Transformasi Digital UMKM Bukan Sekadar Punya QRIS

Mahasiswa Sistem Informasi di Universitas Pamulang. Menulis opini soal UMKM, ekonomi digital, dan transformasi bisnis.
·waktu baca 3 menit
Tulisan dari Leanarita Kaluna S tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Coba hitung berapa warung, kafe, atau toko kelontong langganan Anda yang sudah menempelkan QRIS di meja kasir. Hampir semuanya, bukan? Wajah digital pelaku usaha Indonesia memang makin lengkap: ada akun Instagram, etalase marketplace, dan dompet digital. Tapi pertanyaan yang jarang ditanyakan adalah apakah bisnisnya benar-benar sudah bertransformasi, atau hanya berganti tampilan? Menurut saya, banyak yang belum.
Peluangnya memang raksasa
Angkanya tidak main-main. Laporan e-Conomy SEA 2025 dari Google, Temasek, dan Bain & Company memperkirakan ekonomi digital Indonesia hampir mencapai US$100 miliar dalam nilai transaksi barang (GMV) pada 2025, tumbuh 14% dari tahun sebelumnya, dan tetap menjadi yang terbesar di Asia Tenggara. Dari sisi pembayaran, nilai transaksinya diproyeksikan mencapai US$538 miliar pada 2025, dengan QRIS sebagai salah satu pendorongnya. Indonesia juga disebut sebagai pasar video commerce terbesar dan tumbuh tercepat di Asia Tenggara. (e-Conomy SEA 2025: Ekonomi digital Indonesia mendekati GMV $100 miliar tahun ini +2)
Artinya, pasar digital kita sudah sangat besar. Tapi ukuran pasar tidak otomatis berarti keuntungan bagi setiap pelaku usaha di dalamnya.
Digitalisasi bukan transformasi
Digitalisasi hanya memindahkan cara lama ke medium baru. Warung yang tadinya mencatat utang di buku tulis lalu mencatatnya di aplikasi masih menjalankan model bisnis yang sama. Transformasi berarti mengubah cara bisnis menciptakan nilai: memahami pelanggan lewat data, menentukan stok dan harga berdasarkan pola penjualan, serta membangun hubungan langsung dengan pembeli.
Bedanya mirip dengan mengganti kertas menu dengan PDF versus mengubah cara kafe memahami pelanggannya. Yang pertama hanya kosmetik. Yang kedua mengubah keputusan bisnis.
Jebakan ketergantungan platform
Banyak UMKM tumbuh berkat marketplace dan media sosial. Namun ketika algoritma berubah, biaya layanan naik, atau regulasi bergeser, penjualan bisa anjlok dalam semalam. Polemik social commerce pada 2023, ketika pemerintah memisahkan media sosial dari transaksi jual-beli, menunjukkan betapa rapuhnya pedagang yang seluruh penjualannya bertumpu pada satu kanal.
Di sini ada ironi: video commerce sedang naik daun, tetapi semakin besar porsi penjualan yang bergantung pada satu platform, semakin kecil kendali pelaku usaha atas bisnisnya sendiri. Akses pasar yang luas itu hanya "disewa", bukan dimiliki.
Yang sering terlupa: manusia dan kebiasaan
Teknologi mudah dibeli, kebiasaan sulit diubah. Aplikasi kasir secanggih apa pun tidak berguna jika laporannya tidak pernah dibaca. Hal yang sama berlaku untuk tren kecerdasan buatan (AI) yang kini ramai dibicarakan: alat yang kuat di tangan orang yang belum terbiasa membaca data hanya akan jadi mainan.
Karena itu, literasi digital dan kemampuan mengambil keputusan berbasis data menurut saya jauh lebih mendesak daripada sekadar menambah perangkat.
Apa yang sebaiknya dilakukan?
Lalu bagaimana memulainya? Dari hal sederhana: buka laporan penjualan sendiri. Produk apa yang terlaris? Hari apa paling ramai? Siapa yang kembali membeli?
Bangun aset sendiri. Kumpulkan data pelanggan seperti nomor WhatsApp dan riwayat pembelian (dengan izin mereka) agar tidak sepenuhnya bergantung pada audiens milik platform.
Mulai dari data sederhana. Cukup tahu produk terlaris, jam paling ramai, dan siapa pelanggan yang kembali membeli. Tidak perlu dashboard rumit.
Diversifikasi kanal. Gabungkan marketplace, media sosial, dan penjualan langsung agar satu perubahan aturan tidak mematikan usaha.
Dorong pendampingan, bukan seremoni. Pemerintah dan kampus sebaiknya menggeser fokus dari pelatihan sehari yang berakhir foto bersama ke pendampingan bisnis berkelanjutan.
Penutup
QRIS di meja kasir hanyalah pintu masuk. Ekonomi digital menawarkan peluang yang sangat besar, tetapi hanya bagi mereka yang berani mengubah cara berpikir, bukan sekadar tampilan. UMKM yang bertahan bukan yang paling banyak memakai aplikasi, melainkan yang paling cepat belajar dari datanya sendiri.
Jadi sebelum bertanya "sudah online di mana saja?", mungkin pertanyaan yang lebih tepat adalah: "Hari ini, kita sudah belajar apa dari pelanggan kita?"
Sumber data: laporan e-Conomy SEA 2025 (Google, Temasek, Bain & Company). Seluruh ilustrasi dalam artikel ini dibuat dengan bantuan AI.
