kumparan
6 Des 2018 11:03 WIB

Siswi SD Korban Sayat Paha Akan Didampingi Psikolog

Ilustrasi (Dok.Kumparan)
DENPASAR, kanalbali.com -- Anak korban kasus sayat paha mendapatkan pendampingan dari Pusat Pelayanan Terpadu Pemberdayaan Perempuan dan Anak (P2TP2A) Denpasar.
ADVERTISEMENT
"Setelah kemarin kasus hukumnya, sekarang kita fokus pada upaya mengatasi traumanya," kata anggota P2TP2A, Luh Anggreni, Kamis (6/12).
Pihaknya akan mengirim psikolog untuk melihat tingkat traumanya. "Biasanya diwawancarai dulu ibunya baru ke anaknya," ujarnya. Metode, kata dia, sedapat mungkin tidak menimbulkan ketakutan pada si anak.
Mengenai kemungkinan pelakunya adalah seorang pedofil, menurut Anggreni, sudah diluar kapasitas lembaganya. "Kita serahkan kepada pihak kepolisian. Kalau dari kita hanya minta harus dihukum seberatnya sesuai Undang-Undang," tegasnya.
Sementara itu Komisioner Komisi Perlindungan Anak Daerah (KPAD) Bali, Yastini, menyebut harus ada kerjasama antara orang tua, lingkungan dan pihak sekolah untuk mengembalikan semangat si anak. "Tapi jangan beri perhatian yang berlebihan sehingga bisa membuat dia makin stres," ujarnya.
ADVERTISEMENT
Agar tak menimpa anak-anak lain, menurutnya, orang tua harus membangun komunikasi yang baik dengan anak. "Jadi setiap gejala yang dialami anak akan segera diketahui," ujarnya.
Seperti dalam kasus itu misalnya, pelaku sebenarnya sudah mulai memberikan memberikan indikasi ketidakwajaran karena menyatakan suka kepada anak-anak. Kemudian aksinya terpicu setelah WhatsApp-nya diblokir.
Yastini berharap, orang tua yang sudah memberikan gadget kepada anak-anaknya harus juga melakukan pengawasan mengenai kegiatan mereka dengan alat tersebut. Yakni, agar tidak digunakan untuk melakukan hal-hal yang belum sesuai dengan kematangan usianya. (kanalbali/RFH)
Tulisan ini adalah kiriman dari publisher, isi tulisan ini sepenuhnya menjadi tanggung jawab penulis. Laporkan tulisan