Konten dari Pengguna

Bukan Tidak Mau Belajar: Memahami Anak dengan ADHD di Lingkungan Sekolah

Kamillya Naura Zalfa

Kamillya Naura Zalfa

Mahasiswa Psikologi UIN Syarif Hidayatullah Jakarta

·waktu baca 4 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kamillya Naura Zalfa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

“Sebelum kita menyebut seorang anak sulit diatur, mungkin ia hanya sedang menunggu seseorang yang cukup sabar untuk memahaminya.”

Tidak semua anak yang terlihat tidak bisa diam di kelas sebenarnya tidak mau belajar. Dalam beberapa kasus, perilaku seperti sulit fokus, sering bergerak, atau tampak sibuk dengan dunianya sendiri bisa menjadi bagian dari kondisi yang disebut Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD).

Selama kurang lebih satu bulan, saya berkesempatan mengikuti kegiatan pendampingan di sebuah taman kanak-kanak. Di sana, saya bertemu dengan seorang anak berusia lima tahun yang telah didiagnosis ADHD. Pengalaman berinteraksi langsung dengan anak tersebut membuat saya menyadari bahwa apa yang sering dianggap sebagai “anak sulit diatur” sebenarnya jauh lebih kompleks daripada yang terlihat di permukaan.

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD). Photo by : Pexels.com

1. Ketika Duduk Diam Bukan Hal yang Mudah

Di dalam kelas, anak ini tetap berada bersama teman-temannya saat kegiatan belajar berlangsung. Namun, mengikuti alur pembelajaran bukanlah hal yang mudah baginya. Ketika guru menjelaskan materi atau memberikan tugas, ia sering kali lebih sibuk dengan aktivitasnya sendiri, seperti bermain atau berpindah perhatian pada hal lain yang menarik baginya.

Dalam beberapa situasi, ketika ia diminta untuk mengikuti kegiatan belajar secara lebih serius, respons yang muncul justru berupa tangisan atau penolakan. Bagi sebagian orang, perilaku seperti ini mungkin terlihat sebagai bentuk pembangkangan. Namun, dari sudut pandang psikologi perkembangan, respons tersebut dapat berkaitan dengan kesulitan anak dalam mengatur perhatian dan emosi.

2. Mengenal ADHD Lebih Dekat

Attention Deficit Hyperactivity Disorder (ADHD) merupakan salah satu gangguan perkembangan saraf yang umumnya mulai terlihat sejak masa kanak-kanak. Menurut American Psychiatric Association (2013) dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), ADHD ditandai dengan pola perilaku berupa kesulitan memusatkan perhatian, hiperaktivitas, dan impulsivitas yang dapat memengaruhi aktivitas sehari-hari, termasuk proses belajar di sekolah.

Peneliti ADHD, Russell A. Barkley, menjelaskan bahwa kondisi ini banyak dipengaruhi oleh faktor genetik. Anak yang memiliki riwayat keluarga dengan ADHD cenderung memiliki kemungkinan yang lebih tinggi untuk mengalami kondisi yang sama. Selain faktor genetik, lingkungan juga dapat memengaruhi bagaimana perilaku ADHD muncul dalam kehidupan sehari-hari.

Penting untuk dipahami bahwa ADHD bukan berarti anak malas atau tidak memiliki kemampuan belajar. Banyak anak dengan ADHD memiliki potensi yang sama seperti anak lainnya, hanya saja mereka membutuhkan cara belajar dan pendekatan yang berbeda.

3. Belajar Mendekat, Bukan Memaksa

Selama mendampingi kegiatan di kelas, saya mencoba membangun pendekatan yang lebih personal dengan anak tersebut. Terkadang saya hanya menemani saat ia bermain, atau duduk di dekatnya ketika kegiatan belajar berlangsung.

Ada beberapa momen ketika saya mencoba mengajaknya kembali mengikuti kegiatan belajar bersama teman-temannya. Namun, ketika ia terlihat mulai merasa tertekan, respons yang muncul adalah menangis. Pada situasi seperti ini, pendekatan yang paling membantu justru bukan memaksa, melainkan menenangkan.

Hal sederhana seperti berbicara dengan nada lembut, mengelus dadanya, atau memberinya pelukan sering kali membantu anak merasa lebih tenang. Dari situ saya belajar bahwa bagi anak dengan ADHD, rasa aman dan kenyamanan emosional sering kali menjadi langkah awal sebelum mereka bisa kembali terlibat dalam kegiatan belajar.

4. Mengubah Cara Kita Melihat Anak

Pengalaman ini membuat saya menyadari bahwa memahami anak dengan ADHD membutuhkan lebih dari sekadar aturan disiplin di kelas. Anak-anak ini tidak selalu menolak belajar, sering kali mereka hanya membutuhkan pendekatan yang lebih sabar dan lingkungan yang lebih mendukung.

Dalam konteks pendidikan, guru dan orang dewasa di sekitar anak memiliki peran penting dalam membantu anak dengan ADHD merasa diterima sekaligus tetap mendapatkan kesempatan untuk berkembang.

Melihat langsung bagaimana seorang anak dengan ADHD berusaha menjalani kegiatan belajar di kelas memberikan perspektif baru bagi saya. Perilaku yang sekilas terlihat sebagai “tidak mau belajar” ternyata sering kali merupakan bagian dari tantangan yang mereka hadapi setiap hari.

Dengan pemahaman yang lebih baik, kita dapat mulai mengubah cara memandang anak-anak dengan ADHD bukan sebagai anak yang sulit diatur, tetapi sebagai anak yang membutuhkan pendekatan yang lebih tepat agar potensi mereka tetap dapat berkembang.