Konten dari Pengguna

Kemudahan IoT Tak Boleh Mengorbankan Keamanan Pengguna

comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Leanarita Kaluna S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Penerapan IoT dalam kehidupan sehari-hari, seperti smart home, kamera, ponsel, dan smartwatch yang saling terhubung. (Ilustrasi: dibuat oleh AI)
zoom-in-whitePerbesar
Penerapan IoT dalam kehidupan sehari-hari, seperti smart home, kamera, ponsel, dan smartwatch yang saling terhubung. (Ilustrasi: dibuat oleh AI)

Pagi hari, ponsel kita sudah menampilkan suhu rumah. Kamera depan mengirim notifikasi bahwa paket sudah tiba, dan jam tangan mencatat detak jantung sejak kita bangun. Tanpa disadari, hidup sehari-hari kita sudah disentuh oleh Internet of Things (IoT), yaitu teknologi yang menghubungkan benda di sekitar kita ke internet agar bisa saling bertukar data.

Skalanya tidak main-main. Nilai pasar IoT global disebut mencapai 1,1 triliun dolar AS pada 2023. Jumlah perangkat yang terhubung diperkirakan menembus 27,1 miliar unit pada 2025. Di rumah tangga, sekitar 450 juta rumah di dunia diproyeksikan sudah menerapkan konsep smart home pada 2024. IoT bukan lagi bahan seminar teknologi, melainkan bagian dari ruang tamu, dapur, dan saku kita.

Menurut saya, pertanyaan yang lebih penting sekarang bukan "perangkat apa yang bisa kita pasang?", melainkan "seberapa siap kita menjaganya?".

Bagaimana benda biasa jadi "pintar"

Sistem IoT pada dasarnya punya empat bagian. Sensor mengumpulkan data dari lingkungan, misalnya suhu, gerakan, atau kelembapan. Gateway menghubungkan perangkat ke jaringan. Platform cloud memproses data itu. Terakhir, aplikasi menampilkannya di ponsel kita dan memberi kita kendali.

Di balik layar, perangkat-perangkat ini saling bicara lewat komunikasi machine-to-machine (M2M), yang menjadi fondasi IoT. Sebagai gambaran, ada sekitar 178 juta koneksi M2M di Asia pada 2023. Koneksinya memakai berbagai teknologi nirkabel, dari Wi-Fi dan Bluetooth hemat daya untuk jam tangan, Zigbee untuk lampu rumah, sampai LoRaWAN yang berdaya rendah tapi berjangkauan luas.

Alur kerja IoT dan komunikasi antarperangkat melalui M2M. (Ilustrasi: dibuat oleh AI)

Sisi yang jarang dibicarakan

Di sinilah saya mulai khawatir. Kebanyakan dari kita membeli perangkat pintar dengan satu pertanyaan: "Bisa apa alat ini?". Jarang sekali kita bertanya: "Seaman apa alat ini?". Padahal materi yang saya pelajari menyebut sekitar 70 persen perangkat IoT rentan terhadap serangan.

Ancamannya beragam. Ada serangan man-in-the-middle yang menyadap komunikasi antara perangkat dan server, manipulasi firmware perangkat, hingga kebocoran data pribadi. Perangkat yang diretas juga bisa diam-diam dipakai dalam serangan botnet untuk melumpuhkan layanan lain lewat DDoS. Pemiliknya mungkin tidak pernah tahu bahwa kamera atau router di rumahnya ikut "dipinjam" pelaku.

Data yang terkumpul pun tidak sedikit. Diperkirakan volume data IoT global mencapai 85 zettabyte pada 2025. Di dalamnya ada kebiasaan kita: jam bangun, kapan rumah kosong, hingga kondisi kesehatan. Pertanyaan soal siapa yang menyimpan dan atas izin siapa itu seharusnya tidak berhenti di kolom "setuju" yang jarang kita baca. Prinsip user consent dan privacy by design mestinya jadi standar, bukan pelengkap.

Ada pula persoalan yang kurang terlihat, yakni perawatan. Perangkat IoT butuh pembaruan rutin, pemantauan baterai, dan manajemen siklus hidup. Perangkat murah yang dibiarkan tanpa pembaruan bertahun-tahun lama-lama berubah dari pembantu menjadi celah.

Yang bisa kita lakukan mulai hari ini

Keamanan IoT memang tanggung jawab bersama, tetapi pengguna punya peran nyata:

1. Ganti kata sandi bawaan begitu perangkat selesai dipasang.

2. Perbarui firmware secara berkala, karena pembaruan menutup celah yang sudah diketahui.

3. Pisahkan jaringan Wi-Fi untuk perangkat pintar dan perangkat pribadi seperti laptop dan ponsel (segmentasi jaringan).

4. Gunakan enkripsi dan autentikasi yang kuat bila tersedia.

5. Pilih produk dari produsen yang jelas soal keamanan, bukan sekadar yang paling murah.

5 langkah sederhana untuk menjaga keamanan perangkat IoT. (Ilustrasi: dibuat oleh AI)

Penutup

IoT akan terus tumbuh, dan kita tidak mungkin menghindarinya. Prinsip seperti security by design, enkripsi, dan pembaruan rutin memang harus dijalankan produsen, tetapi pengguna tidak boleh hanya menunggu. Menurut saya, rumah yang benar-benar pintar bukan yang punya paling banyak perangkat, melainkan yang pemiliknya paham apa yang dipasangnya dan apa risikonya.

Teknologi seharusnya membuat hidup lebih mudah, bukan membuat kita lengah. Maka sebelum membeli perangkat pintar berikutnya, pastikan kita tahu manfaat yang didapat dan siapa yang menjaga data kita. Kemudahan baru layak dinikmati ketika keamanannya ikut terjamin.