya meninggalkan kenangan bagi mahasiswa, tetapi juga memberikan manfaat yang dapat dirasakan secara berkelanjutan oleh masyarakat.