Konten dari Pengguna

Satu Gejala, Seribu Dugaan: Ketika Kolom Komentar Menjadi Ruang Diagnosis

google
Tambah ke Prefensi Google
info
Jadikan kumparan sebagai preferensi terpercayamu di Google
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical

Tulisan dari Kamillya Naura Zalfa tidak mewakili pandangan dari redaksi kumparan

"A diagnosis requires a whole story, not a single symptom."

Di media sosial, kita sering menemukan orang yang berani menyimpulkan kondisi mental seseorang hanya dari satu unggahan. Anehnya, semakin sedikit informasi yang kita miliki tentang seseorang, terkadang semakin percaya diri pula kita membuat kesimpulan tentang dirinya.

Meningkatnya kesadaran masyarakat terhadap kesehatan mental tentu merupakan perkembangan yang positif. Kini, istilah seperti anxiety, trauma, ADHD, atau burnout semakin dikenal oleh masyarakat luas. Namun, semakin sering istilah tersebut digunakan, semakin besar pula risiko terjadinya penyederhanaan terhadap kondisi psikologis yang sebenarnya kompleks.

Photo By : Pexels.com

Mengapa Kita Mudah Menyimpulkan?

Salah satu alasannya adalah karena manusia secara alami senang mencari pola dan penjelasan. Ketika melihat sebuah gejala yang terdengar familiar, otak cenderung menghubungkannya dengan informasi yang pernah kita pelajari sebelumnya. Apalagi saat ini konten psikologi sangat mudah ditemukan di media sosial. Semakin sering seseorang terpapar istilah seperti ADHD, trauma, atau anxiety, semakin mudah pula istilah tersebut muncul ketika melihat pengalaman yang sekilas tampak serupa.

Di satu sisi, hal ini menunjukkan bahwa masyarakat semakin peduli terhadap kesehatan mental. Namun di sisi lain, pengetahuan yang diperoleh dari potongan konten sering kali membuat kondisi psikologis yang kompleks terlihat jauh lebih sederhana daripada kenyataannya.

Ketika Satu Gejala Terlihat Sangat Meyakinkan

Dalam kehidupan sehari-hari, satu gejala memang sering kali tampak cukup untuk menjelaskan sesuatu. Sulit fokus dianggap ADHD, rasa sedih dianggap depresi, atau kebiasaan perfeksionis dianggap OCD. Padahal dalam psikologi diagnostik, satu gejala tidak pernah berdiri sendiri.

Kesulitan berkonsentrasi, misalnya, bisa dipengaruhi oleh kurang tidur, stres akademik, tekanan pekerjaan, kelelahan, atau berbagai faktor lainnya. Gejala yang terlihat sama belum tentu berasal dari penyebab yang sama. Karena itu, memahami kondisi psikologis seseorang membutuhkan gambaran yang jauh lebih luas daripada apa yang terlihat di satu unggahan media sosial.

Memahami Seseorang Tidak Sesederhana Membaca Unggahannya

Dalam psikologi diagnostik, proses memahami seseorang dilakukan melalui wawancara, observasi, serta asesmen psikologis yang sistematis. Diagnosis juga mempertimbangkan durasi gejala, intensitas, frekuensi, serta dampaknya terhadap kehidupan individu. Hal ini sejalan dengan pedoman dalam Diagnostic and Statistical Manual of Mental Disorders (DSM-5), yang menekankan pentingnya melihat kondisi seseorang secara menyeluruh sebelum menarik kesimpulan.

Sayangnya, media sosial sering membuat kita terbiasa melihat potongan-potongan kecil kehidupan orang lain. Dari potongan tersebut, kita merasa sudah cukup memahami siapa mereka, apa yang mereka alami, bahkan kondisi psikologis yang mungkin mereka miliki.

Sebelum Menebak, Cobalah Memahami

Meningkatnya kesadaran terhadap kesehatan mental tentu merupakan perkembangan yang baik. Namun, memahami psikologi tidak berarti kita harus selalu mencari diagnosis di balik setiap perilaku atau pengalaman seseorang. Terkadang, seseorang hanya sedang lelah, sedih, bingung, atau berada dalam fase hidup yang sulit.

Pada akhirnya, kolom komentar mungkin dapat menjadi tempat berbagi perspektif, tetapi bukan ruang untuk menegakkan diagnosis. Karena memahami manusia membutuhkan lebih dari sekadar satu gejala dan satu cerita. Dibutuhkan konteks, proses, dan yang terpenting, pemahaman bahwa setiap individu memiliki pengalaman yang jauh lebih kompleks daripada apa yang tampak di layar.

────────────────────────────────────────

Oleh Kamillya Naura Zalfa, Dr. Rachmat Mulyono M.Si., Psikolog.