Konten Media Partner

Peran Neuroscience dalam Menumbuhkan Karakter dan Prestasi Anak

19 Februari 2018 9:23 WIB
clock
Diperbarui 14 Maret 2019 21:11 WIB
comment
0
sosmed-whatsapp-white
copy-link-circle
more-vertical
Peran Neuroscience dalam Menumbuhkan Karakter dan Prestasi Anak
zoom-in-whitePerbesar
ADVERTISEMENT
KampoengNgawi.com - Yayasan Pendidikan Sosial dan Dakwah Islam (YPSDI) Harapan Ummat (Harum) Ngawi menggelar sebuah seminar parenting yang mengangkat tema, Peran Neuroscience dalam Menumbuhkan Karakter dan Prestasi Anak, Minggu (18/02/2018) di Notosuman Watualang.
ADVERTISEMENT
Peserta seminar kali ini adalah para wali santri Pendidikan Anak Usia Dini Islam Terpadu (PAUD IT) yang berjumlah sekitar 480 orang. Ratusan Wali Santri PAUD IT Harum Ikuti Seminar Neuroscience yang dibawakan oleh salah seorang pakar neurosains dari Jakarta, dr. Amir Zuhdi.
Neurosains merupakan ilmu yang mempelajari sistem saraf, terutama mempelajari neuron atau sel saraf, dengan menggunakan pendekatan yang multidisipliner. Tujuannya, untuk mempelajari dasar-dasar biologi (termasuk sistim listrik dan kimiawi) yang terjadi dalam otak (sel saraf) dari setiap pikiran dan perilaku yang kita lakukan.
Menurut dr. Amir Zuhdi, Neuroscience For Life adalah konsep perilaku atau gaya hidup berbasis otak sehat. Konsep ini ia beri nama konsep NeuroscienceForLife (NFL) atau en-ef-el (enefel). Munculnya konsep ini bermula dari keinginan dokter asal Ngawi ini berbagi ilmu neurosains (ilmu perilaku berbasis otak) untuk masyarakat khususnya yang masih awam tentang ilmu ini.
ADVERTISEMENT
Seminar Parenting ini merupakan salah satu program unggulan sekolah. Para Wali santri bisa mendapatkan materi yang luar biasa bermanfaat dalam rangka mendampingi perkembangan pendidikan putra-putrinya. Salah satu tips yang disampaikan berdasar pertanyaan peserta adalah terkait perhatian orang tua kepada anak.
“Orang tua harus fokus pada kebaikan anak dan jangan memberi perhatian yang banyak saat melakukan kesalahan. Karena pada dasarnya anak senang mencari perhatian ortunya,” papar Amir.
Selain itu, menghadapi anak yang dimanja atau punya lebih banyak potensi melawan, sebagai orang tua harus terapi emosi diri sendiri. Memang bisa memakan waktu cukup lama, namun perubahan sikap orang tua akan diikuti perubahan sikap anaknya. (kn/cse)