Konten dari Pengguna

QRIS Ada di Mana-Mana, tapi Pajaknya Mengikuti ke Mana?

google
Ikuti kumparan di Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kamelia tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

Sumber: Gemini AI
zoom-in-whitePerbesar
Sumber: Gemini AI

Ketika Semua Orang Mulai Meninggalkan Uang Tunai

Sabtu pagi , sebuah kedai kopi kecil oleh anak-anak muda. Tidak ada yang membayar dengan uang tunai. Semua mengeluarkan ponsel, memindai QRIS, lalu pesanan selesai dalam hitungan detik. Di meja sebelah, seorang pedagang mengaku lebih senang menerima pembayaran digital karena praktis dan tidak perlu menyediakan uang kembalian.

Pemandangan seperti ini kini menjadi hal biasa. Dari pedagang kaki lima hingga minimarket, QRIS telah mengubah cara masyarakat bertransaksi. Perubahan itu terasa sederhana, tetapi sesungguhnya membawa dampak yang jauh lebih besar terhadap cara ekonomi Indonesia bergerak.

Di Balik Satu Kali Scan, Ada Jejak Ekonomi yang Bernilai

Setiap pembayaran digital bukan sekadar perpindahan uang. Di balik satu kali scan QRIS terdapat data mengenai waktu transaksi, nilai pembelian, jenis usaha, hingga pola konsumsi masyarakat. Data tersebut menjadi gambaran aktivitas ekonomi yang sebelumnya sulit dipetakan ketika transaksi masih didominasi uang tunai.

Sayangnya, masyarakat lebih sering membicarakan kemudahan QRIS daripada potensi data yang dihasilkan. Padahal, informasi tersebut dapat menjadi fondasi penting bagi sistem perpajakan yang lebih modern.

Masa Depan Pajak Tidak Lagi Bertumpu pada Tarif

Selama ini pembahasan perpajakan sering berhenti pada tarif atau besarnya penerimaan negara. Padahal, tantangan yang lebih besar adalah bagaimana negara mampu memanfaatkan data transaksi digital untuk membangun sistem pajak yang lebih akurat dan adil.

Dengan data yang semakin lengkap, potensi kesalahan pelaporan dapat ditekan. Pengawasan juga menjadi lebih efisien karena pemerintah tidak hanya mengandalkan pemeriksaan manual, tetapi mampu membaca aktivitas ekonomi secara lebih objektif melalui ekosistem digital.

Kepercayaan Publik Menjadi Kunci Transformasi

Pemanfaatan data transaksi tentu harus diiringi perlindungan terhadap privasi masyarakat. Keamanan data dan transparansi penggunaan informasi menjadi syarat utama agar masyarakat tetap percaya menggunakan sistem pembayaran digital.

Apabila kepercayaan ini terjaga, digitalisasi bukan hanya mempermudah transaksi, tetapi juga memperkuat fondasi perpajakan yang lebih efektif tanpa menambah beban administrasi bagi wajib pajak.

Pajak yang Cerdas Berawal dari Data yang Berkualitas

Transformasi perpajakan di era digital bukan semata-mata soal mengejar penerimaan negara yang lebih besar. Yang lebih penting adalah membangun sistem yang mampu mengikuti perubahan perilaku masyarakat dengan memanfaatkan data secara bertanggung jawab.

Mungkin suatu hari nanti, keberhasilan sistem perpajakan Indonesia tidak lagi diukur dari seberapa sering pemerintah mengubah tarif pajak, melainkan dari seberapa cerdas negara mengolah jutaan transaksi digital yang setiap hari kita lakukan. Di balik bunyi notifikasi "transaksi berhasil", sesungguhnya sedang tercipta fondasi baru bagi masa depan perpajakan Indonesia.