Jangan Sekadar Mencari Ide Usaha, Temukan Masalahnya

Mahasiswa S1 Universitas Pamulang Program Studi Pendidikan Ekonomi
·waktu baca 5 menit
Tulisan dari Kamelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan
Ketika Masalah di Sekitar Justru Menjadi Peluang

Ketika Masalah di Sekitar Justru Menjadi Peluang
Setiap pagi, seorang pedagang kecil mulai menyiapkan dagangannya. Ia membeli bahan, menentukan harga, melayani pembeli, dan menghitung hasil penjualan. Di tempat lain, seorang mahasiswa sedang mencari ide usaha untuk mendapatkan penghasilan tambahan. Ada yang mencoba menjual makanan, mengikuti produk yang sedang viral, atau memanfaatkan media sosial untuk menawarkan barang.
Keduanya sama-sama berada dalam aktivitas ekonomi. Namun, ada perbedaan dalam cara melihat peluang. Pedagang sering belajar dari masalah yang dihadapi setiap hari, sementara mahasiswa terkadang lebih sibuk mencari produk yang sedang ramai.
Padahal, peluang usaha tidak selalu muncul dari sesuatu yang sedang tren. Sering kali peluang justru lahir dari masalah yang belum terselesaikan.
Di sinilah edupreneurship menjadi penting. Edupreneurship tidak hanya berbicara tentang bagaimana seseorang menghasilkan keuntungan, tetapi juga bagaimana pendidikan, kreativitas, dan kewirausahaan dapat digunakan untuk menciptakan solusi.
Masalah yang Sering Tidak Terlihat
Banyak usaha kecil saat ini sudah memanfaatkan media sosial. Produk dapat dipasarkan melalui WhatsApp, Instagram, marketplace, dan berbagai platform digital lainnya. Namun, kemudahan berjualan tidak selalu berarti mudah dalam mengelola usaha.
Ada pelaku UMKM yang memiliki produk bagus, tetapi belum mampu menentukan harga berdasarkan seluruh biaya. Ada yang ramai pembeli, tetapi tidak mengetahui berapa keuntungan sebenarnya. Ada pula yang sudah melakukan promosi melalui media sosial, tetapi belum memahami apakah promosi tersebut benar-benar menjangkau konsumen yang tepat.
Persoalannya bukan selalu kekurangan modal, tetapi bisa juga kekurangan pengetahuan untuk mengambil keputusan.
Masalah seperti ini jarang terlihat karena dari luar sebuah usaha mungkin tampak berjalan dengan baik. Padahal, pemilik usaha masih mengandalkan perkiraan ketika menentukan harga, mencatat pemasukan, atau merencanakan pengeluaran.
Di sinilah ilmu ekonomi dapat memberikan manfaat yang nyata.
Ilmu Ekonomi Tidak Seharusnya Berhenti di Ruang Kelas
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi mempelajari berbagai konsep tentang kebutuhan, kelangkaan, pilihan, pasar, perilaku konsumen, produksi, hingga kewirausahaan. Semua pengetahuan tersebut tidak seharusnya hanya digunakan untuk menyelesaikan tugas atau menjawab soal ujian.
Ilmu ekonomi akan lebih bermakna ketika mampu membantu seseorang memahami persoalan yang benar-benar terjadi dalam kehidupan.
Mahasiswa dapat menerapkan pengetahuan tersebut melalui hal-hal sederhana. Misalnya, membantu pelaku UMKM membuat pencatatan keuangan, memahami biaya produksi, menghitung keuntungan, menentukan harga jual, atau mengenali konsumen yang menjadi sasaran produknya.
Kegiatan tersebut tidak harus berupa program besar. Pendampingan sederhana yang sesuai dengan kebutuhan masyarakat pun dapat menjadi bentuk nyata dari penerapan ilmu ekonomi.
Edupreneurship Bukan Sekadar Berjualan
Edupreneurship sering dipahami sebagai kegiatan yang menggabungkan pendidikan dan kewirausahaan. Namun, konsep ini seharusnya tidak dipersempit hanya pada kegiatan menjual produk pendidikan.
Yang diciptakan dalam edupreneurship tidak harus selalu berupa barang. Pengetahuan juga dapat menjadi sebuah solusi.
Mahasiswa dapat membuat media pembelajaran ekonomi, konten edukasi keuangan, layanan pendampingan UMKM, kelas sederhana tentang pengelolaan usaha, atau produk digital yang membantu masyarakat memahami persoalan ekonomi.
Dengan begitu, kewirausahaan tidak hanya berorientasi pada keuntungan. Ada nilai pendidikan dan manfaat sosial yang ikut dibangun.
Inilah yang membuat edupreneurship memiliki ruang yang luas bagi mahasiswa Pendidikan Ekonomi.
Dari Mengikuti Tren Menjadi Menciptakan Solusi
Media sosial membuat berbagai tren muncul dengan sangat cepat. Ketika suatu produk ramai dibicarakan, banyak orang tertarik untuk ikut menjualnya. Namun, mengikuti tren tidak selalu menjamin sebuah usaha dapat bertahan.
Mahasiswa perlu belajar bahwa kreativitas bukan hanya kemampuan mengikuti sesuatu yang sedang populer, tetapi kemampuan menemukan kebutuhan yang belum terpenuhi.
Ketika melihat pedagang kesulitan mencatat keuangan, mahasiswa dapat melihat peluang untuk membuat sistem pencatatan yang sederhana.
Ketika melihat UMKM kesulitan memasarkan produk secara digital, mahasiswa dapat menawarkan pendampingan yang mudah dipahami.
Ketika melihat siswa kesulitan memahami materi ekonomi, mahasiswa dapat menciptakan media pembelajaran yang lebih dekat dengan kehidupan sehari-hari.
Dengan pola pikir seperti ini, mahasiswa tidak hanya menjadi konsumen dari berbagai tren. Mahasiswa dapat menjadi pencipta solusi.
Kampus sebagai Tempat Menguji Gagasan
Edupreneurship tidak cukup hanya dibicarakan dalam teori. Mahasiswa membutuhkan ruang untuk mencoba gagasan secara langsung.
Kampus dapat memberikan kesempatan kepada mahasiswa untuk melakukan observasi terhadap persoalan ekonomi di lingkungan sekitar, menyusun solusi, mengembangkan produk atau layanan, kemudian menguji manfaatnya.
Dari proses tersebut, mahasiswa akan belajar bahwa tidak semua gagasan langsung berhasil. Ada solusi yang harus diperbaiki. Ada produk yang tidak sesuai dengan kebutuhan konsumen. Bahkan ada usaha yang harus dihentikan karena tidak memberikan manfaat yang cukup.
Kegagalan dalam proses tersebut bukan akhir, melainkan bagian dari pembelajaran kewirausahaan.
Melalui pengalaman langsung, mahasiswa belajar mengambil keputusan, menghadapi risiko, memahami kebutuhan konsumen, dan mengevaluasi hasil.
Mendidik Ekonomi dari Lingkungan Terdekat
Tema “Nusantara Cendekia: Merajut Kreativitas, Mendidik Ekonomi Bangsa” dapat dimaknai sebagai ajakan untuk melihat bahwa pembangunan ekonomi tidak selalu dimulai dari sesuatu yang besar.
Di sekitar kita terdapat banyak pelaku ekonomi. Ada pedagang kecil, pengrajin, pelaku UMKM, usaha rumahan, hingga anak muda yang mencoba membangun bisnis melalui media digital.
Mereka memiliki potensi, tetapi juga menghadapi berbagai persoalan. Karena itu, pendidikan ekonomi perlu hadir lebih dekat dengan kehidupan masyarakat.
Mahasiswa Pendidikan Ekonomi dapat menjadi penghubung antara pengetahuan yang diperoleh di kampus dan kebutuhan ekonomi masyarakat.
Bukan dengan merasa paling tahu, tetapi dengan belajar bersama masyarakat, memahami masalahnya, kemudian menawarkan solusi berdasarkan pengetahuan yang dimiliki.
Temukan Masalahnya, Ciptakan Manfaatnya
Edupreneurship pada akhirnya bukan hanya tentang mencetak mahasiswa yang mampu membuka usaha. Lebih dari itu, edupreneurship dapat membentuk mahasiswa yang mampu melihat persoalan, berpikir kreatif, mengambil keputusan, dan menciptakan solusi.
Karena itu, ketika ingin memulai usaha, pertanyaan yang perlu diajukan bukan hanya:
“Apa yang sedang laku?”
Tetapi:
“Masalah apa yang bisa saya bantu selesaikan?”
Pertanyaan tersebut dapat mengubah cara mahasiswa melihat kewirausahaan. Dari sekadar mengikuti tren menjadi mencari kebutuhan. Dari sekadar menjual produk menjadi menciptakan manfaat.
Dari kampus, gagasan dapat lahir. Dari masyarakat, masalah dapat ditemukan. Melalui edupreneurship, keduanya dapat dipertemukan menjadi solusi yang memiliki nilai pendidikan sekaligus ekonomi.
Mendidik ekonomi bangsa tidak selalu dimulai dari langkah besar. Bisa dimulai dari satu mahasiswa yang peka melihat masalah, berani menciptakan solusi, dan mau memberikan manfaat bagi lingkungan di sekitarnya.
