Konten Media Partner

3 Lumba-lumba Dilepasliarkan di Laut Bali; Namanya Rambo, Rocky dan Jhony

Kanal Baliverified-green

·waktu baca 3 menit

comment
1
sosmed-whatsapp-white
copy-circle
more-vertical
Tiga lumba-lumba yang dilepasliarkan di laut Taman nasioanl Bali Barat - IST
zoom-in-whitePerbesar
Tiga lumba-lumba yang dilepasliarkan di laut Taman nasioanl Bali Barat - IST

BULELENG, kanalbali.com - Tiga Lumba-lumba hidung Botol yang telah melalui proses rehabilitasi ini dilepas di Perairan Taman Nasional Bali Barat (TNBB). Ketiganya yang berjenis kelamin jantan dan berumur antara 20-25 tahun bernama Rambo, Rocky dan Jhony.

"Lumba-lumba hidung botol ini pada mulanya merupakan satwa koleksi dari Taman Satwa Melka di Singaraja, Bali," Dr. Agus Budi Santosa, Kepala Balai KSDA Bali, Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan, Sabtu (3/9/2022).

Keberlanjutan Lembaga Konservasi itu terhenti sehingga satwa lumba-lumba hidung Botol dikembalikan kepada negara.

Kepala BKSDA Bali mengatakan bahwa pada tahun 2019, pihaknya bekerjasama dengan Jaringan Satwa Indonesia (JSI) dan Taman Nasional Bali Barat, memindahkan ketiga lumba-lumba tersebut ke keramba (Sea Pen) rehabilitasi dan perawatan di teluk Banyuwedang, perairan laut Taman Nasional Bali Barat.

Menteri LHK saat pelepasliaran - IST

Proses rehabilitasi yang dilakukan di Sea Pen berukuran 30 x 20 x 13 meter bertujuan untuk mengembalikan Kesehatan dan sifat liarnya agar dapat dilepasliarkan kembali ke habitat alaminya.

Pada saat menjadi satwa koleksi di Lembaga konservasi (ex situ) Lumba-lumba ini terbiasa untuk diberi makan, sehingga perlakuan pemberian makan secara bertahap diubah agar dapat mencari makan sendiri di alam.

"Tahap awal masih diberi makan ikan mati utuh, kemudian ikan hidup, sampai kepada penghentian sama sekali pemberian makan, tetapi diciptakan ekosistem buatan (Sea Pen) mendekati ekosistem alaminya dimana ikan-ikan hidup bisa ditangkap dan dimakan sendiri oleh Lumba-lumba hidung botol tersebut," jelasnya.

Dalam proses rehabilitasi, Lumba-lumba Jhony tidak dapat menggigit ikan ketika menangkapnya dan sering terlepas Kembali, tidak seperti Lumba-lumba Rocky dan Rambo.

Berdasarkan analisis dokter hewan dari JSI yang didampingi oleh dokter hewan dari Taman Nasional, untuk membantu kemandirian pencarian pakan alami bagi Lumba-lumba Jhony, perlu dilakukan pemasangan gigi.

Pemasangan gigi pada lumba-lumba Jhony terbukti berhasil dilakukan tanpa menyakiti dan mengembalikan perilaku menangkap ikan hidup di alam.

Kepala Balai Taman Nasional Bali Barat Agus Ngurah Krisna menambahkan bahwa perairan Taman Nasional Bali Barat telah dinilai akan sesuai sebagai lokasi pelepasliaran ketiga lumba-lumba tersebut.

Menteri LHK Siti Nurbaya, menekankan bahwa penyelamatan satwa sebagai komponen penting dari rantai makanan dalam suatu ekosistem harus terus diupayakan menggunakan metode yang mengacu pada rules based, scientific based dan evident based, untuk bisa menjadi referensi di masa depan.

"Kerjasama antara KLHK dengan mitra dalam penyelamatan satwa juga harus dilakukan untuk mencapai tujuan negara dalam melindungi dan memulihkan keanekaragaman hayati Indonesia,” katanya.

Selanjutnya monitoring pasca pelepasliaran akan tetap dilakukan baik menggunakan radiometri dan sonar serta pemantauan secara factual melalui patroli dan sosialisasi kepada para pelaku jasa wisata dan masyarakat sekitar kawasan taman nasional. Diharapkan lumba2 akan segera menemukan kelompok barunya, beradaptasi dan lestari di alamnya. (kanalbali/RLS)